Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 24 Januari 2026
home masjid detail berita

Agar Nggak Salah Paham, Muharram Bukan Bulan Hijrah Nabi Muhammad SAW

miftah yusufpati Ahad, 29 Juni 2025 - 05:15 WIB
Agar Nggak Salah Paham, Muharram Bukan Bulan Hijrah Nabi Muhammad SAW
Muharram bukan bulan hijrah Nabi, melainkan awal tahun berdasarkan keputusan politik-kultural di masa Khulafaur Rasyidin. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Banyak yang mengira hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah terjadi di bulan Muharram. Sejarah berkata lain. Kalender Hijriyah justru lahir bertahun-tahun setelah hijrah itu sendiri.

Setiap 1 Muharram, umat Islam menyambut tahun baru Hijriyah. Doa bersama dibacakan, parade hijrah digelar, dan banyak yang meyakini: inilah momen Nabi Muhammad ﷺ berpindah dari Makkah ke Madinah. Tapi, benarkah hijrah itu terjadi di bulan Muharram?

Dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, juga dalam Ar-Raḥīq al-Makhtūm (Sirah Nabawiyah terbaik versi Rabithah Alam Islami), disebutkan dengan gamblang: Rasulullah ﷺ memulai perjalanan hijrahnya bukan pada bulan Muharram, melainkan Rabiul Awal.

Tanggalnya bahkan disebut secara pasti: 1 Rabiul Awal, malam Senin, tahun 1 Hijriah. Nabi keluar dari Gua Tsur setelah bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy. Delapan hari kemudian, beliau sampai di Quba, lalu pada 12 Rabiul Awal, beliau tiba di Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah.

Perjalanan ini bukan hanya perpindahan fisik, tapi juga simbolik: dari tekanan menuju kebebasan, dari dakwah sembunyi-sembunyi menuju pembentukan negara. Inilah fase kedua kenabian.

Baca juga: Abdul Mu’ti, Tiga Hal Pelajaran dari Hijrah Nabi dalam Membangun Peradaban

Hijrah Bukan Muharram

Lalu, mengapa umat Islam mengawali kalender Hijriah dengan bulan Muharram?

Keputusan itu muncul hampir dua dekade setelah peristiwa hijrah. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, tahun ke-17 Hijriah, umat Islam mulai menggunakan penanggalan resmi. Sebelumnya, dokumen hanya diberi tahun tanpa bulan. Khalifah Umar pun berkonsultasi dengan sahabat-sahabat senior, termasuk Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Mereka sepakat menjadikan hijrah sebagai titik nol sejarah Islam—bukan kelahiran atau wafat Nabi. Lalu dipilihlah bulan Muharram sebagai awal tahun. Alasannya, menurut sebagian sejarawan, karena Muharram adalah bulan setelah umat Islam pulang dari haji. Sebuah titik awal spiritual yang segar, pas untuk memulai kalender baru.

Dari situlah kalender Hijriyah dimulai. Tapi bukan berarti peristiwa hijrah itu terjadi di bulan itu. Penetapan awal tahun dan momen hijrah adalah dua hal yang berbeda.

Meski begitu, narasi bahwa hijrah terjadi di bulan Muharram sudah terlanjur melekat di masyarakat. Media sosial, ceramah agama, hingga buku-buku pelajaran sekolah menuliskannya begitu. Padahal, sejarah punya catatan berbeda.

Koreksi terhadap kesalahpahaman ini penting. Bukan untuk membongkar keimanan, tapi untuk menyempurnakan pemahaman.

“Rasulullah ﷺ hijrah pada bulan Rabiul Awal, bukan Muharram,” tulis Ibnu Hisyam, yang menukil dari Abdullah bin Ishaq al-Muthallibi, sejarawan Muslim awal yang dikenal akurat dalam meriwayatkan kisah Nabi.

Baca juga: Kisah An-Najasyi, Penolong Umat Islam yang Hijrah ke Negeri Habasyah

Ketika tiba di Madinah, Nabi Muhammad ﷺ tidak langsung mengangkat senjata. Ibnu Ishaq mencatat bahwa selama satu tahun pertama—dari Rabiul Awal hingga bulan berikutnya—beliau tidak terlibat perang apa pun.

Rasulullah ﷺ menghabiskan waktu untuk membangun masyarakat baru: mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, membentuk struktur negara, menyusun piagam Madinah sebagai konstitusi yang memuat hak dan kewajiban warga lintas agama.

Ini menunjukkan bahwa hijrah bukan tentang pelarian, tapi transformasi sosial. Sebuah momen strategis yang melahirkan peradaban.

Kalender Hijriyah: Dari Konvensi Kabilah ke Sistem Negara

Kalender Hijriyah sendiri punya akar jauh sebelum Islam. Sejak tahun 412 M, masyarakat Arab telah menggelar konvensi antar kabilah untuk menyepakati nama-nama bulan, dari Muharram hingga Dzulhijjah. Tapi, mereka belum menetapkan mana bulan pertama atau membuat sistem penanggalan terstruktur.

Baru pada masa Umar bin Khattab, sistem penanggalan Islam disusun. Kalender Hijriyah, atau Qamariyah, berbeda dengan Masehi yang berbasis matahari. Karena mengikuti siklus bulan, satu tahun Hijriyah berjumlah sekitar 354 hari—lebih pendek 10-11 hari dari tahun Masehi.

Baca juga: Berhijrah Demi Ketenangan: Sana Khan Ungkap Alasan Tinggalkan Dunia Artis

Keputusan Umar bin Khattab itu bukan hanya soal administrasi, tapi juga simbol pembentukan identitas baru umat Islam yang kini tak lagi berada di bawah bayang-bayang kalender Romawi atau Persia.

Maka, penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa Muharram bukan bulan hijrah Nabi, melainkan awal tahun berdasarkan keputusan politik-kultural di masa Khulafaur Rasyidin. Sedangkan hijrah Nabi Muhammad ﷺ secara historis terjadi di bulan Rabiul Awal, dalam perjalanan sunyi dari Makkah ke Madinah—sebuah perjalanan yang mengubah arah sejarah dunia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 24 Januari 2026
Imsak
04:22
Shubuh
04:32
Dhuhur
12:08
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan