Dalam suasana bulan Muharram ini, terdapat tiga pilar utama yang saling berkaitan dalam memahami momentum penanggalan Islam, yaitu esensi hijrah, historiografi penamaan kalender, dan kemuliaan bulan Muharram itu sendiri.
Momentum pergantian tahun Hijriah ini menjadi saat yang tepat bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah, memperbanyak ibadah, dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Di tengah suasana transisi sosial dan politik, Rasulullah SAW mendapat satu kabar yang menggetarkan batinnya: putri kesayangannya, Fatimah, telah dilamar.
Tradisi yang hidup di tengah masyarakat Indonesia ini tidak berasal dari syariat yang baku, namun berakar pada spirit kepedulian dan cinta kasih kepada mereka yang kehilangan pelindung.
Nabi Yunus dihukum karena marah dan meninggalkan kaumnya. Dalam gelap lautan, gelap malam, dan gelap perut ikan, ia belajar bahwa pengampunan Allah lebih besar daripada rasa kecewa manusia.
Banyak yang mengira hijrah Nabi Muhammad ? ke Madinah terjadi di bulan Muharram. Sejarah berkata lain. Kalender Hijriyah justru lahir bertahun-tahun setelah hijrah itu sendiri.
Dari mimbar ke mimbar, dari ruang digital hingga majelis ilmu, bulan ini kembali dihidupkan dengan seruan amal saleh, tobat, dan puasa sunnahterutama pada hari Tasua (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram).
Bulan Muharram memiliki hari-hari yang sangat mulia bagi umat Islam. Di antaranya, ada dua amalan khusus yang sangat dianjurkan, yaitu puasa hari Tasua dan Asyura, atau puasa pada 9 dan 10 Muharram
Sebanyak 357 anak yatim tak dapat menyembunyikan rasa bahagia. Wajah mereka berseri-seri ketika bersalaman dengan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag