LANGIT7.ID-, Jakarta- - Menurut seorang pejabat senior Nissan, jika perusahaan tidak segera menemukan solusi finansial yang tepat, Nissan terancam bangkrut dalam 12 hingga 14 bulan ke depan. Saat ini kondisi Nissan berada dalam situasi terburuk sejak kedatangan Carlos Ghosn pada tahun 1999 untuk menyelamatkan perusahaan yang kala itu hampir bangkrut. Nissan baru saja mengumumkan akan memangkas 9.000 karyawan di seluruh dunia, mengurangi kapasitas produksi sebesar 25%, dan melakukan perombakan total pada jajaran produknya.
Setelah mantan CEO Carlos Ghosn ditangkap karena pelanggaran kepercayaan dan penyalahgunaan aset perusahaan pada November 2018, Nissan kesulitan untuk bangkit kembali. Perusahaan baru-baru ini mengumumkan bahwa keuntungannya tahun ini akan 70% lebih rendah dari perkiraan dan mengalami kerugian sebesar 60 juta dolar pada kuartal terakhir.
Pemangkasan Karyawan dan Pengurangan Produksi Targetkan Penghematan 3 Miliar DolarUntuk menghemat 3 miliar dolar, selain memangkas karyawan, mengurangi produksi dan menunda peluncuran model baru, mereka juga harus menjual sebagian besar saham di Mitsubishi Motors dari 34% menjadi kurang dari 25%. Nissan juga mengambil jarak dengan mitra Renault, dan CEO Makoto Uchida mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan memotong gaji secara sukarela sebesar 50%.
Baca juga:
Mencari Alternatif Honda Civic? Ini 3 Mobil Sedan yang Patut DibeliKepala manufaktur Nissan, Hideyuki Sakamoto mengatakan dalam konferensi pers awal November bahwa, "Secara global, kami saat ini memiliki 25 lini produksi kendaraan. Rencana kami adalah mengurangi kapasitas operasional maksimum dari 25 lini ini sebesar 20%. Salah satu metode spesifiknya adalah mengubah kecepatan lini dan pola shift, sehingga meningkatkan efisiensi personel operasional."
Mobil Listrik Murah dari China Menggerus Pangsa Pasar NissanMobil listrik murah dari China menjadi tantangan besar bagi Nissan. Selain jajaran produk yang kurang diminati pasar, dengan hanya dua model listrik yang dijual di pasar internasional, akar masalahnya berasal dari gelombang alternatif EV yang lebih murah dari China yang membanjiri pasar global dan mengambil pangsa pasar dari perusahaan Jepang ini. Selain itu, teknologi elektrifikasi intinya, powertrain hybrid e-Power yang sukses di Jepang, belum dipasarkan di AS.
Namun tidak semuanya buruk. Di AS, Rogue yang diproduksi lokal masuk dalam daftar 10 besar penjualan dengan lebih dari 189.000 unit terjual hingga September 2024. Sementara di Eropa, hingga akhir Oktober, SUV kompak Nissan Qashqai dan Nissan Juke tetap populer di posisi ketiga dan keempat, dengan Qashqai konsisten berada di tiga besar dan menjadi kendaraan terpopuler di Inggris pada 2022.
Menurut Financial Times, Nissan sedang mencari investor utama untuk membantunya bertahan di tahun yang krusial ini. Terdengar kabar bahwa Nissan meminta Honda untuk membeli sebagian sahamnya setelah baru-baru ini menandatangani kemitraan untuk pengembangan kendaraan listrik.
Perombakan strategi ini terjadi hanya delapan bulan setelah Uchida mencoba menggiatkan pertumbuhan dengan rencana bisnis baru bernama The Arc yang bertujuan meningkatkan penjualan global sebesar 1 juta kendaraan menjadi sekitar 4,4 juta. Sebaliknya, Nissan justru memangkas prospek penjualan globalnya untuk tahun fiskal berjalan dan tampaknya puas dengan penjualan 3,5 juta unit.
Sanshiro Fukao, peneliti senior di Itochu Research Institute menulis, "Jika saya karyawan Nissan saat ini, saya akan terlalu malu untuk memberitahu anak-anak dan orang tua saya tentang perusahaan saya. Saya merasa kasihan pada semua orang yang terlibat dengan Nissan." Kata-kata yang keras tapi tidak tanpa alasan. Bisakah Nissan membuat perubahan yang diperlukan dan bertahan? Mari kita tunggu perkembangannya.
(lam)