LANGIT7.ID-, Surabaya- -
Teknologi yang terus berkembang memberikan manfaat sekaligus tantangan tersendiri untuk sejumlah kalangan. Termasuk bagi kalangan santri. Manfaat yang dimaksud salah satunya kemudahan mengakses aneka kebutuhan.
Pada dunia santri misalnya, dahulu, para santri di forum bahtsul masail harus membawa puluhan kitab. Namun sekarang cukup dengan membawa laptop (Maktabah Syamilah). Semua dokumen kitab bisa tersimpan di dalamnya. Ini semua merupakan bagian dari fenomena-fenomena teknologi.
"Karena salah satu penyebabnya adalah tersedianya instrumen atau alat-alat tujuan di mana semua orang bisa mencari dan mengakses segala informasi dengan cepat," kata Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa dikutip dari NU Online, Senin (31/7/2023).
Baca juga:
Polisi Santri dari Polda Aceh Juara Hafalan Qur'an 20 Juz Tingkat Asia TenggaraMenurutnya, situasi ini di satu sisi tentu akan memaksa seseorang meninggalkan budaya atau tradisi yang dahulu sudah berjalan. Tidak terkecuali budaya di kalangan santri, sebagaimana disinggung sebelumnya. "Bahwa dunia lagi muncul fenomena-fenomena teknologi. Fenomena orang yang sudah mulai satu dari sekian juta meninggalkan tradisi klasik," terang Kiai Zulfa.
Pada kesempatan ini, Kiai Zulfa juga menyinggung tentang munculnya kecerdasan buatan atau Intelegensi Artifisial (IA) yang lebih canggih daripada google. Kalau google mempunyai fungsi hanya menghimpun data, sedangkan IA bisa mengelola data dan bisa diperintahkan sesuai keinginan pengguna.
Fenomena yang mengagetkan dunia baru-baru ini juga akan memberikan konsekuensi tersendiri kehidupan masyarakat. Kiai Zulfa kemudian mencontohkan kecerdasan dari IA.
Baca juga:
Alhamdulillah! Pelajar SMA dan SMK Jawa Timur Borong Prestasi International"Kalau dulu orang berkhutbah atau ceramah harus membuka kitab terlebih dahulu, namun sekarang dengan adanya Intelegensi Artifisial. Kita bisa perintahkan untuk membuatkan materi tentang khutbah atau ceramah dengan segala tema dan bahasa," ucapnya.
Kendati situasi semakin canggih, Kiai Zulfa menegaskan bahwa keberadaan pondok pesantren dan segala budaya yang dimiliki harus dipertahankan karena di pesantren inilah menyimpan ajaran dan tradisi yang tidak dimiliki oleh IA sekalipun. Seperti pola pengajaran di pesantren dan sanad keilmuan.
"Sehebat-hebatnya google dan intelegensi artifisial (IA) yang membedakan dengan kiai dan ulama adalah sanad. Para kiai dan ulama bisa membimbing dan mendidik kita, sedangkan Google dan IA tidak bisa membimbing dan mendidik kita, karena dia hanya sebuah mesin dan tidak bersanad," tegasnya.

(ori)