Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 14 Maret 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Makna Intrinsik Takbiratul Ihram dan Doa Iftitah dalam Salat

miftah yusufpati Jum'at, 07 Februari 2025 - 04:45 WIB
Makna Intrinsik Takbiratul Ihram dan Doa Iftitah dalam Salat
Salat disyariatkan agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah.Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Cendekiawan muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid (1939-2005) atau populer dipanggil Cak Nur mengatakan berdasarkan berbagai keterangan dalam Kitab Suci dan Hadis Nabi, dapatlah dikatakan bahwa salat adalah kewajiban peribadatan (formal) yang paling penting dalam sistem keagamaan Islam.

"Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita menegakkan salat dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena salatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan," tulis Cak Nur dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah".

Sebuah hadis Nabi SAW menegaskan, "Yang pertama kali akan diperhitungkan tentang seorang hamba pada hari Kiamat ialah salat: jika baik, maka baik pulalah seluruh amalnya; dan jika rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya."

Dan sabda beliau lagi, "Pangkal segala perkara ialah al-Islam (sikap pasrah kepada Allah), tiang penyangganya salat, dan puncak tertingginya ialah perjuangan di jalan Allah."

Menurut Cak Nur, karena demikian banyaknya penegasan-penegasan tentang pentingnya salat yang kita dapatkan dalam sumber-sumber agama, tentu sepatutnya kita memahami makna salat itu sebaik mungkin.

Berdasarkan berbagai penegasan itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa agaknya salat merupakan "kapsul" keseluruhan ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan.

Dalam salat itu kita mendapatkan keinsyafan akan tujuan akhir hidup kita, yaitu penghambaan diri ('ibadah) kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan melalui salat itu kita memperoleh pendidikan pengikatan pribadi atau komitmen kepada nilai-nilai hidup yang luhur.

Dalam perkataan lain, tampak pada kita bahwa salat mempunyai dua makna sekaligus: makna intrinsik, sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan makna instrumental, sebagai sarana pendidikan ke arah nilai-nilai luhur.

Baca juga: Sedikit yang Tahu: Manfaat Salat Tahajud dalam Kehidupan

Makna Intrinsik Salat

Kedua makna itu, kata Cak Nur, baik yang intrinsik maupun yang instrumental, dilambangkan dalam keseluruhan salat, baik dalam unsur bacaannya maupun tingkah lakunya.

Menurut Muhammad Mahmud al-Shawwaf dalam "Kitab Ta'lim al-Shalah", secara Ilmu Fiqih, salat dirumuskan sebagai "Ibadah kepada Allah dan pengagungan-Nya dengan bacaan-bacaan dan tindakan-tindakan tertentu yang dibuka dengan takbir (Allahu Akbar) dan ditutup dengan taslim (al-salam-u 'alaykam wa rahmatu-'l-Lah-i wa barakatah), dengan runtutan dan tertib tertentu yang diterapkan oleh agama Islam."

Takbir pembukaan salat itu dinamakan "takbir ihram" (takbirat al-ihram), yang mengandung arti "takbir yang mengharamkan", yakni, mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak ada kaitannya dengan salat sebagai peristiwa menghadap Tuhan.

Takbir pembukaan itu seakan suatu pernyataan formal seseorang membuka hubungan diri dengan Tuhan (habl-un min-a 'l-Lah), dan mengharamkan atau memutuskan diri dari semua bentuk hubungan dengan sesama manusia (habl-un min al-nas - "hablum minannas").

Maka makna intrinsik salat diisyaratkan dalam arti simbolik takbir pembukaan itu, yang melambangkan hubungan dengan Allah dan menghambakan diri kepada-Nya.

Jika disebutkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia oleh Allah agar mereka menghamba kepada-Nya, maka wujud simbolik terpenting penghambaan itu ialah salat yang dibuka dengan takbir tersebut, sebagai ucapan pernyataan dimulainya sikap menghadap Allah.

Sikap menghadap Allah itu kemudian dianjurkan untuk dikukuhkan dengan membaca doa pembukaan (du'a al-iftitah), yaitu bacaan yang artinya:

"Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi, secara hanif (kecenderungan suci kepada kebaikan dan kebenaran) lagi muslim (pasrah kepada Allah, Yang Maha Baik dan Benar itu), dan aku tidaklah termasuk mereka yang melakukan syirik."

