LANGIT7.ID-, Surabaya- - Momentum 10 hari terakhir Ramadhan dimanfaatkan banyak orang untuk berbuat kebaikan. Salah satunya dilakukan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) memberi santunan kepada 300 anak yatim, Minggu (31/3/2024).
Santunan anak yatim ini menjadi agenda tahunan Fakultas Ekonomi UWKS sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Kegiatan sosial ini bekerja sama dengan komunitas Pecinta Anak Yatim (PAY) Surabaya dan didukung beberapa pihak.
"Ini sebagai bentuk kepedulian kami, dunia kampus dengan anak anak yatim dan pihak yang kurang beruntung. Kebetulan momentumnya Ramadhan," kata Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FEB UWKS James Tumewu.
Baca juga:
Santri Digitalpreneur 2024 Harus Mampu Cetak Santri ModernSebanyak 300 anak yatim ini berasal dari sejumlah panti asuhan di Surabaya dan Sidoarjo. Acara juga diisi tausiah agama yang dibawakan Ustadz Sholeh dari Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI).
"Menyantuni anak yatim besar sekali pahalanya. Bahkan, barang siapa yang membahagiakan anak yatim akan berdampingan dengan Nabi Muhammad SAW kelak di surga," kata Sholeh.
Sholeh menerangkan, orang yang rela menyantuni anak yatim derajatnya akan tinggi di sisi Allah SWT.
Dia menceritakan, Rasulullah juga yatim. Karenanya, anak- anak yang ditakdirkan yatim atau dhuafa untuk tidak berkecil hati atau merasa sedih.
Ustadz muda ini juga memberi cerita kepada anak anak yatim tentang Sahabat Syakban. Dia adalah salah satu sahabat nabi. "Sahabat Syakban adalah contoh orang yang rajin salat di masjid. Bahkan dia rela jalan kaki selama tiga jam dari rumahnya ke masjid," ceritanya.
Meski begitu, Sahabat Syakban di akhir hayatnya masih merasa kurang dari apa yang dilakukan selama itu. Saat syakaratul maut, dia seperti mengigau, rumahnya kurang jauh lagi dari masjid setelah tahu.pahala orang yang berjalan kaki dari rumah ke masjid untuk beribadah.
Syakban juga dikenal rajin sedekah. Dikisahkan, dia mempunyai satu potong kue yang akan dimakan namun ada seorang pengemis datang. Roti tadi dipotong jadi dua. "Namun penyesalan datang setelah Syakban tahu betapa besar pahala orang sedekah. Mengapa roti tadi tak diserahkan semua kepada pengemis," sesal Syakban diceritakan oleh Sholeh
(ori)