Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Kisah Ketidakpuasan Penduduk Mesir terhadap Abdullah bin Abi Sarh

miftah yusufpati Rabu, 17 Desember 2025 - 16:30 WIB
Kisah Ketidakpuasan Penduduk Mesir terhadap Abdullah bin Abi Sarh
Abdullah bin Abi Sarh mungkin hanya satu nama, tetapi keluhannya membuka jalan bagi tragedi yang mengakhiri kekhalifahan Utsman secara berdarah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Gejolak yang berujung pada jatuhnya Khalifah Utsman bin Affan tidak lahir tiba-tiba di Madinah. Salah satu sumber utamanya justru berasal dari Mesir, wilayah strategis yang sejak awal menjadi ladang ketegangan antara pusat kekuasaan dan rakyat daerah. Di sana, nama Abdullah bin Abi Sarh menjadi pemantik keresahan.

Dalam catatan Muhammad Husain Haekal, Abdullah bin Abi Sarh—gubernur Mesir yang juga saudara sepersusuan Utsman—dituding bertindak sewenang-wenang. Kebijakan fiskal yang keras, gaya pemerintahan yang otoriter, dan jarak sosial dengan penduduk lokal menumbuhkan ketidakpuasan luas. Protes tidak hanya datang dari rakyat biasa, tetapi juga mendapat gema di Madinah.

Sejumlah sahabat besar, seperti Ali bin Abi Talib, Talhah bin Ubaidillah, bahkan Aisyah Ummulmukminin, menganjurkan agar Abdullah dicopot. Utsman, menurut Haekal dan dikuatkan oleh al-Suyuti dalam Tarikh al-Khulafa’, tidak menutup telinga. Ia meminta para pengkritiknya mengajukan nama pengganti. Pilihan jatuh kepada Muhammad bin Abu Bakr, sosok muda yang dikenal tegas dan dekat dengan kalangan oposisi.

Penunjukan itu semula meredakan ketegangan. Namun konflik berbelok tajam ketika sebuah surat misterius ditemukan di tangan seorang pesuruh yang mengaku membawa mandat khalifah. Surat itu berisi perintah agar Muhammad bin Abu Bakr dan rekan-rekannya dibunuh setibanya di Mesir. Yang membuat gempar, surat tersebut memakai stempel cincin Utsman.

Muhammad bin Abu Bakr segera kembali ke Madinah bersama rombongan, membawa pesuruh itu menghadap Utsman. Di hadapan Ali bin Abi Talib, Utsman membantah keras keterlibatannya. Ia mengakui pesuruh dan unta itu miliknya, juga cincin yang menjadi stempel surat tersebut. Namun ia bersumpah tak pernah menulis atau memerintahkan isi surat itu.

Ali, menurut riwayat Haekal, menerima sumpah Utsman. Ia menegaskan khalifah takkan bersumpah palsu. Kecurigaan kemudian mengarah pada Marwan bin Hakam, sekretaris Utsman, yang dikenal berpengaruh besar di lingkaran istana. Tulisan tangan surat itu disebut-sebut mirip milik Marwan. Namun Utsman menolak menyerahkan Marwan kepada para penuntut, khawatir akan dibunuh.

Penolakan itulah yang membuat amarah penduduk Mesir meledak. Mereka tak lagi sekadar menuntut pergantian gubernur, tetapi mulai menggugat legitimasi khalifah. Sejarawan modern seperti Wilferd Madelung melihat peristiwa ini sebagai contoh rapuhnya administrasi pusat: antara niat reformasi Utsman dan praktik kekuasaan orang-orang terdekatnya.

Dari Mesir, gelombang ketidakpuasan itu bergerak ke Madinah. Apa yang bermula sebagai protes terhadap seorang gubernur berubah menjadi krisis politik besar. Abdullah bin Abi Sarh mungkin hanya satu nama, tetapi keluhannya membuka jalan bagi tragedi yang mengakhiri kekhalifahan Utsman secara berdarah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan