LANGIT7.ID-Di tengah kewajiban kolektif menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh, Islam menyimpan sebuah rahasia yang sering kali luput dari amatan sekilas: fleksibilitas yang luar biasa. Puasa Ramadhan, meski merupakan rukun Islam yang sangat fundamental, tidak dirancang sebagai beban yang menghimpit. Di balik instruksi yang mewajibkan, terdapat pintu-pintu darurat yang terbuka lebar bagi mereka yang terhalang oleh kondisi kemanusiaan yang nyata.
Persoalan ini dibedah secara filosofis dan teologis dalam buku Meraih Puasa Sempurna, yang diterjemahkan dari kitab Ash Shiyaam, Ahkaam wa Aa daab karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath Thayyar. Dalam buku terbitan Pustaka Ibnu Katsir tersebut, Dr. Ath Thayyar memberikan catatan tajam mengenai perbedaan mendasar antara hukum buatan manusia dengan hukum buatan Tuhan.
Jika produk hukum manusia sering kali terjebak dalam kekurangan, kebengkokan, dan ketidakteraturan, maka hukum Tuhan datang dengan pemahaman yang utuh terhadap unsur kelemahan makhluk-Nya.
Dr. Ath Thayyar menjelaskan bahwa kemudahan dan toleransi Islam meresap ke seluruh nadi syariatnya. Pondasi dasarnya bukanlan pemaksaan, melainkan pemberian keringanan serta peniadaan kesulitan. Hal ini dilakukan untuk meluruskan kebengkokan hidup tanpa harus meremukkan pelakunya. Syariat Islam justru mengungguli syariat samawi terdahulu dalam aspek tidak membebani pemeluknya dengan hal-hal yang berada di luar batas kemampuan mereka.
Landasan utama dari prinsip ini merujuk pada dalil peniadaan kesulitan yang termaktub dalam Al Quran Surah Al Hajj ayat 78:
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍDan Dia sekali kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.Ayat ini, menurut interpretasi Ath Thayyar, menjadi kompas bagi lima bagian besar nash yang membahas kemudahan dalam Islam. Dalam konteks puasa, kesempitan yang ditiadakan itu meliputi berbagai keadaan yang secara manusiawi membuat seseorang tidak mampu menjalankan ibadah secara normal. Kelompok seperti orang yang sedang sakit, musafir dalam perjalanan jauh, wanita hamil, ibu menyusui, hingga kaum lanjut usia yang fisik mereka tak lagi bugar, menempati ruang khusus dalam ijtihad para ulama dunia.
Secara interpretatif, alasan-alasan yang membolehkan seseorang tidak berpuasa bukan merupakan bentuk pengabaian terhadap perintah Tuhan. Sebaliknya, mengambil keringanan (rukhsah) tersebut justru merupakan bentuk ketaatan terhadap instruksi Tuhan lainnya yang memerintahkan manusia untuk menjaga keselamatan jiwanya. Islam memandang bahwa kehidupan manusia jauh lebih berharga daripada pelaksanaan formalitas ibadah yang dipaksakan di tengah penderitaan fisik yang ekstrem.
Kajian dalam buku Dr. Ath Thayyar ini mengingatkan kita semua bahwa keberagamaan yang sehat adalah keberagamaan yang mampu menyeimbangkan antara disiplin spiritual dan empati kemanusiaan. Di tengah hiruk pikuk kehidupan Jakarta pada Februari 2026 ini, pesan mengenai kemudahan Islam menjadi pengingat bahwa agama hadir sebagai solusi, bukan sebagai beban tambahan bagi jiwa-jiwa yang sedang mengalami kesulitan.
(mif)