LANGIT7.ID, Jakarta - Kereta merupakan salah satu moda transportasi umum yang banyak digunakan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jenis transportasi publik ini sudah mengalami kemajuan, terbukti dengan kehadiran Mass Rapid Transit/Moda Raya Terpadu (MRT) serta Light Rail Transit (LRT).
Secara garis besar, MRT dan LRT sama-sama tidak menggunakan lokomotif dan memanfaatkan listrik sebagai tenaga penggeraknya. Meski sama-sama berfungsi memindahkan banyak orang, MRT dan LRT ternyata memiliki perbedaan.
Melansir dari Indonesia Baik, Rabu (19/10/2022) berdasarkan ukuran kereta dan daya angkutnya, MRT memiliki kapasitas angkut lebih besar besar daripada LRT.
MRT terdiri dari enam gerbong dengan kapasitas jumlah orang sebanyak 1950 penumpang. Sementara LRT terdiri dari empat gerbong dengan kapasitas angkut 600 orang.
Baca Juga: Jakpro: JIS Sudah Seperti Stadion EropaMeskipun kecil, LRT memiliki keunggulan pada kemampuannya mengangkut sejumlah penumpang, dihitung berdasarkan frekuensi perjalanannya dalam sehari.
Frekuensi perjalanan tersebut tergantung pada jarak antar rangkaian kereta atau biasa dikenal dengan istilah “headway” dalam Bahasa Inggris.
Dari sisi sumber daya listrik, MRT menggunakan Listrik Aliran Atas (LAA). Sementara, LRT Jabodebek mengambil listrik dari bawah atau Listrik Aliran Bawah (LAB).
Selanjutnya dari sisi rel, MRT menggunakan sepasang rel untuk bergerak. Sedangkan LRT, memiliki rel ketiga yang berisi aliran listrik atau Third Rail. Sebab, LRT menggunakan Listrik Aliran Bawah (LAB) yang belum pernah ada di Indonesia.
(zhd)