LANGIT7.ID-, Jakarta- - Aksi boikot terhadap perusahaan maupun produk yang terafiliasi Israel masih terus berlanjut hingga kini. Salah satu yang terkena dampak nyata dari aksi tersebut adalah Starbucks yang mengalami kerugian hingga USD13 miliar.
Mantan CEO Starbucks Howard Schultz mengungkapkan bahwa perusahaannya telah mencapai titik kritis penurunan dan mengalami kerugian sebesar USD13 miliar di pasar, di tengah boikot global. Melansir timelinedaily.com, Sabtu (27/7/2024).
Perusahaan kopi “raksasa” ini sedang mengalami kondisi tidak sehat sebagai dampak dari aksi protes pro-Palestina, karena perusahaan tersebut telah kehilangan lebih dari 1,8 persen pendapatannya pada awal kuartal tahun 2024.
Baca juga:
Imbas Boikot Produk Pro Israel, Starbucks dan H&M Hengkang dari MarokoPenurunan serupa juga dialami bisnis-bisnis yang menjadi favorit di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain.
Awal tahun ini, Schultz menyatakan perlunya melakukan perubahan signifikan dalam penjualan untuk meningkatkan ekspektasi pemegang saham. Tahun lalu di bulan September, Starbucks mengumumkan Narasimhan sebagai CEO perusahaan setelah pencarian global ketika Schultz mengundurkan diri dari jabatan tersebut.
Pada akhir tahun 2023, Starbucks Corporation yang berbasis di Seattle mengalami kerugian sebesar USD11 miliar karena orang-orang menyatakan solidaritas mereka untuk Palestina dan memboikot semua merek Israel termasuk Starbucks.
Perusahaan saat ini sedang berjuang untuk memenuhi pendapatan yang diharapkan dan mempertahankan nilai mereknya.
Pukulan keras ini merupakan bagian dari serangan global yang memecah belah karena merek kopi ternama tersebut secara terbuka mendukung genosida yang dilakukan Israel.
Bahkan di Mesir, mereka mengambil langkah lebih lanjut untuk mengurangi pengeluaran dan memberhentikan karyawan sebagai respons terhadap boikot global. Penurunan ini berdampak pada penjualannya di AS dan negara-negara besar lainnya yang menurunkan permintaan dan menghentikan pertumbuhannya.
Perusahaan juga menghadapi penundaan pembukaan toko baru di Eropa. Tidak hanya Starbucks tetapi juga rantai makanan termasuk McDonalds, Burger King dan Domino's Pizza telah mengungkapkan penurunan pendapatan yang menyebabkan laba bersih kuartalan sebesar 68 persen.
Menurut Analis, kinerja yang biasa-biasa saja di Eropa telah berdampak besar pada pendapatan negara tersebut dan seiring dimulainya pertandingan Olimpiade di Paris, diperkirakan akan ada penurunan jumlah orang yang kembali ke restoran dan kafe lain.
(ori)