LANGIT7.ID, Jakarta - Cendekiawan Muhammadiyah, Din Syamsuddin menyatakan dunia Islam kehilangan seorang ulama besar dengan wafatnya
Syekh Yusuf Al-Qaradhawi. Menurutnya, Al-Qaradhawi adalah ulama yang tidak hanya berwawasan luas, tapi berpikiran maju, dan istiqamah amar ma’ruf nahi munkar.
“Semoga Allah menjadikan ilmu pengetahuan yang telah ditebar oleh Almarhum selama hayatnya menjadi sumber rahmat Allah bagi Almarhum untuk masuk ke dalam jannah-Nya,” kata Din dalam keterangan tertulis, Jumat (30/9/2022).
Ulama kontemporer tersebut pernah berkunjung ke Muhammadiyah pada 2007. Saat itu, Din menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, sedangkan Al-Qaradhawi menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Sedunia (IUMS).
Baca juga: Syekh Qaradhawi Sering ke Indonesia, Kunjungi MUI, NU, dan MuhammadiyahDalam pertemuan di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, terjadi diskusi terbuka dan bernas tentang penanggalan hijriah. Syekh Al-Qaradhawi memberikan penjelasan yang mencerdaskan dan mencerahkan umat berkaitan dengan sistem penentuan awal bulan Hijriah.
Al-Qaradhawi dengan tegas menyatakan hisab itu pasti sedangkan rukyat itu meragukan, banyak kemungkinan. Penjelasan ini menjawab pertanyaan alamrhum Prof. Dr. Yunahar Ilyas yang mendampingi Din dalam pertemuan tersebut.
“Tentang hisab dan rukyat awal bulan Qomariyah,
Syekh Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa hisab itu qath'i (pasti), dan rukyat itu nisbi (belum pasti) kebenarannya, sambil menjelaskan gunung yang terlihat dari jauh warnanya biru, padahal dari jarak dekat warna pepohonannya hijau,” kata Din.
Sebelumnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Syekh Yusuf Al-Qaradhawi. Meninggalnya cendekiawan asal Mesir itu membuat umat Islam kehilangan ulama besar yang berpikiran moderat dan maju.
Baca juga: Sejarawan: Syekh Yusuf Al-Qaradhawi Satukan Islam Lewat Ratusan Karya Haedar menilai Syekh Yusuf Al-Qaradhawi banyak mempengaruhi pemikiran wasathiyah Islam dalam beberapa tahun terakhir. Transformasi pemikirannya yang semula lebih puritan menjadi maju menunjukkan perkembangan pemikiran Islam yang selalu dinamis dan tidak statis.
(sof)