LANGIT7.ID, Jakarta - Pondok Pesantren (ponpes) Modern Darussalam Gontor (PMDG) banyak melahirnya alumni-alumni yang memiliki jaringan kuat.
Komunitas
alumni Gontor angkatan 2006 misalnya, kuatnya silaturahmi diantara mereka melahirkan pesantren berbasis tahfidz bernama Wiqen Naturalis.
Wiqen Naturalis merupakan ponpes yang diperuntukkan kepada anak yatim dan duafa.
Baca juga: Pola Pendidikan Tegas dan Disiplin di Gontor Membentuk Mental Fadhil Lahuda KuatMenurut salah satu pengurus Wiqen Naturalis, Fadhil Lahuda, ada cerita menarik dari berdirinya Ponpes Wiqen Naturalis ini.
Waktu itu, pada 2016, para alumni Gontor angakatan 2006 yang hampir berjumlah 900 orang awalnya hanya membentuk sebuah yayasan sosial bernama Yayasan Alumni 10 Windu.
"Jadi disahkannya Yayasan Alumni 10 Windu ini awalnya hanya untuk kegiatan sosial, seperti bencana alam. Lalu berkembang menjadi yayasan pendidikan setelah ada yang mewakafkan tanah di daerah Ciampea," ujar Fadhil, kepada Langit7.id, Senin (12/9/2022).
Fadhil mengatakan, waktu itu dirinya bertemu dengan Haji Sumarno yang tertarik dengan kegiatan Yayasan Alumni 10 Windu.
"Suatu hari saya bertemu Haji Sumarno, dia pensiunan PNS Bogor yang tertarik dengan kegiatan sosial kami. Setelah berdiskusi, Haji Sumarno mewakafkan tanahnya seluas 2.200 meter pada 2019 untuk dibangun ponpes," ucap Fadhil.
Setelah itu, terbentuk nama pesantren Wiqen Naturalis, yang memiliki arti Wisata Qur'an Education. Pesantren ini kemudian dibangun dengan dana swadaya alumni Gontor angkatan 2006.
Fadhil menuturkan, sejak awal, alumni Gontor angkatan 2006 tak pernah kesulitan mengumpulkan dana untuk kegiatan sosial dan pendidikan Yayasan Alumni 10 Windu.
"Alhamdulillah ajaibnya dana selalu ada. Pesantren Wiqen Naturalis yang dinaungi Yayasan Alumni 10 Windu adalah dari umat untuk umat, artinya pengembangan terus dilakukan," kata Fadhil.
Fadhil menegaskan, ponpes yang diperuntukkan kepada anak yatim dan duafa ini tidak dipungut biaya sepeser pun.
"Artinya setiap yatim dan duafa boleh untuk mendapatkan pendidikan di Wiqen Naturalis, syaratnya berusia enam hingga 13 tahun. Untuk yang yatim hanya perlu surat kematian orangtua, dan duafa kita cek dulu bagaimana kehidupannya, itu semua gratis," tutur Fadhil.
Wiqen Naturalis kini sudah memiliki 22 santri laki-laki dan tujuh pendidik. Meski masih terbilang lembaga pendidikan kecil, Wiqen Naturalis menerapkan sistem pendidikan yang mengutamakan pendekatan kepada santri.
"Karena kan santri masih kecil, kami sistemnya pendekatan kepada mereka. Artinya ketika mereka mudah paham pembelajaran melalui visual atau suara, kita akan sediakan itu semuanya. Saat mereka lebih minat belajar sambil beraktivitas, kita akan ikuti, tapi tetap disiplin dan tegas," ungkapnya.
Baca juga: Lukman Hakim Saefuddin: Gontor Tak Menganut KekerasanMenurut Fadhil, sistem pendidikan dengan pendekatan kepada santri sangat penting karena perkembangan zaman mengubah pola sosial.
"Jadi kita tidak bisa memaksakan anak-anak untuk belajar dengan marah, itu salah. Anak akan terbentuk menjadi arogan juga. Kita membiarkan santri Wiqen Naturalis untuk memilih guru dan minatnya di sini," tutur Fadhil.
Memiliki konsep Tahfidz Preneur, para santri Wiqen Naturalis dilatih menghafal Al Quran dan kegiatan wirausaha setelah lulus. Hal tersebut merupakan upaya pembekalan seimbang, yakni pendidikan agama dan sosial.
"Jadi karena anak yatim dan duafa ada yang jauh dari keluarga. Kami berharap mereka keluar dari Wiqen Naturalis dapat pembekalan kerja sehingga tidak kaget dengan dunia kerja," ucap Fadhil.
Sebagai informasi, Wiqen Naturalis juga menyediakan pendidikan non formal, seperti pramuka, berenang, hingga beragam kegiatan wirausaha guna pembekalan santri. Santri bebas memilih kegiatan non formal yang ada sesuai minat, tanpa paksaan apapun.
(sof)