LANGIT7.ID-, Jakarta- - Setiap tahun, umat Muslim di Indonesia menyambut datangnya bulan Muharram dengan beragam tradisi dan keyakinan. Bulan pertama dalam kalender Hijriah ini, yang juga dikenal sebagai bulan Sura dalam kalender Jawa, sering kali diwarnai oleh berbagai persepsi dan praktik yang beragam di masyarakat.
KH Yahya Zainul Ma'arif, atau yang lebih dikenal sebagai Buya Yahya, baru-baru ini angkat bicara mengenai pandangan yang beredar seputar bulan Muharram. Dalam ceramahnya, ulama kharismatik ini menekankan pentingnya memahami makna sejati bulan Muharram dalam ajaran Islam.
"Muharram adalah bulan yang penuh berkah dan kemuliaan," tegas Buya Yahya dalam Youtube Al-Bahjah TV. Ia menepis anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan atau petaka. "Keyakinan seperti itu tidak memiliki dasar dalam ajaran agama kita," tambahnya.
Buya Yahya mengkritisi kepercayaan yang menganggap malam satu Suro sebagai malam keramat. Menurutnya, pandangan ini lebih mencerminkan sisa-sisa kepercayaan lama yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. "Semua hari adalah baik untuk beribadah. Yang membuat hari menjadi buruk adalah perbuatan maksiat kita sendiri," jelasnya.
Menariknya, bulan Muharram justru memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Nabi Muhammad SAW sendiri menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah pada bulan ini, terutama puasa. "Puasa di bulan Muharram adalah puasa terbaik setelah Ramadhan," ungkap Buya Yahya.
Lebih lanjut, Buya Yahya mengajak umat Muslim untuk memanfaatkan momentum Tahun Baru Hijriah ini dengan kegiatan-kegiatan positif. Ia menyarankan untuk mengadakan acara-acara keagamaan seperti tausiyah, pembacaan doa akhir dan awal tahun, serta memperbanyak shalat berjamaah di masjid.
Pandangan Buya Yahya ini sejalan dengan semangat Islam yang menekankan optimisme dan produktivitas. Alih-alih takut atau khawatir, umat Muslim didorong untuk menyambut bulan Muharram dengan penuh semangat dan harapan akan tahun yang lebih baik.
Di sisi lain, fenomena percampuran budaya lokal dengan ajaran Islam dalam memandang bulan Muharram juga menarik untuk dicermati. Bagi sebagian masyarakat Jawa, bulan Suro masih dianggap sebagai waktu yang sakral, diwarnai dengan berbagai ritual adat.
Namun, penting untuk memisahkan mana yang merupakan ajaran agama dan mana yang sekadar tradisi. Buya Yahya menekankan bahwa umat Islam tidak perlu takut dengan mitos-mitos seputar bulan Muharram. Sebaliknya, ini adalah kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan dan berbuat kebaikan.
Kesimpulannya, bulan Muharram seharusnya menjadi momen refleksi dan pembaruan spiritual bagi umat Muslim. Alih-alih terjebak dalam mitos dan ketakutan yang tidak berdasar, kita diajak untuk memanfaatkan bulan ini sebagai awal yang baik untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kehidupan kita.
(lam)