Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home home & garden detail berita

Sekjen Ikatan Arsitek Indonesia, Ariko Andikabina: Arsitektur Rumah Bukan Bangun Benteng dengan Tembok Tinggi

ajeng ritzki Senin, 30 Agustus 2021 - 06:02 WIB
Sekjen Ikatan Arsitek Indonesia, Ariko Andikabina: Arsitektur Rumah Bukan Bangun Benteng dengan Tembok Tinggi
Ariko Andikabina Foto: Ariko Andikabina
LANGIT7.ID, Jakarta - Memiliki rumah sendiri adalah mimpi nyaris setiap orang. Saat peluang dan keuangan memungkinkan, proses mewujudkan bangunan tempat tinggal menjadi momen istimewa.

Tak ada tahap yang tidak penting. Menentukan lokasi, berapa ruang, desain macam apa, membeli di kompleks perumahan ataukah membangun sendiri sesuai keingan, hanyalah sekian dari banyak faktor penentu, termasuk pilihan menggunakan jasa arsitek ataukah tidak.

Lantaran istimewa, tak jarang sikap pemilik berlebihan terutama dalam hal proteksi. Rumah pun hadir tak cukup dengan pagar tapi tembok tinggi, menutup bangunan dari lingkungan sekitar.

Berarsitektur, sebenarnya bukan sekedar membangun rumah. Hunian adalah tempat tinggal manusia untuk hidup bersama manusia yang lain, sehingga sudah seharusnya rumah didesain peka dengan lingkungan sekitar.

Begitu gagasan yang ditekankan Sekretaris Jendral Ikatan Arsitektur Indonesia Nasional, Ariko Andikabina. Arsitek yang berpraktik sejak 2002 ini menyoroti gaya hidup modern cenderung individualis terutama di kalangan perkotaan yang juga menyentuh gaya rumah tinggal.

"Jadi berarsitektur terutama untuk rumah ga bisa sesederhana itu. Bukan tentang bikin rumah lalu pasang pagar tembok tinggi , seperti benteng, yang banyak di kota-kota besar," kata jebolan Universitas Muhammadiyah Jakarta ini kepada LANGIT7.id pekan lalu.

"Rumah sehat itu penting, sirkulasi baik, pencahayaan baik, tapi kita hidup itu tidak sendiri, kita hidup bertetangga, jadi arsitektur rumah tinggal itu juga harus memiliki konsep 'bertetangga', " ujar salah satu pendiri Green Bulding Council Indonesia.

Desain rumah yang ramah, menurutnya akan membuat orang-orang sekitar ikut peduli dan menumbuhkan rasa memiliki dan menjaga. "Saya dulu ketika masih sering lewat Menteng, senang ketika melihat 'Rumah Cantik'. Saat itu pagar masih memungkinkan. Ada perasaan ia bagian dari kita yang berlalu lalang." ujar pria kelahiran 1979 itu.

Rumah Cantik adalah sebutan yang diberikan untuk bekas bangunan rumah tinggal yang terletak di Jl. Teuku Cik Ditiro No. 62 Menteng, Jakarta Pusat. Karena tak kuat membayar pajak, pemiliknya lama menjualnya . Kemudian oleh pemilik baru rumah tersebut direnovasi besar-besaran.

"Tahu-tahu ketika rumah itu ditembok dengan pagar tinggi, ada perasaan kehilangan," tutur Ariko. Keterikatan itu tak lepas dari fitrah manusia sebagai makhluk sosial.

"Tidak usah soal bangunan. Ketika seseorang memasak dan baunya tercium oleh tetangga sangat tidak elok bila ia tak membagi ke tetangganya. Itu bukan aku lho yang bilang." ucap arsitek utama di biro yang ia dirikan, Ariko Andikabina Architecs. "Rasulullah, kalau beliau memasak, tetangga yang mencium baunya ikut kebagian," katanya lagi

"Seperti itu saja diatur dalam Islam, apalagi mendirikan rumah tinggal, bagaimana mungkin tidak peduli sekitarnya," kata Ariko.

"Apa dengan pagar tinggi seperti benteng lantas menjamin keamanan? Tidak." ujarnya lagi.

Ia mengingatkan pada kasus tragis yakni enam keluarga yang meninggal akibat kehabisan nafas karena disekap dalam kamar mandi rumah mewah di kawasan Pulomas, Jakarta pada 2016. Bahkan dari laporan media massa saat itu, tetangga tidak mendengar kegaduhan di rumah korban. Tak hanya itu, karena pintu kamar mandi didesain tebal, butuh waktu hingga satu setengah jam untuk menjebolnya..

Begitu pula kasus pencurian di sebuah rumah mewah di Kebon Jeruk, Jakarta terjadi pada Mei 2021 lalu. Pelaku menyapu bersih isi rumah tersebut hingga membongkar seluruh lantai keramik rumah, lagi-lagi tanpa diketahui oleh tetangga.

Ariko menyayangkan peristiwa tersebut. "Itu sebenarnya cukup membuktikan kita tak bisa hidup sendiri, apalagi hanya mengandalkan keamanan dari fisik bangunan," ujarnya.

"Arsitektur rumah tinggal itu harus mengandalkan social security,(keamanan sosial) " ujarnya. "Itu sebenarnya akar kita. Orang Indonesia itu budayanya bersama-sama, bergotong-royong ," kata Ariko.