Baca juga: Khubaib bin Adi: Muslim yang Memulai Sunnah Salat 2 Rakaat sebelum Dieksekusi Mati
Lalu dilanjutkan dengan seruan, "Sesungguhnya salatku, darma baktiku, hidupku dan matiku untuk Allah Penjaga seluruh alam raya; tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintahkan, dan aku termasuk mereka yang pasrah (muslim)."

Jadi, dalam salat itu seseorang diharapkan hanya melakukan hubungan vertikal dengan Allah, dan tidak diperkenankan melakukan hubungan horizontal dengan sesama makhluk (kecuali dalam keadaan terpaksa).

Inilah ide dasar dalam takbir pembukaan sebagai takbirat al-ihram. Oleh karena itu, dalam literatur kesufian berbahasa Jawa, salat atau sembahyang dipandang sebagai "mati sajeroning hurip" (mati dalam hidup), karena memang kematian adalah panutan hubungan horizontal sesama manusia guna memasuki alam akhirat yang merupakan "hari pembalasan" tanpa hubungan horizotal seperti pembelaan, perantaraan, ataupun tolong-menolong.

Selanjutnya dia yang sedang melakukan salat hendaknya menyadari sedalam-dalamnya akan posisinya sebagai seorang makhluk yang sedang menghadap Khaliknya, dengan penuh keharuan, kesyahduan dan kekhusyukan.

Sedapat mungkin ia menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha Pencipta itu sedemikian rupa sehingga ia "seolah-olah melihat Khaliknya"; dan kalau pun ia tidak dapat melihat-Nya, ia harus menginsyafi sedalam-dalamnya bahwa "Khaliknya melihat dia", sesuai dengan makna ihsan seperti dijelaskan Nabi SAW dalam sebuah hadis.

"Karena merupakan peristiwa menghadap Tuhan, salat juga sering dilukiskan sebagai mikraj seorang mukmin, dalam analogi dengan mikraj Nabi SAW yang menghadap Allah secara langsung di Sidrat al-Muntaha," ujar Cak Nur.

Dengan ihsan itu orang yang melakukan salat menemukan salah satu makna yang amat penting ibaratnya, yaitu penginsyafan diri akan adanya Tuhan Yang Maha Hadir (omnipresent), sejalan dengan berbagai penegasan dalam Kitab Suci, seperti, misalnya: "Dia (Allah) itu beserta kamu di manapun kamu berada, dan Allah Maha teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan." (QS al-Hadid 57:4)

Bahwa salat disyariatkan agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam wujud keinsyafan sedalam-dalamnya akan ke-Maha-Hadiran-Nya, ditegaskan, misalnya, dalam perintah kepada Nabi Musa as saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai:

"Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah olehmu akan Daku, dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku!" [QS. Thaha 20:14]

Dan ingat kepada Allah yang dapat berarti kelestarian hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini, yaitu bahwa "Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya". [QS. al-Baqarah/2:156]

Baca juga: Lima Janji Allah Bagi Mereka yang Menjaga Shalat

Maka dalam literatur kesufian berbahasa Jawa, Tuhan Yang Maha Esa adalah "Sangkan-Paraning hurip" (Asal dan Tujuan hidup), bahkan "Sangkan-Paraning dumadi" (Asal dan Tujuan semua makhluk).

Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir hidup tentu akan mendorong seseorang untuk bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga ia kelak akan kembali kepada Allah dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah).

Oleh karena manusia mengetahui, baik secara naluri maupun logika, bahwa Allah tidak akan memberi perkenan kepada sesuatu yang tidak benar dan tidak baik, maka tindakan dan pekerti yang harus ditempuhnya dalam rangka hidup menuju Allah ialah yang benar dan baik pula. Inilah jalan hidup yang lurus, yang asal-muasalnya ditunjukkan dan diterangi hati nurani (nurani, bersifat cahaya, yakni, terang dan menerangi), yang merupakan pusat rasa kesucian (fithrah) dan sumber dorongan suci manusia menuju kebenaran (hanif).

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 14 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:05
Ashar
15:11
Maghrib
18:09
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)