LANGIT7.ID-Sejarah puasa bukan hanya milik kaum bertauhid yang menelusuri garis keturunan Ibrahim. Jauh ke belakang, di bawah bayang-bayang piramida dan aliran tenang Sungai Nil, masyarakat Mesir Kuno telah meletakkan puasa sebagai pilar penting dalam struktur spiritualitas mereka. Bagi bangsa pemuja matahari ini, menahan lapar bukan sekadar urusan ketahanan fisik, melainkan sebuah metode untuk menjernihkan ruh dari kotoran duniawi.
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar dalam kitabnya
Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, mencatat bahwa praktik puasa di Mesir Kuno dilakukan secara sengaja sebagai bentuk latihan jiwa. Ketika hari-hari raya keagamaan tiba, seluruh lapisan masyarakat ikut serta dalam laku sunyi ini. Puasa menjadi identitas komunal yang menyatukan mereka dalam frekuensi spiritual yang sama.
Namun, sebagaimana struktur sosial mereka yang berlapis, aturan main puasa pun memiliki perbedaan derajat. Jika masyarakat umum hanya berpuasa pada momentum tertentu, para pemuka agama atau kasta pendeta menjalani ritme yang jauh lebih ekstrem. Mereka mengasingkan diri dari kenikmatan jasmani dalam durasi yang panjang, berkisar antara tujuh hari hingga enam minggu setiap tahunnya.
Bagi para penjaga kuil tersebut, puasa panjang adalah prasyarat untuk berinteraksi dengan yang gaib. Penahanan diri ini dianggap mampu mengikis dinding tebal antara jasmani dan ruh, sehingga seorang pemuka agama dapat mencapai tingkat kejernihan pikiran yang murni. Praktik ini menunjukkan bahwa jauh sebelum konsep takwa dalam Islam dirumuskan melalui ayat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ manusia purba telah lama meyakini bahwa ada kaitan erat antara perut yang kosong dan jiwa yang bercahaya.
Melacak jejak puasa di tanah para Firaun ini memberikan kita perspektif baru bahwa rasa lapar yang diatur secara religius adalah bahasa universal manusia. Meskipun orientasi ketuhanan mereka berbeda, tujuan fundamentalnya tetap memiliki benang merah yang serupa: pengendalian diri. Mesir Kuno telah membuktikan bahwa puasa adalah salah satu warisan peradaban tertua yang digunakan manusia untuk mencoba melampaui batas-batas kemanusiaannya.
(mif)