LANGIT7.ID, Jakarta - Jaksa Prancis melakukan investigasi terhadap empat peritel multinasional atas dugaan menutupi dan memanfaatkan kejahatan kemanusiaan di Xinjiang, China dengan mengambil barang-barang buatan buruh paksa Uighur.
Sumber kejaksaan pekan lalu mengonfirmasi kepada media Prancis, bahwa investigasi tersebut membidik, Uniqlo cabang Prancis yang dimiliki Fast Retailing, Zara dan Bershka yang dimiliki Inditex, pemilik label mode, Sandro dan Maje, lalu perusahaan alas kaki, Skechers,
Diungkap dalam situs resmi investigator, Mediapart, penyelidikan merupakan tindak lanjut surat komplain yang masuk pada April. Mereka yang melayangkan surat tersebut adalah grup antikorupsi Sherpa, Institut Uighur Eropa, dan seorang aktivis Uighur yang pernah ditahan di Xinjiang.
Laporan gabungan itu terutama berdasar catatan pembuktian penggunaan buruh paksa warga etnis Uighur dalam industri garmen ditulis oleh LSM Australia, ASPI. "Perusahaan multinasional tidak boleh lolos hukum dari memanfaatkan kerja paksa atas orang-orang Uighur," cuit Sherpa dalam akun Twitternya.
Perlakuan China terhadap warga minoritas Xinjiang yang sebagian besar Muslim menjadi sumber terbesar konflik diplomasi antara Beijing dan Barat. Etnis Uighur diperkirakan tak lebih dari 25 juta jiwa dan sebagian besar berbahasa Turki.
Pakar PBB dan grup hak asasi manusia (HAM) memperkirakan, lebih dari satu juta orang, terutama etnis Uighur dan minoritas Muslim lain, disekap dalam beberapa tahun terakhir dalam sistem kamp tahanan luas di Xinjiang. China selalu menyangkal semua tuduhan tersebut.
Bekas tahanan seperti dikutip, The Guardian, menuturkan, mereka menjadi obyek kekerasan dan indoktrinasi ideologi dalam kamp tersebut. Grup HAM menyebut para tahanan dipaksa bekerja sebagai buruh dengan upah tak layak.
Cina selalu menyangkal keberadaan sistem kamp tahanan tersebut sebelum hmenyatakan itu adalah "pusat pelatihan khusus" yang didirikan demi memerangi ekstremisme.
Amnesty International bulan ini menerbitkan 50 profil lebih dari etnis Uighur, Kazakstan, dan etnis minoritas Muslim lain yang menyatakan mereka pernah ditahan dan disiksa di Xinjiang, wilayah yang kini disebut tempat terburuk sekaligus neraka bagi ratusan ribu Muslim di sana.
Beberapa merek busana internasional, termasuk Burberry, Uniqlo, H&M, Nike dan Adidas mengajukan kampanye boikot katun dari Xinjiang. Sejak itu mereka mendapat serangan balik di Cina berupa seruan untuk memboikot produk merek tadi di negara tirai bambu itu.
Inditex menyatakan menolak tuduhan tersebut, namun sepenuhnya terbuka dan bekerja sama dalam investigasi Prancis. "Kami menyatakan nol toleransi terhadap segala bentuk kerja paksa dan penggunaan buruh ala perbudakan. Kami memiliki kebijakan dan prosedur untuk memastikan praktik kotor macam ini tidak masuk ke jaringan pemasok kami," ujarnya.
SCMP juga menyatakan akan bekerja sama dengan pihak berwenang Prancis dan akan membuktikan bahwa tuduhan tersebut salah. Dalam rilis pers, perusahaan berkata," kami bekerja sama dengan pemasok dari penjuru dunia dan tidak memiliki supllier langsung dari kawasan bermasalah yang disebut dalam media".
Kemudian Fast Retailing yang berbasis di Tokyo mengungkap masih belum dikontak oleh pihak berwenang Prancis, namun menjanjikan akan kooperatif sepenuhnya, "untuk memastikan tidak ada kerja paksa dalam jaringan pasokan kami,".
Sementara Skecher menolak berkomentar terkait penyelidikan tersebut.
Kanada, Inggris, Uni Eropa dan Amerika Serikat, pada Maret, bersama-sama menjatuhkan embargo kepada pejabat senior Cina terkait pelanggaran hak asasi manusia dan penahanan besar-besaran etnis Uigur yang mayoritas Muslim di Xinjiang. Sanksi tersebut dibalas Beijing dengan kebijakan serupa.
(arp)