Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 24 Januari 2026
home masjid detail berita

Ketika Muharram Menjadi Cermin Peradaban dan Jalan Sunyi Pembaruan Diri

miftah yusufpati Rabu, 25 Juni 2025 - 17:00 WIB
Ketika Muharram Menjadi Cermin Peradaban dan Jalan Sunyi Pembaruan Diri
Kalender Hijriah bukan hanya sistem waktu, tapi sistem makna. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Tahun Baru 1447 Hijriah jatuh pada 27 Juni 2025. Di tengah gegap gempita target duniawi dan resolusi tahunan ala kalender Masehi, umat Islam diingatkan untuk kembali menengok Muharram—bukan sekadar pergantian tanggal, melainkan momentum membuka pintu hidup baru dalam bingkai penghambaan.

Dari mimbar ke mimbar, dari ruang digital hingga majelis ilmu, bulan ini kembali dihidupkan dengan seruan amal saleh, tobat, dan puasa sunnah—terutama pada hari Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram).

Namun di sinilah warisan Rasulullah SAW diuji: akankah sunnah yang penuh makna spiritual ini dirawat secara istikamah oleh umat? Ataukah hanya menjadi narasi yang berulang saban tahun, tanpa transformasi nyata dalam laku?

Muharram bukan bulan sembarangan dalam kalender Islam. Ia adalah satu dari empat bulan haram—masa sakral yang dimuliakan dan diharamkan untuk berperang, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Tapi Muharram mendapat posisi istimewa dalam sabda Nabi:

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Baca juga: 6 Amalan Dianjurkan untuk Umat Islam pada Muharram

Dalam hadis ini, Muharram disebut sebagai “Syahrullah”—bulan Allah. Sebuah kehormatan linguistik yang tidak diberikan pada bulan lain. Isyarat bahwa Muharram bukan sekadar halaman awal dalam kalender, melainkan panggung pembuka bagi perjalanan ruhani: taubat, niat murni, dan penguatan hubungan spiritual dengan Ilahi.

Tanggal 10 Muharram atau Asyura menjadi titik sentral ibadah di bulan ini. Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah dan melihat kaum Yahudi berpuasa memperingati selamatnya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun, beliau bersabda:

“Kami lebih berhak atas Musa daripada mereka.”

Sejak saat itu, puasa Asyura disyariatkan sebagai ibadah sunnah yang sarat makna sejarah dan spiritual. Bahkan Nabi menjanjikan:

“Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Tawaran yang luar biasa. Tapi seperti semua ibadah, niat dan kesungguhan tetap menjadi penentu utama: apakah puasa ini hanya rutinitas, atau benar-benar alat penyucian jiwa.

Dalam sebuah riwayat, para sahabat bahkan mengajak anak-anak mereka ikut berpuasa Asyura. Saat lapar mulai menyerang, para ibu membuatkan mainan dari kain agar anak-anak tetap terhibur sampai waktu berbuka.

Tradisi ini menyiratkan bahwa ibadah bukan sekadar urusan individu, tapi bagian dari budaya yang diwariskan, dijaga, dan ditanamkan sejak dini. Asyura bukan hanya ritual, tapi pendidikan ruhani yang hidup dalam suasana keluarga dan komunitas.

Baca juga: Niat Puasa Tasua Asyura di Muharram Sekaligus Jadwal dan Keutamaannya

Lantas, kapan sebaiknya puasa Asyura dilaksanakan?

- Tiga hari (9, 10, dan 11 Muharram): Pandangan Ibnu Qayyim, sebagai bentuk kehati-hatian dan kesempurnaan mengikuti sunnah.
- Dua hari (9 dan 10): Berdasarkan hadis Nabi, “Jika aku masih hidup tahun depan, aku akan puasa pada hari kesembilan.”
- Satu hari (10 Muharram saja): Sah, meski sebagian ulama menganggap kurang sempurna karena menyerupai praktik kaum Yahudi.

Ibn Utsaimin menilai tidak makruh, sebab maksud Nabi menyelisihi Yahudi adalah anjuran keutamaan, bukan larangan mutlak. Di sinilah fiqih membuka ruang dialog, bukan untuk memperdebatkan pahala, tapi memperkaya cara menggapainya.

Ketika kementerian merancang agenda tahunan dan pemerintahan sibuk dengan program kerja, Muharram kerap hanya dirayakan secara simbolis. Euforia tahun baru Hijriah kalah nyaring dibanding pesta malam tahun baru Masehi.

Padahal, Muharram bukan seremonial, tapi ruang transformatif. Ia bukan soal mengganti kalender di dinding, tapi mengganti orientasi hidup: dari lalai menjadi sadar, dari ego menjadi taat, dari dunia menuju akhirat.

Baca juga: Keutamaan Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Hijrah Nabi ke Madinah yang menjadi patokan kalender Islam bukan sekadar perpindahan geografis, tapi transformasi peradaban: dari ketertindasan menuju tatanan yang adil.

Tahun Baru Hijriah seharusnya menjadi titik hijrah pribadi—dari dosa menuju tobat, dari hawa nafsu menuju kesadaran, dari kesementaraan menuju yang kekal.

Puasa Asyura, dalam konteks ini, menjadi jalan jihad spiritual: melawan diri sendiri.

Ketika media sosial ramai dengan ucapan “Selamat Tahun Baru Hijriah”, maka pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa tahun ini dimulai?

Jika jawabannya adalah untuk menjadi lebih baik, maka Muharram telah memberi petunjuknya: dengan puasa, tobat, dzikir, amal saleh, dan niat memperbaiki diri.

Karena sejatinya, kalender Hijriah bukan hanya sistem waktu, tapi sistem makna. Ia bukan sekadar menghitung hari, tapi mengarahkan langkah. Dan Muharram bukan hanya permulaan angka, melainkan undangan untuk memulai hidup baru—dalam cahaya wahyu dan jejak Rasulullah SAW.

Baca juga: Bulan Muharram: Antara Mitos dan Keutamaan dalam Islam

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 24 Januari 2026
Imsak
04:22
Shubuh
04:32
Dhuhur
12:08
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan