LANGIT7.ID, Jakarta - Konsep bisnis
Abdurrahman bin Auf berbeda dengan sebagian besar para pelaku usaha di zamannya. Dia bukan sekadar mencari untung semata, tapi keberkahan.
Orang terkaya di masa Rasulullah SAW ini merupakan salah satu
sahabat yang dijanjikan masuk surga. Dia memiliki latar belakang sebagai pengusaha.
Ustadz Adi Hidayat mengisahkan, masa awal hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf diketahui hanya memiliki pakaian. Tapi 3 bulan kemudian, dia menjadi orang terkaya nomor tiga di Madinah. Bahkan, kapaknya pun terbuat dari emas.
Baca Juga: 6 Cara Bikin Bisnis Sukses ala Sahabat Abdurrahman bin Auf“Orang kaya itu ada tiga, kaya, kaya banget, kebangetan kaya. Abdurrahman bin Auf ini adalah orang yang kebangetan kaya,” Ustadz Adi Hidayat.
Berikut cara berbisnis ala Abdurrahman bin Auf sampai menjadi pengusaha sukses yang kaya raya di masa itu:
1. Tidak cari keuntungan“Saya tidak mau mencari keuntungan yang banyak.” Itulah kata-kata yang disampaikan Abdurrahman bin Auf ketika berbisnis. Abdurrahman bin Auf lebih memilih mendapatkan keuntungan yang sedikit.
Margin yang kecil, tapi dengan volume keuntungan yang besar. Dalam berbisnis, keuntungan Rp10 tapi dalam jumlah penjualan yang banyak lebih baik untuk diperoleh, daripada mendapatkan keuntungan Rp100 ribu tapi hanya menjual satu produk.
Dikutip dari Youtube Roeang Belajar, ketika mulai berbisnis, perlu diperhatikan apa yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf. Menjual produk dengan harga murah dan keuntungan kecil, tapi berorientasi pada volume penjualan yang banyak. Jika dilakukan secara konsisten, maka pebisnis akan mendapatkan keuntungan yang besar dari perputaran produk dagangnya.
2. Transaksi tunai dan hindari kreditJika satu produk dagang laku dengan keuntungan Rp100, dan satu produk lainnya melalui kredit dengan keuntungan Rp1 juta. Pebisnis sebaiknya memilih keuntungan kecil secara tunai, daripada keuntungan Rp1 juta dengan cara dicicil.
Seperti Abdurrahman bin Auf yang dikenal memiliki kecepatan dalam likuiditas. Sebab, perputaran uang penting untuk menjadikannya kembali sebagai modal untuk penambahan produk dagang berikutnya.
Risiko harus menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan bagi pebisnis untuk menghindari kerugian yang lebih besar pada transaksi kredit. Sebab, dalam bisnis perputaran keuntungan sebagai modal perlu diperhatikan. Salah satunya juga untuk menghindari hutang dalam modal usaha.
3. Kerja sama dan integritasIntegritas sendiri berarti mutu atau potensi yang bisa ditonjolkan seperti kewibawaan atau kejujuran.
Abdurrahman bin Auf seperti diketahui pada masa awal hijrah ke Madinah tidak memiliki apa pun kecuali pakaiannya. Kemudian, ia mengajak kerjasama dengan salah satu pemilik barang untuk mencarikannya pembeli dengan membawa produk dagangnya terlebih dahulu dan memberikan uang ketika sudah laku terjual.
Dalam kurun waktu satu bulan, Abdurrahman bin Auf mampu membuka kios di pasar. Hingga bisnisnya berlanjut ke bisnis properti. Ia melakukan kerjasama dengan pemilik lahan untuk membangun sebuah pasar baru, dengan perjanjian modal yang berasal darinya.
Ini sistem kerjasama bagi hasil. Saat pasar selesai di bangun pun mereka tidak menetapkan biaya sewa kios, melainkan pedagang boleh membayar seikhlasnya. Integritas inilah yang membuat Abdurrahman bin Auf mendapatkan kesuksesan bisnisnya.
4. Orientasi pasarKeputusannya dalam berbisnis, ia selalu mencoba memahami terlebih dahulu apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan dari konsumen. Kejelian dalam melihat peluang inilah yang pada akhirnya ia memutuskan untuk membangung sebuah pasar baru.
Di mana pasar lama pada saat itu dalam kondisi kumuh yang menimbulkan ketidaknyamanan. Melihat adanya peluang ini ia memutuskan untuk membuat sebuah pasar lama. Terbukti, pasar baru yang dibangunnya ini ramai oleh calon pedagang yang akan menempati lapaknya.
5. Cari berkah bukan cari untungPrinsip ini yang menjadi pegangan teguh bagi Abdurrahman bin Auf dalam berbisnis. Saat itu ia memutuskan untuk membeli seluruh kurma busuk yang ada di Madinah.
Kaum Muslim saat itu sedang berjihad dengan ikut serta dalam Perang Tabuk. Namun, dengan kejadian perang itu, mereka terlambat untuk memanen kurma di kebun mereka.
Abdurrahman bin Auf yang melihat kondisi memutuskan untuk membeli semua kurma busuk yang terlambat di panen di Madinah. Tujuannya untuk meringankan beban kerugian para petani kurma umat Muslim.
Beberapa waktu kemudian datang utusan dari Yaman yang mencari kurma busuk sebagai bahan obat-obatan. Hingga terjadi kesepakan Abdurrahman bin Auf dengan utusan tersebut, di mana kurma busuk yang dibeli Abdurrahman bin Auf dengan harga normal sebelumnya, dibayar oleh utusan Yaman tersebut dengan harga 10 kali lipat.
Inilah cara Allah memberikan pertolongannya kepada Abdurrahman bin Auf yang juga menolong umat Muslim Madinah kala itu. Mencari keridhoan Allah, keuntungan langsung didapatkan dengan berlipat ganda.
6. Barang berkualitasAbdurrahman bin Auf selalu memastikan barang yang dijualnya memiliki kualitas baik. Jika ia mendapati kecacatan pada produk dagangnya, maka ia secara jujur menyampaikan kecacatan tersebut kepada calon pembelinya.
Ia selalu jujur dalam berdagang dan menjamin segala dagangannya memiliki kualitas yang baik. Ini akan menimbulkan rasa kepercayaan dari pembeli kepada penjualnya. Sehingga menjadi kemudahan dalam proses pengembangan bisnis.
Uang tidak hanya salah satu modal yang perlu kita siapkan. Melainkan integritas dan kepribadian juga penting dimiliki oleh setiap bisnis untuk kemudahan perkembangan usaha.
Itulah cara bisnis dari sahabat Nabi yang memiliki kekayaan luar biasa. Semoga beliau bisa menjadi inspirasi bagi pebisnis saat ini yang tertarik untuk mencontoh Abdurrahman bin Auf.
(bal)