Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 07 Mei 2026
home global news detail berita

Satu Hari, Satu Umat, Satu Kalender: Ikhtiar Muhammadiyah Menyatukan Dunia Islam Lewat KHGT

miftah yusufpati Rabu, 25 Juni 2025 - 14:56 WIB
Satu Hari, Satu Umat, Satu Kalender: Ikhtiar Muhammadiyah Menyatukan Dunia Islam Lewat KHGT
Muhammadiyah secara resmi menggunakan sistem KHGT mulai tahun 1447 H. Foto: PP Muhammadiyah
LANGIT7.ID-Di tengah pelataran Masjid Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Rabu, 25 Juni 2025, Muhammadiyah resmi mencatatkan babak baru dalam sejarah penanggalan Islam. Dengan penuh khidmat dan gegap gempita, organisasi Islam tertua di Indonesia ini memperkenalkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)—sebuah sistem penanggalan yang tak hanya memaknai waktu sebagai angka, tetapi juga sebagai pernyataan kosmopolit atas cita-cita besar persatuan umat.

KHGT bukan sekadar sistem kalender. Ia adalah pernyataan sikap, ijtihad kolektif, dan panggilan sejarah untuk mengatasi fragmentasi umat yang selama ini terbelah oleh garis-garis imajiner matlak, sempadan negara, dan kejumudan metode.

“Islam itu kosmopolit. Ia bukan agama lokal, bukan pula hanya untuk etnis atau bangsa tertentu. Maka sistem waktunya pun harus kosmopolit,” ujar Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, dalam pidato kuncinya.

Haedar berbicara lantang, bukan sebagai pemimpin ormas semata, tapi sebagai negarawan peradaban. “Bila perlu, hapus saja nama Muhammadiyah dari kalender ini,” katanya dengan nada meyakinkan. “KHGT bukan milik Muhammadiyah, melainkan milik umat.”

Peluncuran KHGT berlangsung dalam forum internasional yang sarat simbol: duta besar negara Islam, ulama, astronom, akademisi dari berbagai belahan dunia, hingga perwakilan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Semua menandai satu hal: ini bukan agenda lokal. Ini adalah ikhtiar global.

Baca juga: Kuatnya Paham Rukyat Literal dan Matlak Lokal Menyebabkan Konsep KHGT Tak Diterima

KHGT berdiri di atas tiga fondasi utama. Pertama, prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia Islam. Tak ada lagi umat Islam berpuasa pada hari yang berbeda di negeri tetangga. Kedua, menggunakan hisab dengan presisi ilmiah. Dan ketiga, kesatuan matlak: memperlakukan bumi sebagai satu zona waktu tunggal untuk kalender Islam.

Dengan prinsip tersebut, KHGT menyasar akar dari keruwetan penanggalan hijriah yang selama ini menyulitkan keseragaman ibadah umat Islam. Ketika Idulfitri bisa dirayakan pada hari yang berbeda oleh ormas-ormas besar Islam di negara yang sama, bukan hanya umat bingung, dunia pun mencatat kerapuhan kita.

KHGT adalah jawaban Muhammadiyah terhadap tantangan itu.

Tapi mengapa baru sekarang?

“Selama 14 abad Islam belum pernah punya kalender global tunggal,” kata Hamim Ilyas, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid. Ia menjelaskan bahwa KHGT lahir dari hasil Musyawarah Nasional Muhammadiyah ke-32 dan merupakan tindak lanjut dari Muktamar Turki 2016 yang juga menyerukan sistem penanggalan Islam terpadu.

Dalam peluncuran KHGT, Hamim menyebut bahwa KHGT adalah bagian dari “utang peradaban” yang harus dibayar. Sebab, selama ini umat Islam abai bahwa sistem waktu pun adalah instrumen penting dalam membangun tatanan dunia Islam yang modern dan terintegrasi.

Utang itulah yang kini dicoba dilunasi dengan cara paling ilmiah dan modern. Muhammadiyah tidak hanya menghadirkan konsep, tetapi juga teknologi: aplikasi Hisab Muhammadiyah, situs resmi KHGT, dan aplikasi MASA untuk gawai pintar. Semuanya tersedia dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris. Semua demi menyentuh umat di seluruh penjuru dunia.

