LANGIT7.ID- Hari itu, Madinah kehilangan wibawanya sebagai kota Nabi. Rumah Khalifah Utsman bin Affan berubah menjadi arena kekerasan yang tak terbayangkan sebelumnya. Seorang sahabat tua, menantu Rasulullah, dibunuh saat membaca Al-Qur’an—peristiwa yang oleh banyak sejarawan disebut sebagai titik balik paling gelap dalam sejarah politik Islam awal.
Muhammad Husain Haekal, dalam
Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan, menggambarkan detik-detik terakhir itu dengan getir. Muhammad bin Abu Bakr, yang ikut dalam rombongan penyerbu, merenggut janggut Utsman sambil melontarkan penghinaan. Utsman menolak balas caci. Ia hanya mengingatkan: ayah Muhammad bin Abu Bakr takkan pernah memperlakukannya demikian.
Jawaban itu tak menghentikan amarah. Sebuah anak panah bermata lebar menetak wajah Utsman. Serangan berikutnya datang bertubi-tubi. Kinanah bin Bisyir menghunjamkan anak panah ke pangkal telinganya hingga menembus tenggorokan. Pedang menyusul. Utsman berusaha menangkis dengan tangan, yang akhirnya putus. Istrinya, Na’ilah, terluka parah ketika berusaha melindungi tubuh suaminya.
Menurut riwayat-riwayat klasik yang juga dicatat al-Tabari dan Ibn Katsir, Utsman wafat pada Jumat, 18 Zulhijah 35 Hijriah, dalam posisi tak melawan. Mushaf yang dibacanya disebut berlumur darah. Gambaran ini berulang dalam literatur sejarah sebagai simbol kehancuran etika politik: kekuasaan dijatuhkan dengan kekerasan telanjang.
Kematian Utsman tak langsung diakhiri dengan penghormatan terakhir. Jenazahnya ditahan selama tiga hari. Rumahnya dijarah. Baitulmal dirampok. Madinah, yang dulu menjadi pusat persaudaraan Islam, terjebak dalam hukum massa. Baru setelah beberapa tokoh Quraisy meminta Ali bin Abi Talib turun tangan, pemakaman diizinkan.
Itu pun dilakukan diam-diam. Di malam gelap, hanya segelintir orang yang mengantar jenazah Utsman: kerabat dekat dan kedua istrinya. Riwayat menyebut, sebagian massa sempat melempari jenazah itu dengan batu. Ali menghardik mereka, menjaga agar jenazah khalifah ketiga itu tetap dimakamkan dengan martabat.
Banyak sejarawan modern, seperti Wilferd Madelung dan Hugh Kennedy, melihat pembunuhan Utsman bukan semata konflik personal atau kesalahan administrasi, melainkan akumulasi ketegangan sosial, ekonomi, dan politik dalam imperium Islam yang tumbuh terlalu cepat. Kekayaan menumpuk, kecemburuan merebak, dan legitimasi politik melemah.
Namun cara kematiannya menjadikan Utsman lebih dari sekadar khalifah yang jatuh. Ia menjadi simbol pertama bahwa kekuasaan Islam bisa ditumbangkan oleh kekerasan internal. Sejak hari itu, darah sesama Muslim tak lagi mustahil ditumpahkan atas nama keadilan. Dan sejarah Islam pun memasuki babak fitnah yang panjang.
(mif)