LANGIT7.ID, Jakarta - Masyarakat di Indonesia menyebut penanggalan merah setiap akhir pekan merupakan 'Hari Minggu'. Namun Ustadz Adi Hidyat menyebut yang ada sebetulnya Hari Ahad.
"Hari Minggu ini tidak ada, yang ada Ahad," kata Ustadz Adi Hidayat dalam kutipan ceramah singkatnya di Youtube.
Dalam Islam, hari Minggu yang kita kenal disebut hari Ahad. Penamaan hari Minggu sebenarnya dibawa oleh orang-orang Nasrani dari Portugis lalu diadopsi oleh masyarakat, khususnya sebagian besar ummat Islam di Indonesia hingga sekarang.
Bila dicek dari KBBI, Minggu: n (ditulis dengan huruf besar) hari pertama dalam jangka waktu satu minggu; Ahad: pada hari -- semua pegawai libur atau, n jangka waktu yang lamanya tujuh hari; pekan: setiap tahun kami mendapat cuti dua --.
Sama juga dengan Ahad: n hari pertama dalam jangka waktu satu minggu; Minggu atau n (ditulis dengan huruf kecil) satu; esa. Makna dalam kamus besar ini hampir sama kalau terkait penyebutan hari.
Ustadz Adi Hidayat mengatakan, penamaan hari Minggu baru dipakai sejak kedatangan bangsa Portugis pada 1511. Mereka diutus untuk membawa tiga misi suci yakni Gold, Glory dan Gospel.
Gospel yang berarti menyebarkan ajaran (agama) baru ini diyakini oleh masyarakat di wilayah jajahan mereka, termasuk nusantara yang kini Indonesia. Salah satu bentuknya membangun rumah ibadah.
"Orang-orang Nasrani saat beribadah tidak langsung meminta kepada tuhannya, tapi lewat orang suci yang dikenal Bapa, dulu disebut Santo Do Minggo," ujar Adi Hidayat.
Mereka pergi dua hari setelah ummat Muslim beribadah Jumat. Dua hari tersebut jatuh pada hari Ahad. Karena iktikadnya ingin pergi ke Santo Do Minggo, maka penamaan hari itu berubah.
"Masyarakat kita itu tidak suka yang panjang-panjang. Mereka lebih suka menyingkat, Santo Do Minggo, Do Minggo dan akhirnya menjadi Minggu sampai sekarang. Asalnya dari situ," katanya.
(bal)