LANGIT7.ID- Akhir hayat Utsman bin Affan berlangsung sunyi sekaligus tragis. Di rumahnya yang terkepung, khalifah ketiga itu tidak mati di medan perang, melainkan di hadapan mushaf Al-Qur’an yang sedang ia baca. Peristiwa itu menjadi titik balik sejarah Islam, ketika konflik politik berubah menjadi kekerasan terbuka antarsesama Muslim.
Menurut Muhammad Husain Haekal dalam
Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan, detik-detik terakhir Utsman ditandai oleh masuknya para pemberontak ke dalam rumahnya setelah pengepungan panjang. Mereka berasal dari berbagai daerah: Mesir, Kufah, dan Basrah, disertai kelompok Arab pedalaman dan unsur-unsur tentara pinggiran. Bukan barisan utama Muhajirin dan Ansar yang pernah berbaiat kepada Abu Bakr dan Umar.
Salah satu momen paling mengguncang adalah keterlibatan Muhammad bin Abu Bakr. Ia disebut masuk ke rumah dan memegang janggut Utsman sambil melontarkan cercaan keras. Utsman menjawab dengan tenang, mengingatkan bahwa ayah Muhammad, Abu Bakr, takkan berbuat serupa. Beberapa sumber, termasuk al-Tabari, mencatat kata-kata itu membuat Muhammad bin Abu Bakr mundur dan tidak melanjutkan kekerasan. Namun sumber lain menyebut ia sempat melukai wajah Utsman sebelum menarik diri.
Di sinilah sejarah mencatat perbedaan riwayat. Na’ilah binti Farafisah, istri Utsman, menegaskan Muhammad bin Abu Bakr memang masuk bersama pemberontak, tetapi tidak ikut membunuh. Para penyerang berikutnya—di antaranya Kinanah bin Bisyir dan Saudan bin Hamran—melancarkan serangan mematikan. Pedang dihujamkan, tubuh Utsman tersungkur, dan darahnya menodai mushaf yang terbuka.
Upaya perlawanan sebenarnya sempat dilakukan. Putra-putra Ali bin Abi Talib, Hasan dan Husain, bersama Abdullah bin Zubair dan Muhammad bin Talhah, berjaga di pintu rumah. Mereka bertahan hingga pintu dan beranda dibakar. Utsman sendiri melarang para pembelanya bertempur, sebuah sikap yang oleh sejarawan modern seperti Wilferd Madelung dibaca sebagai pilihan moral, sekaligus kesalahan politik fatal.
Na’ilah mencoba melindungi suaminya. Tangannya tertebas ketika menghalau pedang penyerang. Di hadapannya, Utsman wafat pada 18 Zulhijah 35 Hijriah. Pembunuhan itu segera diikuti penjarahan rumah dan baitulmal, menandai runtuhnya wibawa negara.
Bagi banyak sejarawan, kematian Utsman bukan sekadar akhir seorang khalifah, melainkan awal fitnah besar. Kekuasaan tidak lagi ditentukan oleh musyawarah dan legitimasi moral semata, tetapi oleh kekuatan senjata. Dari rumah sederhana di Madinah itu, sejarah Islam memasuki fase baru yang penuh luka dan perpecahan.
(mif)