LANGIT7.ID - Allah menciptakan dunia beserta isinya untuk dikelola manusia. Kemudian apa yang dikelola, dapat dimiliki dan dinikmati oleh manusia sebagai ciptaan paling sempurna.
Hanya saja, manusia sering kali alpa saat 'merasa' memiliki harta dan terlena hingga meanggap harta itu benar-benar miliknya.
Padahal dalam Al Qur'an pula berulang kali Allah SWT menegaskan penciptaan bumi dan manusia.
Salah satunya dalam surah Al-Baqarah ayat 29, Allah berfirman. "Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu."
Menurut Muhammad Asy-Syaukani, substansi ayat tersebut menegaskan bahwa pemilik harta sesungguhnya adalah Allah. Dia yang mengadakan sekaligus meniadakan sesuai kehendakNya.
Sering kali penegasan itu terlupakan ketika sudah berhadapan dengan nikmat dunia dengan segala perhiasannya . Kerap seorang Muslim hanyut dan melupakan Allah SWT.
Seakan lupa tujuan hidup seorang hamba adalah beribadah kepada-Nya di sepanjang hidupnya.
Dalam kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi, kondisi ini dijelaskan telah diprediksi oleh Nabi Muhammad SAW. Umatnya disebut memang akan ada banyak yang hanyut dalam nikmat seperti pujian hingga harta, alih-alih beribadah kepada Allah SWT.
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda:
كَمْ مِنْ مُسْتَدْرَجٍ بِالنِّعْمَةِ عَلَيْهِ وَكَمْ مِنْ مَفْتُوْنٍ بِالثَّنَاءِ عَلَيْهِ وَكَمْ مِنَ مَغْرُوْرٍ بِالسِّتْرِ عَلَيْهِ.
Artinya: "Tak terhitung orang yang hanyut dan terbuai dengan kenikmatan. Tak terhitung orang yang termakan fitnah oleh sanjungan, dan tak terhitung pula orang yang tertipu dengan aib yang terselubung."
Menurut Imam Nawawi, hadist ini dimaksudkan banyak orang yang menjadi lupa diri karena mendapatkan nikmat yang melimpah. Dan tak jarang karena mendapat banyak sanjungan, lalu orang masuk dalam jaring fitnah dan bencana.
Begitu juga banyak orang yang terperdaya dan menjadi lupa akhirat karena menikmati pujian dan aibnya tidak diketahui orang lain. Tak tesentuh penilaian orang bukan berarti luput dari pengawasan Allah SWT.
Mengenai PujianKetika ada pujian, sangat dianjurkan untuk menganggap pujian itu muncul lebih karena ketidaktahuannya tentang sisi kejelekan diri sendiri.
Oleh sebab itu, Rasulullah Saw dalam menanggapi pujian, berdoa, “Ya Allah ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku).” (HR. Bukhari)
Mengenai HartaSangat baik juga bagi seorang Muslim jika belajar dari kisah Abu Darda. Sebelum memeluk Islam dan berbaiat pada Rasulullah Saw, ia' adalah seorang saudagar kaya yang sukses di Madinah.
Abu Darda belajar banyak pada Rasulullah Saw terlebih pada sikap-sikap bijak Beliau. Kesan paling dalam yang mengakar dalam jiwanya adalah saat Rasulullah Saw berkata, "Yang sedikit tapi mencukupi itu lebih baik daripada yang banyak namun merugikan".
Oleh karena itu, Abu Darda' kerap menangisi mereka yang terlena dan jatuh menjadi tawanan harta kekayaan.
Abu Darda' juga mengatakan, "Barang siapa tidak pernah puas terhadap dunia, maka (sesungguhnya) tak pernah ada dunia baginya".
(arp)