LANGIT7.ID, Lampung - Desa Wisata dan Konservasi Minang Rua menyimpan eksotisme alam yang beragam. Mulai dari wisata pantai, air terjun hingga gua kelelawar.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Saiman Alex Candra menjelaskan meski wisata paling populer disini berupa pantai, namun banyak wisatawan yang tertarik dengan potensi wisata lainnya.
"Kalau untuk potensi wisata di Desa Wisata dan Konservasi ini berupa alam mulai dari pantai, air terjun, gua, bukit sunrise dan beberapa spot wisata menarik lainnya yang tersebar di sekitar Pantai Minang Rua," kata Saiman saat ditemui Langit7, Ahad (25/12/2022).
Baca juga: Melihat Ribuan Kelelawar di Gua Lalay Desa Wisata dan Konservasi Minang RuaMenurut Saiman, hingga saat ini Pokdarwis desa yang berada di Jalan Pariwisata Batu Alif, Dusun Minang Rua, Desa Kelawi, Bakauheni, Lampung Selatan, Lampung ini terus menggali potensi yang tersedia. Salah satu yang kini dikembangkan dan menjadi spot favorit wisatawan adalah Air Terjun Jamara dan Green Canyon.
"Air terjun ini sebetulnya ada dua spot hanya saja yang sering dan mudah dijangkau wisatawan adalah Air Terjun Jamara," ungkapnya.
Green Canyon ini ungkap Saiman, berupa laut yang menjorok ke dalam, kemudian di spot tersebut wisatawan dapat beraktivitas mulai dari berenang dengan menggunakan pelampung serta berswafoto langsung di lautan lepas.
"Desa wisata ini mulai terbentuk pada tahun 2021 berkenaan dengan ajang Anugerah Desa Wisata (ADWI) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kemudian, untuk Pokdarwis terbentuk sejak 2013 akan tetapi sempat vakum dan di tahun 2016 mulai digerakkan lagi," jelas Saiman.
Dari Pokdarwis Minang Rua inilah kemudian terbentuk
Desa Wisata dan Konservasi Minang Rua. Saiman menyebut, penamaan tersebut berdasarkan nama salah satu dusun di Desa Kelawi, yakni Dusun Minang Rua di mana pantai tersebut berada.
"Selain itu, pantai yang dikelola oleh Pokdarwis ini menjadi salah satu pantai di Indonesia yang memiliki penangkaran penyu sendiri. Karena pantai ini sering dijadikan tempat persinggahan para penyu saat bermigrasi untuk bertelur," katanya.
Menurut Saiman, penangkaran penyu-penyu ini pun tentunya juga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berwisata ke Pantai Minang Rua. Dan jika beruntung Sahabat Langit7 bisa melihat penyu besar yang berusia ratusan tahun.
Lebih lanjut, pria 45 tahun ini menuturkan selain wisata alam para pengunjung juga dapat merasakan berbagai potensi lainnya lainnya berupa wisata kuliner, wisata edukasi, wisata budaya, dan lain sebagainya.
Baca juga: Eksotisme Pantai Minang Rua jadi Incaran Wisatawan Lokal "Selanjutnya, di desa wisata ini juga memiliki potensi lahan pertanian serta hasil laut yang melimpah. Artinya, keunggulan kami dari pertanian adalah alpukat, jagung, kelapa, cabe, pisang dan lainnya. Sehingga hal tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan," ujarnya.
Selain hasil pertanian, terdapat juga hasil laut yang melimpah ini, kata Saiman kerapkali dijadikan sebagai salah satu sajian, bagi wisatawan yang hendak menikmati wisata kuliner yakni aneka olahan
seafood dan lainnya.
"Di desa wisata ini wisatawan juga bisa menikmati beragam makanan khas asli Dusun Minang Rua yang bisa dipesan di beberapa warung yang tersedia milik warga setempat," tambahnya.
Desa Wisata dan Konservasi ini dibuka setiap hari selama 24 jam, serta sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas cukup lengkap. Mulai dari area parkir yang cukup luas, kamar mandi umum, persewaan alat, kios souvenir, warung, gazebo, musholla, penginapan dan lainnya.
(sof)