Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 24 Januari 2026
home masjid detail berita

Tahun Baru 2026: Satu Hari Satu Tanggal, Ikhtiar Mengakhiri Anarki Waktu

miftah yusufpati Selasa, 30 Desember 2025 - 06:00 WIB
Tahun Baru 2026: Satu Hari Satu Tanggal, Ikhtiar Mengakhiri Anarki Waktu
Penerapan KHGT adalah sebuah proklamasi kemajuan intelektual. Ilustrasi: Ist

LANGI7.ID- Ketika fajar menyingsing pada Kamis, 1 Januari 2026, dunia tidak terjebak dalam perdebatan kapan jatuhnya Tahun Baru. Tidak ditemukan polemik lintas mazhab yang menguras energi umat, tidak ada ketegangan antarnegara yang memicu kecurigaan tiap-tiap warga. Penduduk di Sao Paulo, Riyadh, Tokyo, Jakarta, hingga Accra mungkin tidak serempak dalam hitungan detik saat merayakan pergantian tahun, tetapi seluruhnya menyebut hari itu dengan satu nama yang sama. Kamis tetap Kamis. Tanggal tetap satu di seluruh penjuru planet. Sama sekali tidak ada perbedaan.

Kesepakatan ini bukan hasil dari musyawarah global yang baru saja digelar semalam. Tidak ada lembaga dunia yang setiap tahun harus berkeringat dingin memutuskan ulang apakah 1 Januari akan jatuh pada hari Kamis atau Jumat. Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak pernah merasa perlu melakukan sidang isbat hanya untuk menentukan kapan tahun baru dimulai. Dunia modern telah lama mafhum bahwa waktu sosial mustahil dikelola secara lokal. Sejak revolusi pertanian hingga era satelit, perdagangan global dan jaringan internet memaksa manusia menyatukan definisi hari.

Namun, pemandangan kontras terjadi pada kalender Islam. Selama berabad-abad, umat terjebak dalam situasi unik di mana satu tanggal bisa memiliki hari yang berbeda di seluruh dunia. Tanggal 1 Ramadan dapat hadir pada hari yang berbeda antara New York, Riyadh, dan Jakarta. Fenomena ini, yang dalam istilah pemikiran modern sering disebut sebagai skizofrenia waktu, lahir dari keterikatan pada rukyatul hilal sebagai fenomena lokal. Di sinilah Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mencoba melakukan lompatan peradaban.

Secara konseptual, KHGT berdiri di atas asumsi bahwa satu hari hanya memiliki satu tanggal bagi seluruh penghuni bumi. Logika ini sejalan dengan cara kerja sistem global lainnya. Bayangkan seseorang di Jakarta menonton pertandingan Liga Champions antara Barcelona melawan Chelsea di London yang dijadwalkan Kamis malam waktu setempat. Penonton di Indonesia memahami mereka menontonnya pada Jumat dini hari, namun pertandingan tetap dicatat secara administratif sebagai Kamis, 23 April 2026. Perubahan hanya terjadi pada jam lokal, bukan pada identitas hari dan tanggal peristiwa.

Upaya penyatuan ini didorong oleh argumen teologis dan sains yang kuat. Dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah, ditegaskan bahwa Al-Quran berbicara tentang keteraturan kosmos dan perhitungan waktu sebagai sunnatullah (QS Yasin: 39-40). Hisab bukan sekadar alat bantu, melainkan metode yang memberikan kepastian hukum (legal certainty). Penggunaan hisab memungkinkan perencanaan jauh ke depan, serupa dengan jadwal waktu salat yang sepenuhnya bergantung pada perhitungan astronomis tanpa menunggu pengamatan harian terhadap matahari.

Penopang utama KHGT adalah prinsip kesatuan matlak. Seluruh permukaan bumi dipandang sebagai satu kesatuan astronomis. Dalam buku Membumikan Al-Quran karya M. Quraish Shihab, disebutkan bahwa keterbatasan pengetahuan manusia seringkali membuat mereka terjebak pada iring-iringan bayangan yang tidak diketahui. KHGT mencoba menyingkap bayangan itu dengan parameter global. Bulan baru tidak dimulai sebelum imkanu rukyat (prediksi terlihatnya hilal) terjadi di suatu tempat di muka bumi, khususnya di kawasan barat. Hasil ini kemudian diberlakukan ke seluruh wilayah melalui prinsip transfer imkanu rukyat.

Thomas Djamaluddin dalam berbagai karya ilmiahnya mengenai sistem kalender sering menyinggung bahwa kriteria keberlanjutan kalender memerlukan kesepakatan otoritas dan kriteria astronomis yang mapan. Muhammadiyah mengambil langkah berani dengan menyatakan bahwa keumuman hadis tentang perintah berpuasa karena melihat hilal ditujukan kepada umat secara keseluruhan (khithab am), bukan terbatas pada batas geografis politik negara tertentu. Dengan demikian, dunia dipahami sebagai satu matlak ibadah.

Secara makro-sejarah, KHGT adalah respons terhadap realitas peradaban yang telah lama terhubung. Manusia mampu menyepakati hari Kamis secara universal, maka adalah sebuah ironi jika mereka kesulitan menyepakati tanggal pertama puasa secara bersama. Persoalannya bukan lagi sekadar teologis, melainkan teknis dan konseptual. Peradaban global membutuhkan jangkar yang stabil. Sebagaimana Kamis, 1 Januari 2026 diterima tanpa perdebatan, KHGT berusaha menempatkan umat Islam dalam logika sejarah yang sama.

Langkah ini mungkin terasa radikal bagi sebagian pihak yang masih memegang teguh tradisi lokalitas. Namun, merujuk pada pemikiran Nurcholish Madjid dalam Islam Doktrin dan Peradaban, dinamika sejarah seringkali menuntut penyesuaian metodologis agar agama tetap fungsional bagi masyarakat. KHGT bukan sekadar soal kalender, melainkan soal bagaimana umat Islam mendefinisikan posisi mereka di tengah dunia yang makin mengecil. Pada akhirnya, terbenam matahari dan terbit fajar akan selalu berbeda di tiap lokasi, namun identitas waktu harus tetap satu demi keteraturan peradaban.

Penerapan KHGT adalah sebuah proklamasi kemajuan intelektual. Ia membawa pesan bahwa Islam tidak bertentangan dengan sains dan keteraturan global. Ini adalah penyesuaian yang mungkin datang sedikit terlambat, namun sangat krusial untuk mengakhiri kebingungan tahunan yang selama ini menguras energi umat. Sejarah akan mencatat apakah langkah ini mampu menjadi solusi permanen atau tetap menjadi oase intelektual di tengah padang perbedaan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 24 Januari 2026
Imsak
04:22
Shubuh
04:32
Dhuhur
12:08
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan