Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home wirausaha syariah detail berita

Bisnis yang Tak Pernah Merugi

azhar azis Sabtu, 14 Agustus 2021 - 05:30 WIB
Bisnis yang Tak Pernah Merugi
Ilustrasi infaq dan zakat. Foto: Langit7.id/ iStock
LANGIT7.ID - Perdagangan, perniagaan, atau bisnis tak hanya di dunia. Dalam Al-Qur'an disebutkan cukup banyak kata perdagangan yang tujuannya adalah untuk meraih keuntungan dan keselamatan di akhirat.

Sebagaimana bisnis pada umumnya, perniagaan tentang akhirat ada untung dan ruginya. Keberuntungan akan diraih dengan mengikuti petunjuk Allah SWT, dan kerugianlah yang akan menimpa bagi orang yang tidak taat kepada-Nya.

Perniagaan menurut al-Qur'an, bukan semata-mata untuk meraih keutungan duniawi melainkan juga keselamatan di akhirat. Kita awali dengan membaca Surat Ash-Shaf ayat 10-12:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَٰرَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?"

Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat ini turun berkaitan dengan hadis Abdullah ibnu Salam, bahwa para sahabat berkeinginan untuk menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang amal perbuatan yang paling disukai oleh Allah SWT untuk mereka kerjakan.

Pada ayat selanjutnya, Allah menunjukkan perniagaan yang besar dan tidak akan pernah merugi, yang menyelematkan di dunia dan akhirat. Inilah perniagaan yang sesungguhnya, sebagaimana firman-Nya:

تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."

Tafsir as-Sa'di menyebutkan, seolah-olah ada yang bertanya, “Transaksi apa yang nilainya sedemikian besar?” Allah berfirman, “(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Sebagaimana diketahui bahwa keimanan yang sempurna adalah membenarkan dengan bulat perintah Allah dan mengamalkannya. Yang paling utama adalah berjihad di jalan-Nya.

Menurut Ibnu Katsir, perdagangan dengan Allah di atas jauh lebih baik bagimu daripada perniagaan dunia, yang hanya bersusah payah untuknya dan menyibukkan diri hanya dengan perniagaan dunia semata. Satu lagi, jika ingin sebuah bisnis yang tak akan ada ruginya, baca ayat di bawah ini, surat Fatir, ayat 29:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi."

Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof Dr Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir Suriah mengatakan, orang-orang yang terus membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat pada waktunya dengan menyempurnakan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, dan menginfakkan sebagian dari rejeki yang diberikan Allah secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan berupa zakat dan sedekah itu, merekalah yang mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi dari amal mereka itu.

Sementara as-Sa'di menguraikan sebagai berikut:

Maksudnya, mengkaji perintah-perintah-Nya dan mereka mengerjakannya, dan terhadap larangan-larangan-Nya mereka membenarkan dan meyakininya, serta mereka tidak mengutamakan apa-apa yang bertentangan dengannya dari pendapat-pendapat manusia. Mereka membaca lafazh-lafazhnya dengan mempelajarinya, membaca artinya dengan menghayati dan menyimpulkannya.

Kemudian, setelah menjelaskan tentang membaca al-Qur'an secara khusus dan shalat secara umum yang merupakan tiang agama, cahaya bagi kaum Muslimin, standar keimanan dan tanda ketulusan dalam berislam, Allah secara khusus menjelaskan tentang pemberian nafkah kepada kaum kerabat, orang-orang miskin, anak-anak yatim, dan lain-lainnya dalam bentuk zakat, kaffarat, nadzar dan berbagai bentuk sedekah, “dengan diam-diam dan terang-terangan,” sepanjang waktu, “mereka itu mengharapkan” dengan itu, “perniagaan yang tidak akan merugi.”

Maksudnya, tidak akan bangkrut atau rusak. Bahkan ia adalah perniagaan yang paling mulia, paling tinggi, dan paling utama, yaitu keridhaan Allah, Rabb mereka, menang dengan meraih pahala yang berlipat ganda dan selamat dari murka dan siksaanNya. Di sini terkandung keikhlasan dalam amal-amal kebajikan mereka, yang mana sesungguhnya mereka tidak mengharapkan sedikitpun dari amal-amal tersebut tujuan-tujuan buruk dan niat-niat yang tidak benar. (Disadur dari sumber: Tafsirweb)

(jak)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)