Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 04 Mei 2026
home masjid detail berita

Etika Bumi dari Ajaran Islam di Tengah Krisis Iklim dan Kerusakan Ekologis

miftah yusufpati Sabtu, 13 Desember 2025 - 04:15 WIB
Etika Bumi dari Ajaran Islam di Tengah Krisis Iklim dan Kerusakan Ekologis
Krisis lingkungan tidak menunggu manusia berdebat. Banjir akan datang meski forum diskusi belum selesai. Hutan bisa habis meski seminar ekologi digelar berulang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Fenomena cuaca ekstrem beberapa tahun terakhir membuat banyak kota serasa hidup dalam ketidakpastian: hujan datang pada bulan kemarau, panas menanjak tanpa jeda, dan banjir berubah menjadi agenda tahunan. Di ruang-ruang diskusi ilmiah, para ahli menyebut perilaku manusia sebagai pemicu utama gangguan ekologi. Kesimpulan itu kini terdengar seperti gema yang sudah ribuan tahun lalu diucapkan teks-teks agama.

Salah satu ayat yang kembali dipetik dalam diskusi tentang etika lingkungan berbunyi:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah diciptakan dengan baik; dan berdoalah kepada-Nya dengan takut dan harap. Rahmat Allah dekat bagi mereka yang berbuat baik. [al-A’râf/7:56]

Para ahli tafsir klasik membaca ayat itu bukan hanya sebagai larangan moral, tetapi diagnosis atas krisis peradaban. Abu Bakar bin ‘Ayyâsy melihat kerusakan sebagai akibat abainya manusia terhadap ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Ath-Thabari menafsirkan larangan merusak bumi sebagai larangan syirik dan maksiat—dua bentuk perilaku yang dinilai mengguncang tatanan kosmik dan sosial. Ibnul Qayyim memandang syirik dan pelanggaran terhadap syariat sebagai kerusakan terdalam yang kemudian memancar menjadi bencana-bencana ekologis.

Membaca tafsir itu dalam konteks modern seperti menghubungkan dua dunia: spiritual dan saintifik. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan kerusakan lingkungan berakar dari perilaku manusia—eksploitasi lahan besar-besaran, konsumsi yang berlebihan, hingga sistem ekonomi yang menempatkan alam sebagai objek tanpa batas. Kajian-kajian ekologi, semisal tulisan James Lovelock tentang Gaia atau pendekatan ekologi manusia ala Eugene Odum, menggambarkan bumi sebagai sistem yang kesimbangannya mudah terganggu oleh perilaku manusia.

Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Man and Nature menyebut krisis ekologis sebagai krisis spiritual: manusia modern kehilangan rasa takut dan harap, dua energi batin yang disebut ayat itu sebagai landasan etika. Nasr menilai modernitas membebaskan manusia dari batasan moral hingga tak lagi merasa perlu menjaga keseimbangan alam.

Di beberapa pesantren, ayat ini menjadi bahan renungan tentang hubungan ibadah dan lingkungan. Ulama mengaitkannya dengan larangan israf (berlebihan) yang disebutkan al-Qur’an. Dalam riset akademik kontemporer—seperti tulisan Mustafa Abu Sway tentang environmental fiqh—konsep tidak berlebihan menjadi salah satu prinsip kunci fiqh lingkungan: mulai dari hemat air, tidak membakar lahan, hingga tata kelola sumber daya yang berbasis kebutuhan, bukan nafsu konsumsi.

Tafsir Ibnu Katsir menyebut ayat ini sebagai peringatan: kerusakan setelah masa perbaikan adalah bencana paling berat. Bagi sebagian pemerhati, gambaran itu mirip kondisi ekologis Indonesia saat ini. Hutan yang pernah direstorasi kembali gundul, sungai yang sempat bersih kembali keruh, dan kota-kota mengalami banjir setelah reklamasi gagal mengantisipasi aliran air. Di beberapa provinsi, tutupan hutan merosot drastis meski program restorasi dijalankan. Ketimpangan antara perbaikan dan kerusakan terasa begitu lebar.

Penelitian BRIN mengenai degradasi lahan menyebut faktor utama kerusakan adalah perilaku manusia, baik individu maupun korporasi. Di titik ini, tafsir klasik dan sains modern bertemu: perbuatan manusialah yang mengawali bencana.

Dalam ayat itu, setelah larangan merusak, muncul perintah berdoa dan berbuat ihsan. Sebagian ahli melihatnya sebagai transisi dari etika spiritual ke tindakan konkret. Ihsan, yang dalam tradisi fikih dipahami sebagai berbuat baik secara optimal, dapat dibaca ulang sebagai etika ekologis: memperbaiki, merawat, dan tidak menimbulkan mudarat pada bumi. Banyak aktivis lingkungan menganggap etika ini sangat modern: mirip prinsip restorative ecology, yaitu memperbaiki ekosistem yang rusak agar kembali pulih.

Di tengah percepatan krisis iklim, narasi keagamaan seperti ini mendapatkan tempatnya kembali. Bukan untuk menggantikan sains, tetapi mengisi ruang batin manusia yang mungkin tidak dapat dibentuk oleh regulasi atau teknologi semata. Ilmu pengetahuan menguraikan sebab-akibat, sementara ajaran agama menawarkan motivasi dan kendali moral.

Krisis lingkungan tidak menunggu manusia berdebat. Banjir akan datang meski forum diskusi belum selesai. Hutan bisa habis meski seminar ekologi digelar berulang. Ayat kuno itu seakan hadir kembali sebagai peringatan: bumi yang sudah diperbaiki bisa rusak jika manusia kehilangan kompas moralnya.

Pertanyaannya kini lebih sederhana sekaligus lebih berat: apakah manusia modern, dengan seluruh perangkat teknologi dan ambisi pertumbuhannya, masih sanggup menahan diri agar tidak mengulang kesalahan yang sama?

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 04 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)