Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Bubur Asyura dan Tajin Sora: Warisan Renungan dalam Sepiring Tradisi

miftah yusufpati Senin, 30 Juni 2025 - 05:15 WIB
Bubur Asyura dan Tajin Sora: Warisan Renungan dalam Sepiring Tradisi
Di negeri yang begitu kaya akan tradisi kuliner spiritual ini, bubur bukan cuma bubur. Ia adalah tafsir. Ia adalah sejarah. Ia adalah doa yang tak diucapkan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Pada pagi yang lengang di Sumenep, aroma tajin sora mulai menguar dari dapur-dapur warga. Dimasak dalam panci besar, bubur berkuah ketan itu bukan sekadar panganan: ia adalah nyawa dari sebuah tradisi tua yang kembali hidup setiap bulan Sura—demikian orang Madura menyebut Muharam. Seperti sebuah kalimat pembuka dari kitab yang diwariskan turun-temurun, Tajin Sora hadir bukan untuk disantap semata, melainkan dibaca, ditafsirkan, dan direnungi.

Japarudin, peneliti budaya Islam Nusantara, menyebut dalam tulisannya, Tajin Sora menjadi lambang spiritualitas Madura dalam menyikapi Muharam—bulan yang secara tradisional dianggap “na’as”, bulan untuk menahan diri dan tidak bepergian jauh. “Merah menggambarkan darah Sayyidina Husein, putih melambangkan kesucian perjuangannya,” tulis Japarudin dalam esainya, yang kini kerap dikutip dalam diskusi kebudayaan Islam lokal.

Sebagaimana luka di Karbala, Tajin Sora membawa kita kepada tafsir yang lebih dalam. Tradisi ini bukan sekadar mengenang tragedi cucu Nabi Muhammad SAW, tapi menjadi jalan spiritual masyarakat Madura untuk menyelami makna kesetiaan, keikhlasan, dan penderitaan yang disucikan.

Baca juga: Agar Nggak Salah Paham, Muharram Bukan Bulan Hijrah Nabi Muhammad SAW

Jejak Tajin ke Tasikmalaya

Pindah ke jantung Priangan Timur, Tasikmalaya dan sebagian Garut merayakan 10 Muharam dengan cara serupa namun berbeda rasa. Di sana, dikenal bubur suro—pasangan bubur merah dan putih yang dimasak terpisah. Di pagi hari Asyura, penduduk membawa bubur ini ke masjid, disusun rapi bersama penganan lain, lalu duduk bersila dalam lingkaran yang dipimpin seorang sepuh.

Al-Barzanji pun dilantunkan. Lalu, kisah getir Husein bin Ali dibacakan, tak sekadar sebagai narasi sejarah tapi sebagai renungan kolektif. Setelah air mata tuntas mengalir—atau ditahan dalam diam—warga menyantap bubur bersama. Dalam kesederhanaan itulah, kekayaan budaya dan spiritualitas Jawa Barat bertumbuh: dalam keheningan, dalam kebersamaan, dalam ingatan yang tak ingin padam.

Kita berutang banyak pada Sultan Agung, Raja Mataram yang pada tahun 1633 M melakukan tindakan revolusioner dengan memadukan kalender Hindu-Jawa Saka dengan kalender Islam Hijriah. Maka lahirlah sistem penanggalan Jawa Islam, dan 1 Sura disepadankan dengan 1 Muharam.

Sultan Agung tidak hanya melakukan unifikasi waktu, tapi juga spiritualitas. Ia tahu, tradisi tak bisa dipaksa berpindah, tapi bisa dijembatani. Maka, malam 1 Sura bukan perayaan gaduh, melainkan saat untuk berziarah batin. Tahun baru disambut bukan dengan kembang api, melainkan doa-doa lirih dan bubur sederhana yang menyimpan jejak sejarah ribuan tahun.

Baca juga: Doa Asyura: Mengurai Harap di Tanggal 10 Muharram

Makna yang Tak Pernah Miskin

Entah di Madura dengan Tajin Sora-nya, atau di Priangan dengan Bubur Suro-nya, kisahnya nyaris serupa: bahwa makanan bisa jadi medium ingatan kolektif, bisa jadi perahu yang membawa kita melintasi zaman, menyusuri jejak para leluhur dan perjuangan para syuhada.

Di negeri yang begitu kaya akan tradisi kuliner spiritual ini, bubur bukan cuma bubur. Ia adalah tafsir. Ia adalah sejarah. Ia adalah doa yang tak diucapkan.

Dan seperti duka Karbala yang tak lekang ditelan waktu, Tajin Sora dan Bubur Suro adalah cara Nusantara menyentuh langit—lewat sendok, lewat rasa, lewat makna yang terus diaduk setiap tahun.


Baca juga: 7 Peristiwa Agung Para Nabi di Bulan Muharram


(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)