LANGIT7.ID, Jakarta - Ada perbedaan jumlah kumandang
adzan Jumat di masjid-masjid wilayah Indonesia. Sebagian masjid melakukan azdan sekali dan yang lainnya azan sebanyak dua kali.
Lantas bagaimana sejarah dan mana yang paling tepat dilakukan?
Pendakwah,
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, pada zaman Nabi Muhammad SAW, adzan Jumat dilakukan sekali. Namun, adzan Jumat dilakukan dua kali saat kepemimpinan Utsman bin Affan.
Menurutnya, ada illat saat Utsman memutuskan adzan Jumat dikumandangkan sebanyak dua kali. Saat masa kekhalifahannya, jumlah umat Islam terus bertambah banyak.
Baca Juga: Sejarah Munculnya Adzan dan Sebutan Bilal Sang Muadzin"Saat itu pula belum ditemukan pengeras suara seperti speaker. Nah, Utsman berijtihad untuk adzan Jumat dua kali," kata dia dikutip dari kanal YouTubenya, Kamis (27/10/2022).
Adapun adzan pertama kali dilangsungkan sebelum masuk waktu zuhur. Maksudnya untuk memperingatkan agar umat dapat bersiap-siap untuk beribadah.
Sedangkan adzan kedua, lanjut dai berusia 38 tahun itu, dilakukan saat khatib naik ke atas mimbar dan tepat saat masuk waktu Jumat.
"Apa yang dilakukan Utsman ini tidak salah, karena muncul kebutuhan saat itu yang berbeda saat di zaman Nabi," jelasnya.
Pendiri Quantum Akhyar Institute ini menambahkan, adzan Jumat dua kali saat masa kepemimpinan Utsman itu disebabkan karena panggilan adzan yang tidak terdengar oleh sebagian umat Islam.
"Terutama bagi jamaah yang tempat tinggalnya jauh dari masjid. Ini benar secara fikih dan dibenarkan secara syariat," ujarnya.
Mengacu pada zaman sekarang yang serba modern, panggilan adzan sudah dapat menjangkau umat di lokasi terjauh dari masjid. Itu karena adanya pengeras suara, mikrofon, dan sebagainya.
"Di zaman sekarang ini illatnya sudah tidak ada. Maka kemudian yang paling afdal adalah cukup azan sekali, walaupun mengamalkan azan dua kali pun tidak salah," tambahnya.
(bal)