Muhammadiyah mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal untuk menyatukan waktu ibadah dunia. Menggunakan hisab dan kesatuan matlak, upaya ini bertujuan menyelaraskan kalender Islam dengan realitas global.
Kementerian Agama mengumumkan hilal awal Rabiul Akhir 1447 H berhasil teramati di berbagai titik di Indonesia. Keberhasilan rukyatulhilal ini membuktikan akurasi hisab dan dukungan teknologi modern dalam penetapan awal bulan hijriah.
Banyak yang mengira hijrah Nabi Muhammad ? ke Madinah terjadi di bulan Muharram. Sejarah berkata lain. Kalender Hijriyah justru lahir bertahun-tahun setelah hijrah itu sendiri.
Secara sistemik, tidak ada perbedaan antara 1 Muharram dan 1 Suro. Keduanya mengacu pada kalender qamariahsistem penanggalan berbasis perputaran bulan.
Dari mimbar ke mimbar, dari ruang digital hingga majelis ilmu, bulan ini kembali dihidupkan dengan seruan amal saleh, tobat, dan puasa sunnahterutama pada hari Tasua (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram).
Muhammadiyah resmi mencatatkan babak baru dalam sejarah penanggalan Islam. Dengan penuh khidmat dan gegap gempita, organisasi Islam tertua di Indonesia ini memperkenalkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
KHGT bukan sekadar proyek Muhammadiyah. Ia ditujukan untuk umat Islam global. Dengan KHGT, umat bisa punya sistem waktu yang konsisten dan terukurbukan berdasarkan rukyat subjektif atau keputusan politik.
Ketika Mahkamah Agung Saudi menerima laporan rukyat dari Tamir pada Selasa malam, 27 Mei 2025, keputusan cepat menyusul: 28 Mei ditetapkan sebagai awal Dzulhijjah.
Dalam kalender Hijriah, Idul Adha jatuh pada 10 Zulhijah 1446 H. Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 10 Zulhijah 1446 H jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025 M.
Gus Baha membongkar kesalahpahaman tentang NU-rukyat dan Muhammadiyah-hisab. Kedua metode penentuan awal bulan ini sama pentingnya dalam Islam, didukung dalil Al-Quran dan tradisi ulama. Simak penjelasan lengkap dari pengasuh Ponpes Rembang ini.