LANGIT7.ID-, Jakarta- - Rupiah ditutup stagnan pada perdagangan sore ini, meskipun sempat mengalami pelemahan sebesar 25 poin. Mata uang Garuda ini bertahan di level Rp15.335 per dolar AS, sama dengan penutupan sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan sikap wait-and-see investor menjelang pengumuman keputusan suku bunga dari Federal Reserve AS.
Analis pasar valuta asing mencatat bahwa tekanan pada rupiah sebagian besar disebabkan oleh penguatan dolar AS secara global. Sentimen pasar yang cenderung risk-off menjelang pertemuan The Fed turut berkontribusi pada pelemahan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
"Pasar masih menunggu sinyal dari The Fed terkait arah kebijakan moneter ke depan. Hal ini membuat pergerakan rupiah cenderung terbatas dan fluktuatif," ujar Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka dalam keterangan resmi, Rabu (18/9/2024).
Meskipun menghadapi tekanan, rupiah masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik dibandingkan dengan mata uang regional lainnya. Faktor fundamental ekonomi Indonesia yang solid, termasuk surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan, menjadi penopang nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Di sisi eksternal, rilis data penjualan ritel AS yang secara tak terduga naik 0,1 persen pada bulan Agustus menunjukkan bahwa ekonomi AS tetap berada pada pijakan yang kokoh. Hal ini mendukung sikap yang kurang agresif oleh Federal Reserve, yang secara luas diharapkan akan memberikan pemotongan suku bunga pertamanya dalam lebih dari empat tahun.
Komite Pasar Terbuka Federal Fed akan mengumumkan keputusan suku bunganya pada akhir pertemuannya hari Rabu, yang akan diikuti oleh konferensi pers Ketua Jerome Powell. Kontrak berjangka dana Fed menunjukkan peluang pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin berada di angka 63%, meningkat dari 30% seminggu lalu.
Data ekonomi lainnya yang dirilis pada hari Rabu juga memberikan dukungan bagi Fed untuk tidak terlalu agresif dalam memangkas suku bunga. Persediaan bisnis AS mencatat kenaikan yang lebih baik dari perkiraan sebesar 0,3% pada bulan Juli, sementara produksi pabrik meningkat pada bulan Agustus.
Sementara itu, Bank of England diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada 5% saat bertemu pada hari Kamis, meskipun pasar telah memperkirakan peluang hampir 36% untuk pemangkasan lebih lanjut. Pasar Tiongkok ditutup untuk liburan Festival Pertengahan Musim Gugur hingga hari Rabu.
Di sisi internal, Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2024 melanjutkan kondisi surplus untuk bulan ke-52 berturut-turut sejak Mei 2020. BI menilai capaian surplus neraca perdagangan tersebut menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
Bank Indonesia juga memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan mencapai 4,7-5,5% atau pada titik tengah 5,1%. Perkiraan ini didukung oleh berbagai indikator terkini, termasuk hasil survei BI yang menunjukkan kegiatan ekonomi pada triwulan III tetap baik, tercermin dari keyakinan konsumen yang tinggi, penjualan eceran positif, serta peningkatan impor barang modal dan penjualan semen.
Dalam upaya mendukung pertumbuhan ekonomi, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan atau BI Rate pada September 2024. BI rate ditetapkan menjadi 6% dari sebelumnya 6,25%, sementara suku bunga Deposit Facility juga dipangkas menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,75%.
"Keputusan ini merupakan langkah strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian," tambah Ibrahim Assuaibi.
Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat di rentang Rp15.230 - Rp15.350 per dolar AS.
(lam)