LANGIT7.ID, Jakarta - Pondok Pesantren (ponpes) Modern Darussalam Gontor (PMDG) belakangan ini menjadi perbincangan hangat masyarakat, usai kasus dugaan kekerasan yang mengakibatkan salah satu santri berinisial AM wafat.
AM diduga menjadi korban kekerasan oleh santri senior. Oleh karena itu, banyak pihak penasaran bagaimana pola asuh dan pendidikan di pesantren terpopuler di Indonesia ini.
Alumnus Gontor angkatan 2006, Fadhil Lahuda mengatakan, Gontor memiliki pola didik yang disiplin serta cara asuh yang tegas kepada para santrinya sejak dulu.
Baca juga: Rutinitas Disiplin di Gontor Jadi Bekal Nofriadi di Masa Depan"Pola didik yang keras di pesantren sebenarnya umum saja. Justru cara seperti itu membentuk mental yang kuat ketika sudah lulus dari pondok," ujar Fadhil, saat ditemui Langit7.id, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (12/9/2022).
Fadhil menuturkan, pola didik disiplin dan tegas semasa ia di Gontor sangat berpengaruh pada kondisi mentalnya hingga kini. Fadhil mengaku tak mudah baper (bawa perasaan) di dunia kerja ketika mendapatkan komentar buruk dari rekannya.
"Jadi sekarang kalau ada tekanan di dunia kerja, itu sudah biasa. Dulu di pondok, tegasnya guru atau ustadz kepada santri jadi berguna. Kalimat yang mungkin menyakitkan di dunia kerja jadi kesannya biasa saja justru buat jadi lebih kuat dan bangkit saja gitu," ucap Fadhil.
Meski demikian, Fadhil menegaskan, tindak kekerasan yang menyebabkan kematian di pondok pesantren tidak boleh dibenarkan.
Baca juga: Doakan Almarhum AM, Alumni Gontor Angkatan 96 Gelar Salat Gaib"Itu tindak pemukulan di Gontor ilegal, yang melakukan juga santri seniornya. Sudah sejak lama tidak boleh ada tindak kekerasan kepada santri baik dari guru maupun senior," tuturnya.
Sebagai informasi, pondok modern seperti Gontor menerapkan pilihan pengabdian di lingkungan ponpes selama satu tahun untuk santri yang lulus.
Menurut Fadhil, sebaiknya setiap guru atau ustadz di pondok pesantren harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman yang juga mengubah pola pikir setiap orang.
"Jadi tidak perlu menghilangkan idealisme dari pondok itu sendiri, hanya pentingnya beradaptasi untuk pembekalan terhadap santri secara emosional agar hal-hal seperti kekerasan atau pelecehan antar santri dan sejenisnya tidak terjadi lagi," kata Fadhil.
(sof)