LANGIT7.ID-Bermula dari langit Indonesia,
Muhammadiyah kini menatap cakrawala dunia. Upaya penyatuan kalender Hijriah global tidak hanya soal tanggal, tapi soal kesatuan umat.
Di langit-langit diskusi umat Islam modern, satu pertanyaan kuno terus bergema: mengapa umat yang satu ini masih berselisih soal satu tanggal yang sama?
Pada satu sisi bumi,
Idulfitri jatuh pada hari Senin. Di sisi lain, Selasa. Di Indonesia sendiri, tidak jarang ada tiga versi: pemerintah, Muhammadiyah, dan
Nahdlatul Ulama. Perbedaan itu acap kali dibungkus dengan istilah “rahmat”, tapi bagi banyak umat, yang tersisa hanyalah kebingungan.
Adalah
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), jawaban yang kini ditawarkan Muhammadiyah. Lebih dari sekadar sistem penanggalan, KHGT adalah proyek unifikasi waktu Islam global yang digodok selama hampir dua dekade dan akan diterapkan penuh mulai 1 Muharam 1447 H, atau bertepatan dengan pertengahan tahun 2025 M.
Baca juga: Kuatnya Paham Rukyat Literal dan Matlak Lokal Menyebabkan Konsep KHGT Tak Diterima Ijtihad Langit-Langit GlobalBagi Muhammadiyah, KHGT bukan sekadar inovasi. Ia adalah ijtihad besar yang berakar dari keprihatinan mendalam atas disintegrasi waktu dalam kehidupan umat Islam. “Upaya pergeseran ke KHGT ini merupakan lompatan ijtihad Muhammadiyah dalam menjawab kebutuhan akan kepastian dan ketepatan ibadah yang bersifat global,” ujar Maskufa, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dalam salah satu pengajian Pimpinan Pusat.
KHGT lahir dari proses panjang. Simposium internasional bertajuk “The Effort Toward Unifying the Islamic International Calendar” tahun 2007 menjadi fondasi awal.
Dalam Muktamar ke-47 di Makassar (2015) dan Muktamar ke-48 di Surakarta (2022), Muhammadiyah menegaskan sikap: kalender Islam tidak boleh lagi bersifat lokal. Ia harus satu untuk semua.
Muhammadiyah mengadopsi parameter Istanbul 2016, hasil Kongres Internasional Penyatuan Kalender Hijriah yang dihadiri ulama dan astronom dari lebih 60 negara.
Parameternya cukup teknis namun penting: imkan rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) dengan ketinggian minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat di seluruh muka bumi sebelum pukul 00.00 UTC.
Yang revolusioner adalah prinsipnya: satu hari, satu tanggal untuk seluruh dunia. Tidak ada lagi Arafah yang berbeda waktunya dengan puasa Arafah. Tidak ada lagi Idulfitri yang terpecah karena perbedaan horizon.
Baca juga: Mengapa Muhammadiyah Menetapkan Idulfitri 1446 H Tak Mengacu KHGT? Dari Wujudul Hilal ke KHGTSejak 1932, Muhammadiyah menganut Hisab Hakiki Wujudul Hilal, metode hisab berbasis fakta astronomis dan prinsip eksistensi bulan baru, tak peduli apakah ia terlihat atau tidak. Tapi metode ini tetap berakar lokal, sesuai posisi geografis Indonesia.
Perbedaan penentuan awal bulan—terutama Ramadan, Syawal, dan Zulhijah—terus terjadi, meskipun masing-masing metode punya dalil, dalih, dan basis ilmu tersendiri.
KHGT datang dengan pendekatan berbeda. Ia menggabungkan sains, fiqh, dan strategi geopolitik Islam. Muhammadiyah tak lagi bicara lokal. Mereka bicara “ummatan wahidatan”, satu umat, satu kalender.
"Adalah aneh sebuah peradaban yang telah berusia lebih dari 1400 tahun tapi belum punya kalender pemersatu," ujar seorang akademisi dalam salah satu halaqah KHGT di Yogyakarta.
Baca juga: Keputusan Muhammadiyah tentang Idulfitri 1446 H Tidak Mengacu KHGT Jalan Terjal KonsolidasiTak mudah menyatukan langit. Muhammadiyah menyadari itu. Sosialisasi KHGT dilakukan ke berbagai kampus dan wilayah: dari UMSU di Medan, UMM di Makassar, UM Mataram, hingga UAD di Yogyakarta.
Kajian demi kajian digelar. Focus Group Discussion dilaksanakan. Istilah KHGT sendiri baru mengerucut dan disahkan dalam Munas Tarjih ke-32 di Pekalongan tahun 2024. Sebelumnya, istilah itu sempat diperdebatkan: apakah “Global Tunggal” atau “Global Terpadu”? Akhirnya, yang dipilih adalah "Tunggal".
Namun implementasinya harus bijak. Maka pada 22 Januari 2025, Pimpinan Pusat Muhammadiyah memutuskan: masa sosialisasi diperpanjang. KHGT akan mulai diterapkan awal Muharam 1447 H, bukan di tengah tahun 1446 H agar tak menimbulkan kekacauan seperti yang terjadi di Malaysia saat “Raya Kalut” tahun 2022.
Keputusan ini diambil bukan karena ragu, tetapi demi kemaslahatan umat. Muhammadiyah tidak ingin mengulang pengalaman pahit implementasi kriteria MABIMS (3, 6.4) yang dinilai “terburu-buru”.
Baca juga: Dalil Mengapa NU Menolak Penerapan Kalender Hijriah Global TunggalKontribusi Umat untuk DuniaKHGT bukan sekadar proyek Muhammadiyah. Ia ditujukan untuk umat Islam global. Dengan KHGT, umat bisa punya sistem waktu yang konsisten dan terukur—bukan berdasarkan rukyat subjektif atau keputusan politik.
Dari Indonesia, Muhammadiyah menawarkan solusi global: sistem waktu Islam berbasis ijtihad modern, teknologi, dan kesepakatan internasional. Ini bukan sekadar kalender, tapi waktu yang mempersatukan perbedaan, bukan memperbesar jurang.
Pilihan Muhammadiyah untuk tidak memakai pendekatan bertahap,lokal lalu regional lalu global—justru jadi kunci keberhasilannya. Mereka langsung melompat ke ranah global, menjadikan Indonesia motor penyatuan waktu Islam dunia.
Waktu, sesungguhnya, adalah infrastruktur spiritual yang paling purba. Dan ketika umat Islam bisa menata waktu secara kolektif, mereka menata hidup mereka secara kolektif pula. KHGT bukan hanya tentang hari dan tanggal. Ia adalah janji bahwa umat ini bisa bersatu—setidaknya dalam satu waktu yang sama.
Baca juga: Resmi! Arab Saudi Umumkan Tanggal Idul Adha 2025 dan Jadwal Haji Lengkap(mif)