Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 29 Mei 2026
home masjid detail berita

Alasan Nabi SAW Jadikan Adzan Panggilan Salat 5 Waktu

mahmuda attar hussein Selasa, 27 Desember 2022 - 13:35 WIB
Alasan Nabi SAW Jadikan Adzan Panggilan Salat 5 Waktu
Alasan Nabi SAW Jadikan Adzan Panggilan Salat 5 Waktu. (Foto: Istimewa).
LANGIT7.ID, Jakarta - Ada alasan khusus Nabi SAW menjadikan adzan panggilan salat 5 waktu. Rasulullah ingin menjadikan umat Islam memiliki jati diri, tak seperti umat sebelumnya.

Hal itu diriwayatkan dalam sebuah hadis. Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar,

"Nabi memikirkan cara untuk mengumpulkan orang agar bisa salat berjemaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, 'Kibarkanlah bendera ketika waktu salat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberitahukan tibanya waktu salat'. Namun Nabi tak menyetujuinya.

Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, lantas beliau bersabda, 'Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.'

Baca Juga: Sejarah Adzan Jumat di Indonesia, Dikumandangan 1 dan 2 Kali

Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, 'Itu adalah perilaku Nasrani.' Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang." (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih).

Pendakwah, Ustaz Sofyan Chalid bin Idham Ruray menyampaikan, penolakan dari Nabi SAW adalah untuk menjaga muruah umat Islam. Sehingga beliau enggan menggunakan kebiasaan dari umat-umat terdahulu.

"Jangan sampai hilang jati diri kita sebagai seorang muslim gara-gara bersikap latah kepada umat terdahulu," tegasnya dikutip dari Manhaj Salaf TV, Senin (26/12/2022).

Bijak Sikapi Terompet Tahun Baru

Di sisi lain, Buya Yahya mengungkapkan, meniup terompet sebetulnya kegiatan yang biasa dilakukan dan tidak ada masalah di dalamnya. Namun, ada rambu-rambu dalam Islam yang mesti dipahami dengan jelas.

Islam menyoroti terkait tiupan terompet yang merupakan bagian budaya dan ciri khas keagamaan lain. Berdasarkan hal itu, maka meniup terompet tidak sesuai dengan rambu-rambu Islam, khususnya dalam peringatan tertentu seperti tahun baru Masehi.

"Jadi kita tidak boleh meniru untuk melakukannya, seperti budaya meniup terompet pada tahun baru Masehi. Itu tidak termasuk dalam budaya kaum muslimin, sehingga kita tidak boleh ikut-ikutan," katanya.

Apalagi, lanjut dia, perintah Nabi Muhammad SAW kepada umatnya sangat jelas. Di mana umat Islam dilarang untuk menyerupai suatu kaum.

"Kemudian yang perlu diperhatikan di sini adalah kita berbicara untuk kalangan kaum muslimin. Sehingga tidak ada maksud untuk menyalahi kegiatan dan budaya bagi keyakinan lainnya," ungkapnya.

Begitu juga sebaliknya, karena adanya perbedaan keyakinan tersebut, maka dimungkinkan bahwa kegiatan ritual keagamaan kaum muslimin juga bisa jadi salah di mata keyakinan lainnya.

"Itu tidak ada masalah, karena merupakan keyakinan Anda dan kita pun bukan bermaksud untuk menyalahi terkait cara orang-orang meniup terompet. Bukan itu, tapi ini untuk ranah lingkup kaum muslimin," katanya sekali lagi mengingatkan.

Dia menambahkan, meniup terompet adalah budaya suatu kaum, sehingga kaum muslimin berhak mengingkarinya. Namun, bukan sebagai bentuk dalam merendahkan ritual atau keyakinan lainnya.

Adapun yang tak boleh dilakukan, khususnya bagi kaum muslimin adalah mencaci dan mengolok. Artinya, cukup menyampaikan pesan yang baik kepada sesama umat Islam.

"Jadi tak perlu sampai mencaci dan mengolok bagi kaum yang melakukannya, karena itu tidak diizinkan dalam Islam. Sebab orang punya cara ibadah masing-masing sesuai dengan keyakinan agamanya," tamambah

Jangan Menyerupai Suatu Kaum

Sementara itu, Ustaz Abdul Somad (UAS) juga mengingatkan agar kaum muslimin tidak menyerupai suatu kaum dengan mengikuti budaya dan ritual keagamaannya.

Hal itu seperti disebutkan Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud).

Adapun menyerupai suatu kaum, lanjut UAS, maksudnya adalah mengikuti sebuah ritual keagamaan maupun kebudayaan umat lainnya.

"Terompet merupakan tradisi orang Yahudi mereka menyambut tahun baru dengan meniup terompet dan itu bukan sekadar simbol, tapi ritual," tegasnya.

Apalagi, Allah SWT juga telah menegaskan kepada umat Islam dalam surat Al-Kafirun ayat 4-6, yang artinya:

"Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: 4-6).

(bal)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 29 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)