LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah hampir di seluruh dunia telah menghabiskan lebih dari satu tahun untuk menangani pandemi Covid-19. Mata rantai virus ganas ini selesai bersamaan dengan penanganan masalah gelombang panas, kebakaran hutan, dan dampak iklim lainnya.
Namun, beberapa kalangan menilai di banyak negara belum berbuat cukup untuk memprioritaskan kesehatan menghadapi krisis iklim. Walau hanya memasukkan sektor kesehatan ke dalam komitmen iklim, sekali pun.
Organisasi dunia Global Climate and Health Alliance membuktikannya melalui Kartu Skor Sehat NDC (Nationally Determined Contributions), yaitu kontribusi yang ditentukan secara nasional oleh tiap negara yang telah dirilis.
Kartu Skor Sehat NDC yang mencatat peringkat kemajuan negara-negara dalam penyertaan sektor kesehatan pada target komitmen penurunan emisi nasional menuju COP26. Ditenemukan spektrum skor yang luas, yang dicapai oleh negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs), serta negara-negara berpenghasilan tinggi (HICs).
Kosta Rika tercatat mencetak 13 poin dari angka maksimal 15 poin, kemudian diikuti oleh Laos dan Senegal (12 poin) dan Argentina, Lebanon, Papua Nugini dan Rwanda.
“Dari negara-negara yang menghasilkan sekitar 50% emisi global namun belum mengumumkan pembaruan komitmen iklim nasional mereka menjelang COP26, ternyata ada peluang besar bagi pemerintah untuk segera membangun target pengurangan emisi yang ambisius, mendapatkan manfaat kesehatan dari tindakan iklim yang dipertimbangkan dengan baik, sekaligus untuk meningkatkan ekonomi mereka,” kata Direktur Eksekutif Global Climate and Health Alliance, Jeni Miller.
“Adanya gelombang panas dan kebakaran hutan yang sudah berdampak serius pada kesehatan, alternatif apapun menjadi beresiko membahayakan manusia dan planet tempat kita semua hidup,” imbuhnya.
Beberapa negara berpenghasilan tinggi seperti Australia, Selandia Baru, Islandia, dan Norwegia mencetak nol poin, sedangkan Uni Eropa, yang mewakili 27 negara anggota, hanya mencatat satu poin. Ini adalah berita yang agak lebih baik bagi AS, yang mencetak enam poin, sementara Inggris mencapai tujuh poin dari 15.
Dalam data yang tersedia, kartu skor ini juga menyoroti apakah komitmen pengurangan emisi negara-negara berada di jalur yang tepat untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris dan untuk membatasi kenaikan suhu global hingga jauh di bawah 2°C, yang idealnya 1,5°C.
Beberapa negara, meski mendapat skor tinggi karena memasukan kesehatan dalam NDC mereka, tetapi secara keseluruhan masih kurang dalam ambisi iklim. Argentina, misalnya. Mereka telah menyelaraskan rencananya dengan tingkat pemanasan 3°C, yang akan memiliki implikasi parah bagi kesehatan manusia. Dalam NDC yang ditampilkan dalam kategori kartu skor ini, hanya tiga negara (Kosta Rika, Kenya, dan Nepal) yang menyamai dengan target 2°C, namun tidak ada yang ingin mencapai 1,5°C.
“Membuat komitmen iklim yang membatasi pemanasan bumi hingga 1,5°C adalah hal yang sangat sejalan dengan Perjanjian Paris dan sangat penting untuk perlindungan kesehatan,” kata Miller.
Meskipun beberapa negara telah memasukkan kesehatan ke dalam komitmen iklim mereka sekaligus membuat hubungan yang jelas antara iklim dan kesehatan, banyak juga yang gagal dalam pengurangan emisi yang adil dan secara menyeluruh, dan secara keseluruhan ambisi iklim internasional masih jauh di bawah apa yang dibutuhkan untuk melindungi kesehatan.
“Memberikan lip-service untuk kesehatan tidak banyak berpengaruh kecuali upaya bersama juga dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Karena ini akan menjadi faktor terbesar dalam menentukan kesehatan generasi mendatang. Kegagalan untuk melakukannya akan menjadi bencana besar bagi kesehatan manusia,” kata Miller.
Dari 40 NDC yang dianalisis untuk kartu skor, sebanyak 66 negara (termasuk 27 di Uni Eropa) telah memasukkan masalah kesehatan dalam NDC mereka. Hanya sedikit yang memberikan lebih dari detailnya tentang bagaimana mereka akan melindungi kesehatan warganya dari dampak perubahan iklim.
Beberapa negara mencantumkan detail yang minim mengenai rencana mereka melindungi warga dari dampak krisis iklim, sementara beberapa lainnya mempertimbangkan bagaimana hal ini dapat dibiayai, atau kerugian jika gagal bertindak.
“Pemerintah negara yang telah menghilangkan faktor kesehatan dari NDC, atau yang target emisinya tidak memadai, harus bertindak untuk menempatkan perlindungan kesehatan warganya di garis depan dan sebagai kebijakan iklim nasional utama mereka, kalau tidak maka mereka harus menelan kerugian akibat bencana yang bakal terjadi,” kata Jess Beagley, Analis Kebijakan untuk Global Climate dan Health Alliance.
