LANGIT7.ID-, Jakarta - - Ramai di media sosial tentang tayangan Trans7 yang dinilai melecehkan kehidupan para santri di
Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Dalam salah satu segmen, tayangan Trans7 dalam program Xpose Uncensored memperlihatkan para santri yang antri sambil
jalan jongkok untuk menyalami pimpinan pondok pesantren.
Segmen ini diikuti dengan narasi yang dinilai menyudutkan kehidupan santri di pondok. Jalan jongkok pun dianggap sebagai penghambaan pada kiai pengasuh pondok.
Baca juga: Viral Seruan Boikot Trans7, Diduga Lecehkan Pesantren dan Kiai LirboyoRektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M Ishom el Saha, menyebut
jalan jongkok sebagai gestur yang sarat makna, baik dalam kehidupan pesantren maupun masyarakat tradisional Jawa.
Ishom mengatakan,
jalan jongkok umumnya dilakukan para santri ketika melewati kiai atau orang yang lebih tua.
"Sikap ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan wujud konkret dari penghormatan dan tata krama yang telah mengakar dalam budaya," terang Ishom dalam tulisannya yang berjudul "Filosofi Santri Jalan Jongkok" di laman Kemenag, Selasa (14/10/2025).
Ia meyakini bahwa sikap
jalan jongkok tidak lahir dari paksaan, melainkan dari kesadaran untuk menempatkan diri secara tepat dalam ruang sosial.
"Dalam tradisi Jawa, ada nilai yang disebut jatmika, yakni bersikap santun, tahu tata, dan mampu menjaga diri agar tidak melampaui batas sopan santun. Jalan jongkok adalah bagian dari ekspresi nilai tersebut—rendah hati tanpa merasa direndahkan," tambahnya.
Menurut Ishom, bentuk penghormatan semacam ini bisa dijumpai dalam berbagai konteks, seperti anak-anak diajarkan untuk menundukkan badan saat melewati orang tua, tidak duduk lebih tinggi dari yang dituakan, dan menjaga ucapan saat berbicara.
Baca juga: Trans7 Singgung Ponpes Lirboyo, MUI: Tidak Profesional dan Tendensius"Semua perilaku ini adalah latihan keseharian dalam menunjukkan hormat, bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk kesadaran budaya," kata Ishom.
Sementara dalam konteks pesantren,
jalan jongkok menjadi bagian dari laku hidup santri, yaitu menjaga adab dalam gerakan.
"Jalan jongkok saat melewati guru bukan berarti kehilangan harga diri, tetapi menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya soal hafalan, melainkan juga soal pembentukan sikap batin," ucapnya.
Ishom pun mengaitkan nilai tersebut dalam permainan tradisional seperti bermain kelereng, di mana anak-anak secara alami menggunakan posisi jongkok saat menembak.
"Meski dilakukan demi ketepatan teknik, posisi ini juga mencerminkan nilai-nilai yang sama: kesabaran, kerendahan hati, dan kemampuan menahan diri," terang Ishom.
Ishom menegaskan bahwa jongkok dalam permainan maupun kehidupan sehari-hari mengandung pelajaran yang sama—bahwa tidak semua yang rendah itu hina, dan tidak semua yang tinggi itu mulia.
"Dalam budaya kita, tinggi atau rendahnya seseorang tidak ditentukan oleh posisi tubuh, tetapi oleh laku dan budi pekertinya," kata Ishom.
Baca juga: Logo Hari Santri 2025, Filosofi dan Makna di BaliknyaSayangnya, di tengah arus perubahan zaman, sikap-sikap seperti jalan jongkok kerap disalahpahami. Dalam masyarakat yang semakin mengedepankan kesetaraan formal, gestur ini bisa terlihat usang atau bahkan dianggap tidak manusiawi.
Padahal, ketika dilihat dari makna aslinya, jalan jongkok bukanlah bentuk ketundukan, tetapi simbol penghormatan yang dilakukan secara sadar dan ikhlas.
"Nilai jatmika tidak bertentangan dengan semangat modernitas," tegas Ishom.
Justru, tambahnya, di saat etika sosial makin longgar, kesantunan yang bersumber dari nilai-nilai budaya bisa menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda.
"Jalan jongkok mengajarkan bahwa kehormatan tidak hanya dituntut dari orang lain, tetapi juga harus ditunjukkan terlebih dahulu," imbuhnya.
Selain itu, kata Ishom, jalan jongkok juga menjadi cara menjaga ketertiban ruang sosial.
Dalam situasi di mana seseorang berada di hadapan orang yang sedang duduk, sikap ini menghindarkan dari kesan tidak sopan.
"Ada kepekaan sosial yang dilatih secara alami—kesadaran bahwa tubuh dan ruang tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan orang lain di sekitarnya," jelas Ishom.
Baca juga: Dari Pondok ke Pesantren: Ketika Sufisme Menemukan Rumahnya di JawaMasyarakat modern mungkin tidak perlu lagi menjalankan semua gestur budaya secara literal. Namun, nilai-nilai yang melandasinya tetap relevan: tahu diri, menghormati sesama, dan menjaga keselarasan dalam pergaulan.
"Jalan jongkok hanyalah salah satu simbol dari banyak cara bangsa ini menunjukkan budi pekerti," ucapnya.
Ishom mengatakan, saat nilai-nilai seperti jatmika terus dihidupkan dalam tindakan sehari-hari, masyarakat tidak hanya mewarisi budaya, tetapi juga memperkuat fondasi etika bersama.
"Jalan jongkok, dalam makna yang paling dalam, adalah cara sederhana namun kuat untuk mengatakan: “Aku menghormatimu, bukan karena aku lebih rendah, tetapi karena aku memahami tempatku," pungkasnya.
(est)