Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 24 Januari 2026
home masjid detail berita

Syahidnya Sang Pemilik Dua Cahaya: Darah di Atas Mushaf

miftah yusufpati Senin, 05 Januari 2026 - 17:30 WIB
Syahidnya Sang Pemilik Dua Cahaya: Darah di Atas Mushaf
Penyusupan dan pengafiran menjadi senjata kaum Khawarij untuk meruntuhkan Khilafah Ali bin Abi Thalib. Ilustrasi: AI

LANGIT7.ID- Madinah pada tahun 35 Hijriah atau 656 Masehi tidak lagi menjadi kota yang tenang dan penuh ketundukan. Di bawah langitnya yang terik, sebuah ketegangan merayap dari Mesir hingga Kufah, bermuara di gerbang rumah seorang lelaki tua yang dikenal karena kedermawanannya: Utsman bin Affan. Inilah babak paling kelam dalam sejarah awal Islam, sebuah pemberontakan sistematis yang bukan dimulai dari medan perang, melainkan dari narasi-narasi provokatif di pasar dan majelis-majelis tersembunyi.

Sejarah mencatat nama Abdullah bin Saba, seorang asal Yaman yang menampung identitas sebagai mualaf, sebagai arsitek di balik layar. Dalam literatur klasik seperti Tarikh al-Rusul wa al-Muluk karya Imam al-Tabari, sosok bin Saba digambarkan sebagai penggerak massa yang lihai. Ia menyebar desas-desus tentang nepotisme dan ketidakadilan administratif sang Khalifah, membakar api kebencian di hati penduduk provinsi yang jauh dari pusat kendali. Kedengkian yang tersimpan di balik jubah keislamannya berhasil memicu sentimen anti-khalifah yang masif.

Situasi memuncak ketika ribuan orang dari berbagai penjuru mengepung rumah Utsman. Kepungan itu berlangsung selama empat puluh hari. Mereka menutup akses air dan makanan, sebuah tindakan yang sebelumnya tak pernah dibayangkan akan dilakukan oleh sesama muslim terhadap sahabat dekat Nabi. Utsman, sang pemilik dua cahaya, memilih jalan pasifisme. Ia melarang para sahabat lain, termasuk putra-putra Ali bin Abi Thalib, untuk menghunuskan pedang demi membela dirinya. Ia tak ingin darah tumpah di kota Nabi karena urusan pribadinya.

Namun, kesabaran Utsman justru disambut dengan kebrutalan. Para pemberontak yang telah teradikalisasi oleh pemikiran awal khawarij tidak lagi mengenal batas kesucian. Mereka menerobos masuk dengan memanjat dinding rumah, menghindari barisan penjaga di pintu depan. Di sebuah kamar yang sunyi, mereka menemukan Utsman sedang duduk dengan tenang, memangku mushaf Al-Quran.

Sebagaimana dicatat oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, pedang para pemberontak itu akhirnya bicara. Utsman dibunuh dengan keji saat sedang mendaras ayat-ayat suci. Muncratlah darah dari tubuh sahabat mulia itu, membasahi lembaran-lembaran mushaf yang sedang dibacanya. Tetesan darah pertamanya tepat mengenai ayat dalam Surat Al-Baqarah: Maka Allah akan mencukupi kamu dari mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Tragedi ini bukan sekadar pembunuhan politik biasa. Sayyid Qutb dalam Al-Adalah al-Ijtima iyyah fi al-Islam melihat peristiwa ini sebagai guncangan hebat bagi struktur keadilan sosial dan politik Islam. Gugurnya Utsman menandai berakhirnya era stabilitas mutlak dan dimulainya periode fitnah kubra atau ujian besar yang memecah umat ke dalam faksi-faksi yang saling berperang. Para pemberontak telah melakukan tindakan yang melampaui batas; mereka tidak hanya membunuh pemimpinnya, tetapi juga merusak tatanan ketaatan yang telah dibangun sejak era kenabian.

Kematian Utsman bin Affan adalah pengingat betapa berbahayanya sebuah provokasi yang dibungkus dengan jubah kebenaran. Gerakan yang dimotori bin Saba menunjukkan bahwa infiltrasi pemikiran lebih mematikan daripada serangan militer terbuka. Sejarah mencatat bahwa sejak tetesan darah itu menyentuh mushaf, pintu kekacauan seolah terbuka lebar dan sulit untuk ditutup kembali. Madinah yang tadinya menjadi pusat gravitasi iman, seketika berubah menjadi saksi bisu atas rapuhnya persatuan di hadapan ambisi politik yang mengatasnamakan agama.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 24 Januari 2026
Imsak
04:22
Shubuh
04:32
Dhuhur
12:08
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan