LANGIT7.ID - , Jakarta -
Adzan merupakan panggilan ibadah bagi
umat Islam untuk menunaikan
salat fardhu. Adzan dikumandangkan oleh seorang muazin dari masjid setiap memasuki waktu salat.
Pendakwah Tengku Hanan Attaki atau kerap disapa
Ustadz Hanan Attaki mengatakan adzan baru disyariatkan pada tahun pertama Hijriyah, di Madinah. Hal tersebut terjadi setelah Nabi SAW berhijrah kesana.
Setelah
Nabi SAW berhijrah ke Madinah, program pertama yang ia lakukan di kawasan itu adalah membangun masjid yang kelak dikenal dengan nama masjid Quba.
Baca juga: Hormati Pemain Muslim, Shin Tae-Yong Hentikan Latihan Saat Adzan Berkumandang"Setelah itu berlanjut ke
Kota Madinah untuk membangun
masjid. Sudah dibangun kemudian mereka bingung bagaimana caranya memanggil orang ke masjid untuk salat berjamaah sehari lima kali," ujar Ustadz Hanan Attaki dikutip dari kanal YouTube Hanan Attaki, Sabtu (13/8/2022).
Dia melanjutkan, pada saat itu banyak cara yang diusulkan seperti menggunakan api, terompet hingga lonceng. Setelah melewati diskusi panjang akhirnya disepakatilah panggilan adzan dengan kalimat
Assholatu Jami'ah."Banyak cara yang diusulkan seperti membakar api di atas gunung dan memakai terompet, ternyata setelah dipikirkan hal ini mirip
Yahudi. Kemudian ada yang menawarkan untuk memakai lonceng, namun ada yang mengatakan itu mirip
Nasrani. Akhirnya disepakatilah kita panggil adzan dengan kalimat
Assholatu Jami'ah," katanya.
Hal tersebut dilakukan karena belum ada lantunan adzan. Setelahnya, Nabi SAW memilih
Bilal sebagai orang yang akan mengumandangkan kalimat tersebut di setiap waktu salat tiba.
Baca juga: Makna Hayya alal Falah saat Adzan, Ajakan untuk Umat Hidup SuksesIni yang kemudian menjadi asal muasal kenapa istilah lain dari
muadzin di Indonesia adalah Bilal.
"Hal ini belum ada adzan. Setiap waktu salat Bilal dipilih oleh Nabi untuk mengumandangkan kalimat tersebut, karena suaranya paling lantang tetapi tidak mengganggu. Suara Bilal itu lantang dan penuh dengan estetik. Makanya banyak yang pengen seorang muadzin yang seperti Bilal, karenanya istilah lain dari muadzin itu di
Indonesia adalah Bilal," lanjut dia.
Lebih lanjut, Ustadz Hanan Attaki berkata Bilal pada masa itu memanggil umat muslim datang ke masjid dari atas atap rumah orang karena dulu Nabawi belum terdapat menara.
"Maka itu Bilal mengumandangkan kalimat
Assholatu Jami'ah di atas rumah orang yang paling dekat dengan masjid, supaya terdengar sampai ke pinggir kota Madinah," ucapnya.
Tidak lama seorang sahabat Abdullah bin Zaid bermimpi, dalam mimpinya ia melihat seorang laki-laki sedang membawa lonceng. Lantas, ia memanggilnya kemudian menawarkan membeli lonceng tersebut tujuannya untuk digunakan sebagai pemanggil umat muslim ke masjid menunaikan ibadah salat.
Lalu pria tersebut malah menawarkan untuk mengajarkannya sesuatu yang lebih baik dari lonceng, yakni lantunan teks adzan.
Baca juga: Pemuda Ini Akui Dijewer Tuhan setelah Kritik Suara Sumbang Muadzin"Dan ternyata laki-laki tersebut mengajarkan Abdullah teks adzan di dalam mimpi yang seperti saat ini digunakan. Walaupun berbeda pendapat antara ulama, ada yang 2 dan ada yang 4 takbirnya, kemudian
syahadat dan seterusnya tetapi intinya adalah teks yang seperti demikian," tuturnya.
Ketika bangkit dari tidurnya Abdullah lalu pergi ke masjid untuk salat subuh, dan menceritakan perihal mimpinya kepada Rasulullah SAW. Nabi berkata, "Mimpi itu dengan kalimat sesungguhnya, itu adalah mimpi yang benar maka ajarkanlah apa yang kamu hafal tentang kalimat adzan itu kepada Bilal."
Tidak hanya Abdullah, sahabat Rasulullah, Umar juga ternyata memimpikan hal serupa namun terlambat memberitahukannya. Diketahui, Umar adalah salah satu sahabat yang sering diberi ilham oleh Allah SWT.
"Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mimpi dengan mimpi yang sama."
Dengan demikian, semakin meyakinkan kepada
para sahabat bahwa itu bukan hanya bunga tidur tetapi merupakan ilham dari Allah SWT, terlebih sudah dibenarkan oleh Nabi SAW.
"Sejak itulah adzan kemudian disampaikan atau disuarakan dengan suara kalimat tauhid, itulah asal usul adzan sehingga tidak bisa diganti, dan tidak bisa ditambah kurangkan maka seperti itulah adzan sejatinya sejak awal," pungkas Ustadz Hanan Attaki.
Baca juga: Sandal Bilal Terdengar Rasul Sampai di Surga, Apa Amalan Penyebabnya?(est)