LANGIT7.ID- Senin itu, 12 Rabiulawal tahun 11 Hijriah, Madinah seolah sedang meniti jembatan harapan yang rapuh. Fajar baru saja menyingsing ketika sosok yang paling dicintai warga kota itu keluar dari kamar Aisyah dengan wajah yang nampak segar. Rasulullah terlihat telah pulih dari demam hebat yang melilit tubuhnya dalam beberapa pekan terakhir. Kegembiraan meluap di pelataran masjid. Bahkan, sang Nabi sempat berbicara dengan kaum muslimin dan mengulangi perintah strategisnya kepada Usamah bin Zaid untuk segera berangkat memimpin pasukan menuju perbatasan Romawi.
Namun, harapan itu hanyalah cahaya kilat sebelum badai. Tak lama setelah kembali ke pembaringan, napas sang pembawa risalah terhenti. Muhammad bin Abdullah berpulang ke sisi Zat Maha Tinggi. Kabar itu merambat seperti api di atas rumput kering, menghanguskan kegembiraan subuh tadi dan menggantinya dengan awan gelap ketidakpercayaan. Madinah seketika kehilangan kompasnya.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya, Abu Bakr As-Siddiq, memotret momen ini sebagai guncangan psikologis terdahsyat dalam sejarah awal Islam. Umat yang baru saja mapan secara politik dan spiritual itu tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa pemimpin tertinggi mereka, yang selama ini menjadi penyambung lidah antara langit dan bumi, telah tiada. Kejutan ini begitu hebat sehingga melumpuhkan nalar sebagian besar sahabat.
Di tengah kekacauan mental itu, muncul sosok Umar bin Khattab yang dikenal berapi-api. Umar berdiri di tengah kerumunan, bukan untuk menenangkan, melainkan untuk membantah keras kabar kematian tersebut. Dengan tangan gemetar dan mata yang menyala karena duka yang tak tertahankan, ia berpidato dengan nada mengancam. Umar mengklaim bahwa Rasulullah tidak meninggal, melainkan hanya pergi menghadap Tuhan sebagaimana Musa bin Imran yang menghilang selama empat puluh malam dari kaumnya.
Barang siapa yang berani mengatakan Muhammad telah wafat, maka aku akan memotong tangan dan kakinya! ancam Umar. Logika Umar saat itu adalah logika penyangkalan (denial) yang ekstrem. Baginya, tugas Muhammad belum selesai dan Tuhan tidak mungkin membiarkan rasul-Nya pergi begitu saja sebelum seluruh misi tuntas. Ancaman pedang Umar berhasil membungkam lidah orang-orang di masjid, namun tidak mampu membungkam fakta yang terbujur kaku di rumah Aisyah.
Kondisi ini menggambarkan betapa sentralnya posisi Muhammad dalam struktur masyarakat Arab saat itu. Sebagaimana dijelaskan dalam karya ilmiah Marshall Hodgson, The Venture of Islam, sosok Nabi adalah sumber otoritas tunggal yang menyatukan faksi-faksi suku Arab yang sebelumnya tercerai-berai. Kematiannya dianggap oleh sebagian orang sebagai akhir dari tatanan tersebut.
Penyangkalan Umar sebenarnya adalah representasi dari ketakutan kolektif umat. Jika Nabi wafat, lantas kepada siapa wahyu akan ditanyakan? Bagaimana nasib pasukan Usamah? Dan bagaimana kelangsungan agama yang baru tumbuh ini? Pidato Umar bukan sekadar luapan emosi, melainkan usaha putus asa untuk menjaga agar dunia yang mereka kenal tidak runtuh dalam sekejap.
Di tengah ancaman pedang dan histeria massa inilah, sejarah sedang menanti sosok yang mampu membawa nalar dingin untuk memulihkan kesadaran. Abu Bakar, yang saat itu sedang berada di luar kota, tengah dipacu kudanya menuju pusat prahara. Ia akan tiba untuk menjawab ancaman pedang Umar dengan sebuah kutipan ayat suci yang akan menyadarkan Madinah bahwa Muhammad hanyalah seorang rasul, sementara Tuhan adalah abadi. Namun, sebelum Abu Bakar tiba, Madinah tetaplah sebuah kota yang sedang lumpuh oleh duka dan ancaman kekerasan dari mereka yang tak sanggup menerima kehilangan.
