LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum PP
Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan bahwa Muhammadiyah bukan kendaraan politik yang bisa digunakan jelang kontestasi politik.
Namun, dia akan tetap menerima dialog terbuka dengan tetap berpegang teguh pada khittah Muhammadiyah. Selain itu, dia juga membuka peluang bagi kontestasi politik bila ingin menarik simpati warga Muhammadiyah.
"Silakan menarik simpati seluruh warga Muhammadiyah dengan cara yang baik, berakhlak mulia, dan tata krama politik yang baik," kata dia dilansir laman Muhammadiyah, Jumat (25/11/2022).
Haedar mengatakan, hal itu boleh dilakukan asalkan pihak terkait tidak memaksa warga Muhammadiyah dengan cara yang tak dibenarkan.
Baca Juga: MPR: Sosok Haedar Nashir di Muhammadiyah Tak Perlu DiragukanDia juga mengingatkan agar kontestasi politik tidak memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri. Pasalnya, demokrasi berkualitas adalah untuk menjadi Indonesia bersatu, berdaulat, adil, makmur, dan berkemajuan.
“Jadilah seperti lebah yang memakan makanan yang baik, mengeluarkan sesuatu yang baik, hinggap di tempat yang baik, dan tidak pernah merusak. Kalau para elit bangsa kita berkontestasi politik seperti lebah, InsyaAllah akan menjadi negarawan dari pusat sampai bawah,” ujarnya.
Pihaknya juga akan membuka dialog kebangsaan dengan elit bangsa sebagai upaya menciptakan pesta demokrasi yang damai dan berkualitas. Sehingga suasana dapat menghasilkan solusi konstruktif untuk bangsa dan negara.
"Menciptakan dialog kebangsaan yang konstruktif-solutif itu lebih baik daripada merawat luka-luka politik. Jangan sampai politik merusak tenun perdamaian, bangunan ke-Indonesiaan, dan budaya gotong-royong," tambahnya.
(bal)