Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 11 Februari 2026
home masjid detail berita

Kisah Ali bin Abi Thalib Tetap Membela Utsman bin Affan saat Krisis

miftah yusufpati Rabu, 17 Desember 2025 - 16:00 WIB
Kisah Ali bin Abi Thalib Tetap Membela Utsman bin Affan saat Krisis
Dalam krisis itu, Ali memilih berdiri di garis moral, bukan di pusaran perebutan kekuasaan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Pada hari-hari terakhir kekhalifahan Utsman bin Affan, Madinah bukan lagi kota tenang warisan Nabi. Pengepungan rumah khalifah menjelma krisis kemanusiaan. Air diputus, akses ibadah diblokir, dan tekanan fisik menggantikan musyawarah. Di tengah suasana inilah posisi Ali bin Abi Talib menjadi sorotan sejarah.

Muhammad Husain Haekal mencatat, ketika Utsman dilarang keluar untuk salat dan dijauhkan dari air, ia mengirim utusan kepada para sahabat dan Ummulmukminin. Respons paling cepat datang dari Ali. Ia mendatangi para pengepung dengan nada keras dan argumentasi moral yang tegas: perlakuan semacam itu, katanya, tak pantas dilakukan baik oleh orang beriman maupun oleh orang kafir.

Ali bahkan membandingkan perilaku para pemberontak dengan bangsa Romawi dan Persia yang tetap memberi makan dan minum kepada tawanan perang. Perbandingan itu bukan sekadar retorika, melainkan kritik tajam atas runtuhnya etika dasar dalam konflik politik internal umat Islam.

Penolakan para pemberontak menunjukkan bahwa krisis telah melampaui ruang nasihat. Mereka tak lagi ingin menekan kebijakan, melainkan menghabisi simbol kekuasaan itu sendiri. Namun, posisi Ali tetap konsisten: membela hak hidup dan martabat Utsman, tanpa harus menyetujui seluruh kebijakannya.

Sejumlah sejarawan modern, seperti Wilferd Madelung, menilai sikap Ali dalam krisis ini sebagai upaya menjaga legitimasi moral kekhalifahan dan mencegah preseden berbahaya: pembunuhan pemimpin Muslim oleh sesama Muslim. Hugh Kennedy menyebutnya sebagai bentuk loyalitas pada tatanan, bukan pada individu.

Pengepungan yang disebut berlangsung sekitar 40 hari itu makin brutal. Ketika seorang sahabat, Niyar bin Iyad al-Aslami, tewas tertembus panah saat membela Utsman, situasi makin membara. Tuntutan balas darah ditolak Utsman, yang menolak menyerahkan pembelanya untuk dibunuh. Keputusan itu mempertegas bahwa ia menolak menyelamatkan diri dengan mengorbankan orang lain.

Ali dan para sahabat lain berada dalam dilema. Membela Utsman berarti berhadapan langsung dengan massa bersenjata. Namun membiarkan pengepungan berarti membiarkan kekerasan menjadi bahasa politik baru. Haekal menggambarkan perlawanan sahabat-sahabat Utsman sebagai usaha terakhir mempertahankan kehormatan khalifah, meski mereka kalah jumlah.

Ketika para pemberontak membakar pintu rumah dan memanjat dari rumah tetangga, konflik berubah menjadi tragedi terbuka. Di saat-saat inilah, Ali tetap tercatat sebagai figur yang berusaha menahan keruntuhan etika, meski gagal menghentikan arus kekerasan.

Pembelaan Ali terhadap Utsman bukan catatan sampingan sejarah. Ia adalah pesan tentang batas yang seharusnya tak dilanggar, bahkan saat kekuasaan dipersoalkan. Dalam krisis itu, Ali memilih berdiri di garis moral, bukan di pusaran perebutan kekuasaan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 11 Februari 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
12:10
Ashar
15:25
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan