LANGIT7.ID--Di sebuah padang pasir
Abu Dhabi yang gersang, lensa teleskop di
Al Khatm Astronomical Observatory mengarah ke langit pagi yang nyaris kosong. Pada pukul 11:00 waktu setempat, tanggal 27 Mei 2025, seberkas lengkung tipis bulan muda tertangkap kamera. Gambar itu — samar, pucat, nyaris tidak kasatmata — bukan sekadar fenomena langit. Ia adalah penanda waktu suci: permulaan
bulan Dzulhijjah 1446 Hijriah, bulan haji, dan pelabuhan waktu menuju
Hari Raya Kurban.
Tapi sebagaimana tiap tahun, kisah awal bulan ini tak pernah hanya soal kalkulasi astronomi. Ia selalu tentang mata dan keyakinan, tentang saksi mata dan kesaksian, tentang bagaimana langit diterjemahkan oleh bumi—terutama di dunia Muslim yang tak seragam dalam menyikapi bulan sabit pertama.
Arab Saudi Menjadi SentralSebagaimana tradisi yang sudah berlangsung sejak masa Kekhalifahan,
Arab Saudi tetap menjadi referensi utama bagi mayoritas dunia Islam.
Ketika Mahkamah Agung Saudi menerima laporan rukyat dari Tamir pada Selasa malam, 27 Mei 2025, keputusan cepat menyusul: 28 Mei ditetapkan sebagai awal Dzulhijjah. Dengan begitu, Hari Arafah jatuh pada Kamis, 5 Juni, dan
Idul Adha pada Jumat, 6 Juni.
Baca juga: Resmi! Arab Saudi Umumkan Tanggal Idul Adha 2025 dan Jadwal Haji Lengkap Keputusan Saudi itu dengan cepat diikuti oleh negara-negara teluk lainnya: Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan bahkan komunitas Muslim di Australia yang merujuk pada keputusan Saudi secara langsung. “Kita mengikuti kalender haji, dan kiblat haji adalah Makkah,” kata Grand Mufti Australia lewat pernyataan resminya.
Bulan, Awan, dan Perbedaan WaktuNamun tak semua negara bisa menyaksikan bulan sabit secara bersamaan. Pakistan, Brunei, Malaysia, dan sebagian wilayah Indonesia tidak berhasil melihat hilal pada malam yang sama. Alasannya bermacam-macam: dari usia bulan yang terlalu muda hingga langit yang mendung atau berdebu.
Di Pakistan, SUPARCO — badan antariksa nasional — menyebut bahwa meski bulan telah lahir secara astronomis, usianya yang masih sangat muda serta kondisi atmosfer tidak memungkinkan pengamatan visual.
Akibatnya, negara-negara ini menetapkan awal Dzulhijjah pada 29 Mei, sehingga Idul Adha jatuh pada Sabtu, 7 Juni 2025. Perbedaan satu hari dalam perayaan ini adalah hal lazim dalam dunia Islam, tapi tetap menyisakan percikan polemik. Haruskah dunia Islam bersatu dalam satu kalender? Ataukah keberagaman dalam penentuan waktu suci adalah bagian dari pluralitas yang harus dijaga?
Baca juga: Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1446 H Jatuh pada 6 Juni Astronomi vs. KesaksianDari sisi ilmiah, hilal sebenarnya bisa dihitung dan diprediksi dengan cukup akurat. Di Abu Dhabi, misalnya, para astronom mencatat bahwa pada tanggal 27 Mei, bulan akan berumur sekitar 13 jam saat matahari terbenam dan memiliki elongasi sekitar 7,7 derajat, cukup untuk terlihat melalui teleskop.
Namun, di banyak negara, termasuk Indonesia, kesaksian mata tetap menjadi penentu sah tidaknya awal bulan. Pemerintah menggelar sidang isbat, mendengar laporan dari para saksi yang melihat bulan dengan mata kepala mereka.
Di masa kini, perdebatan antara pendekatan hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan visual) tak kunjung selesai. “Ini bukan sekadar soal sains,” kata seorang ahli falak dari NU. “Ini juga soal tradisi, soal legitimasi sosial dan agama.”
Terlepas dari kapan persisnya umat Islam merayakan Idul Adha tahun ini, maknanya tetap sama: sebuah peringatan tentang kepatuhan, pengorbanan, dan solidaritas sosial. Saat hewan kurban disembelih dan dagingnya dibagi, simbol ketakwaan itu tak banyak berubah sejak masa Nabi Ibrahim.
Namun kini, dengan bantuan teleskop canggih dan pengolahan data astronomi real-time, umat Islam berada dalam persimpangan: tetap memelihara tradisi lisan atau bergerak menuju kepastian sains?
Yang pasti, setiap tahun umat Islam menengadahkan kepala ke langit dengan harap dan hormat yang sama. Menunggu hilal yang tipis, yang menentukan kapan masa suci dimulai — dan kapan sebuah dunia bersiap untuk berkurban.
Baca juga: Mau Kurban Idul Adha 2025? Ini 14 Titik Gerai BAZNAS Termudah di Jabodetabek(mif)