Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 09 Maret 2026
home masjid detail berita

Menelusuri Akar Historis dan Rasionalitas Ilmu Kalam dari Fitnah Besar hingga Hellenisme

miftah yusufpati Selasa, 29 Juli 2025 - 04:15 WIB
Menelusuri Akar Historis dan Rasionalitas Ilmu Kalam dari Fitnah Besar hingga Hellenisme
Kalam adalah pembicaraan. Tapi bukan sembarang bicara. Ia adalah suara akal yang berusaha memahami langit, sembari berpijak di bumi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sama seperti ilmu fikih dan tafsir yang baru dikodifikasi puluhan tahun setelah Nabi Muhammad wafat, Ilmu Kalam—disiplin rasional dalam Islam yang berurusan dengan teologi dan doktrin keimanan—juga tumbuh secara perlahan. Namun berbeda dari ilmu-ilmu lain, Kalam lahir dalam pusaran sejarah berdarah umat Islam: pembunuhan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan, pada tahun 656 M.

Prof. Dr. Nurcholish Madjid dalam "Islam: Doktrin dan Peradaban" (Paramadina, 1995) menyebut peristiwa itu memicu skisma besar yang oleh sejarawan Islam disebut sebagai al-Fitnat al-Kubra yakni fitnah besar yang tak hanya membelah komunitas Muslim, tapi juga menyalakan api pertarungan akidah yang berabad-abad kemudian dirumuskan dalam bingkai Ilmu Kalam.

Di sanalah Kalam menemukan nadi historisnya. Ia bukan sekadar ilmu yang mengabstraksi Tuhan, manusia, dan takdir; ia adalah reaksi umat terhadap prahara sejarah yang mengguncang sendi-sendi legitimasi kekuasaan Islam. Ketika darah Khalifah tumpah dan para pelakunya mengajukan dalih teologis, Kalam pun mulai mengakar: akal dijadikan alat untuk membenarkan iman—atau membongkarnya.

“Peristiwa menyedihkan dalam sejarah Islam yang sering dinamakan al-Fitnat al-Kubra merupakan pangkal pertumbuhan masyarakat (dan agama) Islam di berbagai bidang, khususnya bidang-bidang politik, sosial dan paham keagamaan,” tulis Cak Nur.

Baca juga: Akal Bertemu Wahyu: Menelisik Peran Ilmu Kalam dalam Khazanah Pemikiran Islam Klasik

Dalam literatur klasik, Kalam sering diterjemahkan sebagai "pembicaraan". Tapi pembicaraan dalam konteks ini bukan sekadar obrolan, melainkan diskursus yang terstruktur secara rasional, menyerap tradisi logika Yunani yang dikenal dengan logos. Dalam Islam, istilah logos ini diterjemahkan menjadi kalam, dan dalam bentuk ilmu menjadi ‘Ilm al-Kalam, ilmu yang berpikir tentang Tuhan dan keimanan melalui logika.

Ilmu Kalam tumbuh dari pertanyaan mendasar: siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konflik politik umat Islam pertama? Ketika Utsman dibunuh karena dianggap melakukan dosa besar—yaitu nepotisme dan penyimpangan dalam mengelola negara—para pemberontak menyusun pembenaran teologis: dosa besar adalah bentuk kekafiran, dan orang kafir halal darahnya. Maka, membunuh Utsman menjadi sah.

Dari logika itu lahir pandangan Qadariyyah: manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab penuh atas amalnya. Ini adalah benih awal Kalam, karena ia mulai memasuki wilayah debat metafisik: apakah manusia bebas atau terpaksa dalam berbuat? Apakah Tuhan menciptakan perbuatan jahat? Apakah kekuasaan bisa dibenarkan hanya karena ilahi?

“Maka harus dibunuh! Dari jalan pikiran itu, para (bekas) pembunuh ‘Utsman atau pendukung mereka menjadi cikal-bakal kaum Qadariyyah, yaitu mereka yang berpaham bahwa manusia mampu menentukan amal perbuatannya,” tulis Nurcholish Madjid dalam buku yang sama.

