LANGIT7.ID-, Jakarta- - Tiap perancang busana atau desainer fesyen memiliki ciri khas masing-masing. Biasanya ini yang menjadikan desain mereka otentik dan istimewa. Desainer Fenny Saptalia salah satunya, ia kerap menghadirkan cerita rakyat pada karya fesyennya.
Rancangan yang ditampilkan Fenny dengan brand sesuai namanya yaitu Fenny Saptalia, didominasi tema culture yang dikembangkan melalui digital printing. Sebab itu tagline yang dipilih adalah “our culture is our style”.
Saat ditemui di Jakarta Convention Center, Jakarta, beberapa waktu lalu Fenny menuturkan ia memiliki keyakinan sendiri soal penentuan tema tersebut. Visi dan misinya adalah ingin budaya Indonesia tidak lekang oleh waktu dan generasi muda terus bangga akan budaya dalam negri.
![Fenny Saptalia Hadirkan Cerita Rakyat Lewat Desain Fesyen]()
Untuk itu, Fenny ingin tidak hanya tema besar pada koleksinya melainkan selalu ada cerita di baliknya.
Sebagai contoh saat ia menelurkan koleksi yang diberi nama “Nan Elok”. Ide ini terinspirasi dari kisah Sabai Nan Aluih yang tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki kekuatan dan keberanian.
“Cerita Sabai Nan Aluih ini tentang perempuan Minang yang cantik, yang endingnya bisa angkat senjata untuk bela keluarganya. Untuk koleksi seri ini gaya yang mau saya tampilkan yaitu edgy, sporty dengan aksen Rumah Gadang. Lebih ke ‘storytelling’, itu yang kita masukan karena menurut saya di situ nilai plus-nya,” jelasnya.
![Fenny Saptalia Hadirkan Cerita Rakyat Lewat Desain Fesyen]()
Sesuai visinya yakni mengenalkan dan mengabadikan budaya asli Indonesia, Fenny menetapkan target marketnya untuk usia 25 ke atas. Namun tidak memungkiri bahwa koleksinya juga disukai oleh perempuan yang usianya lebih dari target tersebut.
“Banyak juga ibu-ibu yang berjiwa muda yang senang koleksi saya. Tidak apa-apa fashion itu dinamis. Yang jelas saya ingin kenalkan budaya Indonesia lewat fashion sebab tagline saya “our culture is our style.”
Untuk seri Nan Elok, ujar Fenny, kebanyakan yang jaid favorit adalah kemeja, hijab, rok, celana palazzo, dan outer. “Sepertinya mereka (cutomer) lebih suka sporty, karena saya pakai aksen tali-tali di bagian bawah.”
Sementara itu, seperti kebanyakan desainer lainnya, ada momen khusus dimana Fenny juga menyiapkan tema berbeda yaitu saat momen hari raya Idul Fitri.
Idul Fitri lalu desainer yang kerap mengenakan outer panjang ini meghadirkan koleksi “Crystal Line”. Ia mengungkapkan, koleksi ini bercerita tentang perempuan yang memiliki cahaya. “Gambarnya diambil dari bintang dan bentuk salju (kristal).”
Koleksi dari Crystal Line ini didominasi pada abaya dan dress. Namun ia juga menyiapkan top dan bawahan. Meski koleksi Lebaran, namun Crystal Line masih tersedia sampai sekarang.
Mundur ke belakang, mengingat bagaimana Fenny mengawali karier sebagai desainer, ternyata ia tidak langsung begitu saja sebagai desainer. Meski tak jauh dari dunia fesyen namun desainer yang terkenal dengan tema “culture” ini sebelumnya membuka jasa printing busana dan jahit. Berikut cerita perjalanan karier Fenny.
“Awalnya bukan (desain) fashion tapi lebih ke jasa printing dan buka jahitan. Dari situ berpikir, kita sudah punya semua kenapa nggak kita bikin sendiri. Akhirnya lahirnya (brand) Fenny Saptalia,” ungkapnya.
Outlet Fenny Saptalia bisa ditemukan di Sarinah, Jakarta, Jogja ada di L Mart, Yogyakarta, dan sejumlah market place. Brand ini juga menawarkan koleksi busana custom yang bisa disesuaikan dengan permintaan customer. “Silakan kontak admin, bisa nanti kita siapkan untuk size tertentu,” tukas Fenny.
(ori)