Sedangkan untuk negara-negara yang belum menyerahkan NDC mereka, maka harus menyiapkan rencana substantif untuk menangani dampak kesehatan dari perubahan iklim, dan itu termasuk bagaimana langkah-langkah tersebut akan dibiayai. Waktu, sumber daya, dan uang perlu diinvestasikan sekarang untuk kesehatan, demi melindungi dari dampak kesehatan yang parah akibat kerusakan lingkungan.
“Apa yang ditunjukkan oleh Kartu Skor Sehat NDC ini adalah secara keseluruhan negara-negara dunia masih jauh dalam memasukkan kesehatan sebagai salah satu kebijakan iklim”, lanjut Beagley.
Walau demikian, negara-negara dengan skor tertinggi memberi contoh bahwa perubahan ini dapat dilakukan, dan harus menginspirasi yang lain untuk mengikutinya, sehingga mereka dapat menuai manfaat kesehatan bagi rakyatnya.
Temuan Kunci* Dari 66 negara - termasuk UE 27 - hanya lima negara yang memasukkan kesehatan dalam komitmen iklim nasional mereka menjelang COP26.
* Beberapa negara dengan skor tertinggi adalah LMIC (negara berpenghasilan rendah dan menengah) seperti Kosta Rika (13/15) - yang menerima nilai penuh untuk semua kategori kecuali keuangan dan ekonomi. Ambisi iklim Kosta Rika juga sejalan dengan Perjanjian Paris. Negara-negara dengan skor tinggi lainnya adalah campuran dari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah - seperti Senegal, Laos, Rwanda, Papua Nugini, Lebanon, dan Argentina. Ini kemungkinan karena dampak kesehatan dari perubahan iklim yang sudah jelas terlihat di pengaturan ini.
* Namun, skor yang relatif tinggi untuk penyertaan kesehatan sering kali tidak diimbangi dengan tingkat ambisi yang cukup untuk memenuhi Perjanjian Paris, yang menghadirkan ancaman bencana bagi kesehatan. Misalnya Uni Emirat Arab, Vietnam, Meksiko, Argentina, Chili. Jika emisi tidak dikurangi secara drastis, tingkat pemanasan pada akhir abad ini akan menjadi bencana besar bagi kesehatan manusia.
* Beberapa negara (termasuk yang biasanya dianggap progresif dalam masalah lain) tidak hanya gagal memasukkan perhatian pada kesehatan, tetapi juga menunjukkan tingkat ambisi iklim secara keseluruhan yang tidak memadai - seperti Australia, Selandia Baru, Brasil, Norwegia.
* Negara-negara berpenghasilan tinggi (HIC) biasanya mendapat skor lebih rendah, seperti Australia, Selandia Baru, Islandia, Norwegia, yang kesemuanya itu menerima nol poin. NDC negara-negara UE, yang mencakup seluruh 27 negara anggotanya, hanya mencapai satu poin dari kemungkinan 15, untuk pengakuan manfaat tambahan kesehatan. Meski negara-negara berpenghasilan tinggi sering memiliki strategi terpisah yang fokus pada langkah-langkah adaptasi untuk kesehatan (seperti tuan rumah COP 26 Inggris, yang mencetak 7/15), namun analisis kartu skor ini hanya dibuat berdasarkan NDC, bukan kebijakan lainnya.
* Inggris dan Amerika Serikat sama-sama mendapat nilai penuh untuk pertimbangan manfaat tambahan kesehatan. Sementara itu Inggris juga memberikan perincian tentang kebijakan yang sudah ada untuk mendukung tujuan ini.
* Para pemimpin pemerintahan harus mempertimbangkan kebutuhan anggaran dan potensi penghematan dalam melaksanakan komitmen kesehatan. Banyak negara, termasuk Australia, Brazil, Selandia Baru, Norwegia, Swiss, Thailand, Inggris, Uni Emirat Arab, dan UE 27, yang tidak menerima poin apapun meski sudah menyadari biaya dampak kesehatan. Aspirasi yang berkaitan dengan adaptasi kesehatan yang sehat dan baik, akan hanya menjadi ide jika tanpa anggaran untuk mendukung tindakan. Kesehatan menjadi sesuatu yang layak untuk diinvestasikan, karena pada akhirnya tidak akan ada perekonomian tanpa kesehatan.
* Pembiayaan internasional dari negara-negara industri yang lebih kaya dan lebih maju juga diperlukan untuk mendukung negara-negara yang paling rentan terhadap dampak kesehatan dari perubahan iklim, dan negara-negara yang telah mengakui dampak kesehatan dari perubahan iklim dalam NDC mereka. Dengan begitu, dapat diwujudkan rencana ambisius dan berfokus pada kesehatan. Sedangkan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah seperti Laos, Rwanda, Papua Nugini, dan Senegal meski sudah mempresentasikan pertimbangan dan tindakan kesehatan di seluruh NDC mereka, tetapi akan tetap membutuhkan pendanaan internasional, seperti dari Green Climate Fund, untuk mewujudkan sepenuhnya komitmen iklim mereka.
(jak)