"Gotong royong itu benar-benar asli kita. Dulu orang-orang lama biasa mengangkat konstruksi rumah bersama-sama, Itu betulan," ujarnya. "Sekarang masih ada yang melakukannya," imbuh Ariko.
Sekjen Ikatan Arsitek Indonesia, Ariko Andikabina: Arsitektur Rumah Bukan Bangun Benteng dengan Tembok Tinggi
Mengacu pada akar, Ariko menyebut bagaimana arsitektur tradisional di Tanah Air tidak pernah dibuat karena pertimbangan individu. Rumah Gadang, Rumah Limasan dan Joglo, misal selalu memasukkan unsur komunal atau kebersamaan dalam penataan ruang.

Begitu pula ketika Islam masuk ke Indonesia, pondok-pondok pesantren lama saat itu juga sangat terbuka bagi penduduk sekitar meski tetap ada ruang privasi bagi pengasuhnya. Jamak dalam penataan kompleks pondok pesantren salaf di Indonesia, area memiliki lahan luas tempat warga sekitar bisa berkumpul turut mengikuti pengajian yang disampaikan kyai atau ulama pondok. Tidak ada pagar pembatas kaku apalagi tembok tinggi.

Ariko menekankan bagaimana sejarah mencatat keterikatan kuat antara pondok pesantren denan warga yang tinggal di sekitarnya. "Itu karena ikatan dibangun secara manusiawi, sehingga semua, termasuk bangunan menjadi bagian yang ikut dijaga masyarakat sekitar," ujarnya. "Social security seperti itulah yang harusnya diandalkan setiap pemilik rumah," ujarnya.

Ada satu kisah inspiratif bagaimana keamanan sosial mampu melindungi pemiliknya. Seorang pengusaha sekaligus pemilik lapangan golf di kawasan Jagorawi, Daya Zakir, saat awal membangun bisnisnya melakukan pendekatan kemanusiaan dalam proses pembebasan lahan.

Dalam kesempatan terpisah, Daya menuturkan lebih memilih menunggu saat melakukan negosiasi pembebasan lahan. Ia memahami bukan hal mudah bagi seseorang melepas rumahnya. Karena itu selain kompensasi memuaskan, Daya juga menawari mereka untuk bekerja di lapangan golfnya. Baginya orang lokal lebih tahu dan bisa dipercaya daripada mendatangkan orang baru.

Saat kerusuhan 1998 meletus, nyaris semua lapangan golf dan perumahan sekitarnya dihancurkan dalam amuk massa. Lapangan golf milik Daya Zakir dan rumah tinggalnya termasuk sedikit--bila sulit dibilang satu-satunya--yang lolos dari aksi perusakan di kawasan Jabotabek. Itu terjadi karena warga lokal bersiaga dan bahkan mempersenjatai diri untuk melindungi kawasan lapangan golf dan rumah milik Daya Zakir.
Sekjen Ikatan Arsitek Indonesia, Ariko Andikabina: Arsitektur Rumah Bukan Bangun Benteng dengan Tembok Tinggi(Rumah Daya Zakir di Jagorawi dengan view area lapangan golf Foto: Instagram.com/yoriantar

Arsitek sebagai agen Dakwah

Ariko mengakui ada banyak tantangan di lapangan karena setiap klien memiliki isi kepala yang berbeda. "Ketika merancang saya selalu menekankan kepada klien bahwa rumah itu bagian dari ruang kota, ruang publik." ungkapnya. "Jadi sebisa mungkin desain memiliki kepekaan dengan lingkungan," ujarnya.

Ia bukan anti dengan pagar. "Seperti rumah ibu saya di depok, karena situasinya tak memungkinkan tanpa pagar maka dibuatlah pagar. Tapi desain pagar tetap membuat orang bisa melihat, bukan tembok tinggi tebal yang menutupi."ujarnya.

Pernah pula ia menyarankan salah satu klien untuk menyumbang lahan halaman untuk ruang kota. Pagar pemilik dimundurkan sekitar 20 cm lalu area tersebut dijadikan ruang hijau untuk publik. "Alhamdulillah mereka sepakat dan menerima.

Ada satu klien yang sangat diapresiasinya, yakni pemilik sebuah rumah di Tegal. "Luar biasa, dia ingin agar halaman dan pagar depan bisa didesain fleksibel karena saat pagi ternyata menjadi area pasar dadakan," tutur Ariko. "Yang kita harapkan,banyak orang memiliki pemikiran semacam itu," ujarnya.

Meski, Ariko tak memungkiri tak semua klien bisa menerima gagasan tersebut. "Di sinilah peran arsitek. Kita itu juga agen dakwah, mesti bisa menyampaikan alasan dengan baik agar bisa diterima. Bahwa rumah tidak bisa individualis." ucapnya.

Saat disinggung keterjangkauan jasa arsitek di semua kelas masyarakat, Ariko menegaskan, "Pada rumah sangat sederhana sekalipun, seorang arsitek dapat mengabadikan jasanya. Ia memandang upah sangat sederhana bukanlahmasalah. "Ga keberatan, selama klien mau mengikuti saran arsiteknya," katanya.

Kalau toh calon pemilik rumah enggan karena takut tak bisa pantas menghargai jasa arsitek, ia memberi tips " Perhatikan aliran udara, penting untuk sirkulasi."

(arp)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)