Baca juga: Mengapa Muhammadiyah Menetapkan Idulfitri 1446 H Tak Mengacu KHGT?

Dukungan pun datang dari berbagai penjuru dunia. Dr. Mehmet Ekim, utusan dari Dewan Tinggi Urusan Keagamaan Turki (Diyanet), menyebut KHGT sebagai langkah simbolik untuk masa depan umat Islam. “Ini bukan sekadar penanggalan. Ini adalah pesan bahwa kesatuan umat bukan utopia, melainkan agenda yang mungkin,” ujarnya.

Dari Turki, pesan diteruskan ke organisasi Islam terbesar tingkat global. OKI mengapresiasi langkah Muhammadiyah sebagai pelopor reformasi kalender Islam global. Tarig Ali Bakheet, Asisten Sekjen OKI, menyebut KHGT sejalan dengan resolusi nomor 1/51-C yang disahkan OKI di Istanbul, 2025. Isinya: mendorong negara-negara anggota untuk mengadopsi kalender hijriah global berbasis hisab presisi.

“Muhammadiyah bukan hanya ormas Islam, tetapi kekuatan global yang mampu memengaruhi peradaban,” ujar Tarig. Ia menyebut jumlah anggota Muhammadiyah yang mencapai lebih dari 50 juta orang sebagai modal strategis untuk mempengaruhi arus utama dunia Islam.

Menantang Satus Quo

Namun, inisiatif ini tentu tak bebas hambatan. KHGT berpotensi menantang status quo, termasuk perbedaan pandangan fikih dan metode penentuan awal bulan yang telah mapan di berbagai negara. Dalam konteks Indonesia saja, perbedaan metode antara hisab dan rukyat telah menjadi perdebatan rutin antara ormas-ormas besar seperti NU, Muhammadiyah, dan pemerintah.

Tapi Haedar memilih tidak gentar. Dalam pidatonya, ia menyentil kejumudan cara berpikir yang mempertahankan perbedaan demi nama. “Kalau soal fiqh, silakan berbeda. Tapi kalau soal rotasi bulan dan matahari, itu ilmu eksak. Mengapa masih ada perbedaan satu sampai tiga hari?” katanya.

Baca juga: Keputusan Muhammadiyah tentang Idulfitri 1446 H Tidak Mengacu KHGT

KHGT, menurutnya, justru menjadi wadah dialog dan ijtihad baru. Bahkan, ia mengutip semangat falsifikasi ala Karl Popper dalam filsafat sains bahwa semua teori terbuka untuk diuji dan dikoreksi. “Metode itu hanya wasilah. Mari kita koreksi bila perlu,” ujarnya.

Di tengah euforia dan dukungan internasional, Haedar tak lupa menegaskan akar kebangsaan Muhammadiyah. KHGT, tegasnya, tidak akan mencabut Muhammadiyah dari tanah Indonesia. “Kita tetap Darul Ahdi Wasyahadah. Tetap berpijak di bumi Indonesia, sembari membuana untuk kemaslahatan umat,” ujarnya.

Bagi Muhammadiyah, KHGT adalah ekspresi dari semangat “rahmatan lil ‘alamin”. Bukan sekadar proyek ilmiah, tetapi jihad akbar—perjuangan peradaban yang menuntut visi panjang dan kesabaran kolektif. “Kalender ini bukan untuk esok atau lusa saja. Ini untuk 10, 50, bahkan 100 tahun ke depan,” tutup Haedar.

KHGT mungkin belum akan diadopsi secara serentak oleh seluruh dunia Islam. Tapi ia telah membuka pintu. Menyuarakan kemungkinan. Menghidupkan harapan akan satu hari, satu tanggal, satu ummat. Dalam dunia yang terbelah oleh waktu, KHGT menyuguhkan satu waktu untuk kembali bersatu.

Muhammadiyah telah mengetuk gerbang sejarah. Kini, umat Islam tinggal menjawab: akankah mereka berjalan bersama dalam satu tanggal?

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 07 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)