Baca juga: Plus-minus Ilmu Kalam: Ketika Al-Asy'ari Memelopori Jenis yang Anti-Muktazilah

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian menumbuhkan mazhab-mazhab teologis. Dari kubu Qadariyyah lahir pula lawannya: Jabariyyah, yang percaya bahwa manusia tak memiliki kehendak sama sekali—semuanya adalah takdir Tuhan. Lalu Muktazilah, yang mencoba mensintesakan rasionalitas dengan iman, tampil sebagai kelompok pertama yang mengembangkan sistem teologi rasional lengkap dalam Islam. Mereka menempatkan akal sebagai sumber utama dalam memahami Tuhan dan hukum-hukum-Nya.

Namun, jalan panjang Ilmu Kalam tak berhenti pada pertikaian dalil. Ia berkembang melalui asimilasi intelektual dengan filsafat Yunani, khususnya ketika umat Islam menguasai kawasan bekas kekaisaran Bizantium.

Kota-kota seperti Damaskus, Harran, Antiokia, dan Aleksandria telah lebih dulu menjadi pusat Hellenisme—tempat logika Aristoteles dan ide-ide Plato berkelindan dengan teologi Kristen. Di situlah umat Islam, lewat para penerjemah di istana Abbasiyah, mulai menyerap warisan logos dalam bentuk teks-teks Yunani kuno.

“Hampir semua daerah yang menjadi sasaran pembebasan Muslim telah terlebih dahulu mengalami Hellenisasi, dengan pusat-pusat Hellenisme yang giat seperti Damaskus, Antiokia, Harran, dan Aleksandria,” tulis Nurcholish.

Pusat-pusat terjemahan seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad menjadi ruang persilangan peradaban: dari Hippokrates hingga Galen, dari Plotinus hingga Aristoteles.

Baca juga: Peranan Kaum Khawarij dan Muktazilah dalam Ilmu Kalam

Di sinilah Kalam bertemu Filsafat (falsafah) dan Logika (mantiq), yang kemudian menjadi fondasi epistemologis umat Islam selama berabad-abad. Kalam tidak lagi hanya membahas status iman pelaku dosa besar, tetapi juga menyelami persoalan lebih tinggi: apakah Tuhan memiliki sifat-sifat? Apakah Al-Qur’an makhluk atau qadim (abadi)? Di sinilah titik api polemik kalam berkobar di lingkungan istana dan madrasah.

Polemik ini mencapai puncaknya pada masa Khalifah al-Ma’mun, yang menganut paham Muktazilah dan memaksakan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk—sebuah pandangan rasionalistik yang ditentang keras oleh kaum tradisionalis seperti Ahmad bin Hanbal.

Pertarungan itu dikenal sebagai Mihnah (inkuisisi), dan memperlihatkan bagaimana Kalam telah menjadi bagian dari pertarungan ideologi negara.

Namun Kalam bukan hanya panggung elit teolog. Ia juga menyentuh akar sosial dan politik umat. Ketika umat menghadapi kolonialisme, ketika gerakan reformis seperti Muhammad Abduh atau al-Afghani mencoba merumuskan kembali rasionalitas Islam dalam menghadapi tantangan modernitas, Kalam kembali dihidupkan. Rasionalitas menjadi alat untuk membaca ulang teks agama agar kontekstual dan membumi.

Baca juga: Pertumbuhan Ilmu Kalam: Makna Harfiah dan Mereka yang Setuju Pembunuhan Utsman bin Affan

Kini, di abad ke-21, Kalam menghadapi tantangan baru: bagaimana berbicara tentang iman di tengah serbuan sains, relativisme moral, dan krisis identitas umat? Di banyak perguruan tinggi Islam, Kalam diajarkan sebagai bagian dari fondasi intelektual Islam, namun sering kehilangan daya dialogisnya. Ia menjadi beku dalam buku, jauh dari denyut problematika umat.

Padahal, jika menengok akar sejarahnya, Kalam tumbuh dari pergulatan eksistensial umat: antara iman dan kekuasaan, antara wahyu dan logika, antara sejarah dan akidah. Ia adalah cermin dari cara umat memahami dirinya sendiri dalam cermin zaman.

Kalam adalah pembicaraan. Tapi bukan sembarang bicara. Ia adalah suara akal yang berusaha memahami langit, sembari berpijak di bumi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 09 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:07
Ashar
15:10
Maghrib
18:12
Isya
19:20
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)