LANGIT7.ID-, Cirebon - Di sebuah
lahan wakaf di sudut Kota Cirebon, dua sosok besar Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor,
KH Hasan Abdullah Sahal dan KH Akrim Mariyat datang untuk peletakkkan batu pertama
Mahad Tahfidz Khadijah.
Tak sekedar datang, keduanya juga membawa restu dan doa semangat yang diwariskan selama seabad perjuangan.
Sebelumnya KH Hasan Abdullah Sahal dan KH Akrim Mariyat, pada 3 Agustus 2025 lalu, menghadiri gelaran Napak Tilas 100 Tahun Gontor di Keraton Kasepuhan dan Pendopo Bupati Cirebon.
Baca juga: Baca Al Fatihah, Alumni Gontor Doakan Palestina Menang dan MerdekaPendiri Mahad Tahfidz Khadijah, Ustaz Sefi Khirijil Yaman mengungkapkan peletakkan batu pertama menjadi puncak dari doa yang panjang.
Tak kuasa menyembunyikan rasa haru, Ustaz Sefi mengungkapkan kisah di balik pendirian Mahad.
“Ini bukan hanya tentang batu pertama. Ini tentang impian yang saya genggam sejak menjadi santri. Impian yang tak pernah lepas dari bisikan dan dorongan guru-guru saya, juga dari dorongan sahabat sekaligus Ketua Umum Forbis, Ust Agus Maulana.” kata Sefi, dikutip dari laman Gontor News, Ahad (10/8/2025).
Alumni Gontor 1995 dan Wakil Ketua Umum Forbis IKPM Gontor ini dikenal juga sebagai pemilik Chefis Resto yang menghadirkan cita rasa Arabian Food di berbagai kota.
Ia juga pemilik pabrik saos dan kecap di bawah bendera PT Surabraja.
Di acara tersebut, Sefi menanggalkan statusnya sebagai seorang pebisnis. Ia berbicara sebagai seorang anak yang sedang mempersembahkan bakti terbaik bagi ibunya.
Baca juga: Mengenal Wiqen Naturalis, Ponpes Tahfidz yang Dibangun Alumni Gontor 2006Gedung pertama Ma’had Tahfidz ini diberi nama Rufiah Building, sesuai dengan nama sang ibunda tercinta.
Rufiah, sosok tangguh berusia 93 tahun, juga hadir langsung di lokasi peletakan batu pertama.
Wajahnya berseri, tubuhnya terlihat lebih bugar dari biasanya. Matanya basah, namun bibirnya terus tersenyum. Hari itu, satu impian dalam hidupnya menjadi nyata—anaknya membangun pesantren.
Impian itu disimpan rapat sejak Sefi kecil pertama kali menjejakkan kaki di Gontor. Rufiah mendambakan ada di antara anak-anaknya yang kelak membangun pesantren.
Dan kini, di usia senja, ia menyaksikan mimpi itu menjadi kenyataan.
Rufiah bukan wanita biasa. Sejak suaminya wafat saat usia anak-anak mereka masih belia, ia menjadi single parent bagi 13 anaknya.
Tidak hanya membesarkan mereka dengan kasih sayang, Rufiah juga meneruskan roda usaha keluarga: produksi kecap dan kaos Surabraja, yang kini tumbuh menjadi merek lokal yang diperhitungkan.
Baca juga: Doakan Almarhum AM, Alumni Gontor Angkatan 96 Gelar Salat GaibKini, dari rahim perjuangan dan ketabahan itu, tumbuh sebuah lembaga tahfidz yang insyaAllah akan melahirkan generasi Qur’ani dan pejuang dakwah masa depan.
Bagi Forbis IKPM Gontor, Ma’had Tahfidz Khadijah bukan satu-satunya. Tapi setiap rintisan pesantren yang dibangun oleh para alumni pengusaha adalah kisah tersendiri tentang cinta dan cita. Cinta kepada Gontor dan cita untuk terus menebar manfaat.
Sejumlah alumni Gontor telah mendirikan sejumlah lembaga pendidikan agama, seperti Sari Bumi Boarding School di Wonosalam yang didirikan oleh Anas Asrofi, David Rusdianto yang menggagas Pesantren Teknologi Majapahit (PTM) di Mojokerto.
Kemudian, Irwan Budi membina Pondok Tahfidz Preneur di Klaten, M. Abd Ghoffar membangun Pondok Almahira di Majalengka dan Agus Maulana yang berkhidmat di Pondok Modern Darul Falah Cimenteng, Subang.
Ratusan alumni pengusaha yang sedang dan akan terus bergerak, berkontribusi, mewakafkan diri dan hartanya untuk pendidikan Islam.
Peletakan batu pertama Ma’had Khadijah hari itu, bukan hanya mengukir sejarah baru di Cirebon. Ia adalah bukti bahwa pesantren bukan hanya milik kiai. Pesantren adalah milik siapa saja yang cinta ilmu, cinta Qur’an, dan cinta perjuangan.
Baca juga: 7 Pejabat Publik Alumni Gontor, dari Eksekutif hingga YudikatifDan hari itu, impian seorang ibu yang tulus telah membimbing langkah anaknya. Bukan untuk dirinya semata, tapi untuk generasi yang akan datang.
(est)