LANGIT7.ID-, Jakarta- - Peneliti di Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS), Ahmad Kholili Hasib, mengatakan, perkara penyebab segala kerusakan manusia adalah hawa. Hawa berarti syahwat yang berlebihan, tidak terkontrol sehingga melanggar batasan-batasan syara’.
Hawa merupakan sammun qatil (racun yang mematikan). Racun yang membunuh jiwa berakal (natiqah) manusia. Termasuk dalam ibadah. Hawa selalu menjadi racun yang merusak ibadah. Hawa bekerja di bawah kendali dan kontrol setan.
"Hawa Bertujuan agar manusia itu merugi (khasir) di akhirat. Baik dengan ibadahnya maupun dengan maksiatnya. Jadi, hawa bisa menyelinap ke dalam ibadah seseorang," kata Kholili melalui akun media sosialnya, dikutip Rabu (9/8/2023).
Menurut Kholili, hawa yang menyelinap ke dalam ibadah jauh lebih sulit dikenali dan disembuhkan. Sebab, hawa mengubah penampilannya seakan-akan mengajak kepada takwa. Padahal, hawa sedang mengajak kepada maksiat dan inkar kepada Allah SWT.
Baca juga:
Dampak El Nino, 6 Provinsi Diprediksi Alami KekeringanHawa membawa sifat ghurur (tipu daya). Ghurur bisa masuk melalui berbagai jalan dan pintu. Termasuk melalui pintu-pintu kebaikan, yaitu ilmu, ibadah, dan tasawuf. Sifat ghurur menipu manusia, sehingga yang munkar terlihat ma’ruf.
"Karena secara lahiriyah merupakan perkara ma’ruf. Tetapi disebabkan oleh racun hawa, maka kebaikan itu berubah menjadi munkar," ujar Kholili.
Seperti dicontohkan oleh imam al-Ghazali, seorang pendakwah (wa’idz) yang gila popularitas (syuhroh) dan kedudukan (jah). Kegiatan dakwah (menyampaikan mauidzah) kepada orang merupakan kebaikan.
"Tetapi disebabkan hawa yang membakar jiwa sehingga kegiatannya bukan karena Allah, tetapi untuk mendapatkan popularitas dan kehormatan di hadapan manusia. Niat yang rusak menjadikan dia pendakwah yang rusak. Populer bagi penduduk bumi, tapi buruk bagi penduduk langit," tutur Kholili.
Maka, wa’idz yang demikian lebih mengikuti kehendak manusia dalam mauidzahnya. Bukan mengikuti kehendak dan keinginan Allah. Maka, secara lahiriyah terlihat tidak ada yang masalah. Karena manusia melihatnya sebagai sesuatu yang tetap dan cocok bagi diri mereka.
Tetapi sejatinya, masalah serius bersumber dari perilaku demikian. Misalnya, sang wa’idz meremehkan dan melalaikan perkara penting. Sibuk dengan perkara lain yang tidak penting atau kurang penting. Meninggalkan fardhu (wajib), sibuk dengan perkara nafilah (sunnah). Sibuk dengan urusan kulit, tapi meninggalkan isi.
"Agar kegiatan mauidzah itu menjadi pahala dan bermanfaat, maka sang wa’idz mesti mengenali terlebih dahulu mana perkara tidak penting dan sangat penting, perkara yang harus didahulukan dan mana perkara yang mesti ditunda," ungkap Kholili.
Dalam bidang ilmu, penting untuk dikenali mana ilmu yang fardhu dan tidak fardhu. Mana pengetahuan yang penting dan tidak penting. Sebab, tidak semua ilmu itu penting. Ada kadar dan derajatnya. Kegiatan dalam bidang ilmu adalah mulia. Akan tetapi, bisa berubah menjadi kemungkaran apabila tidak memperhatikan hal demikian.
Dalam bidang ibadah, Imam al-Ghazali juga menyebut ada golongan yang tertipu dengan puasanya. Ada golongan yang berpuasa pada hari-hari yang dimuliakan dan dianjurkan. Akan tetapi, mereka tetap tidak berpuasa lidahnya dari mengumpat, ghibah dan perkataan-perkataan kotor, matanya juga tidak berpuasa dari melihat sesuatu yang diharamkan Allah.
"Puasanya hanya puasa perut dan seks. Karena secara lahiriyah mereka berpuasa, maka mereka menyangka dirinya orang baik. Padahal dirinya rusak," ungkap Kholili.
Sifat ghurur ini bisa menipu iman dan keyakinan. Secara lahiriyah seperti dalam ridha Allah, tetapi sejatinya sedang dilaknat. Perkara yang terlihat mata adalah ibadah, namun sesungguhnya sedang bermaksiat.
Menurut imam al-Ghazali, mereka merasa dirinya paling hebat dalam beribadah. Tapi tidak tidah mengerti bahwa ibadahnya sia-sia. Mereka biasanya lebih terpaku pada perkara dzahir dan meremehkan batin.
"Penyakit batin bukan hanya membuat amalnya tidak bernilai, melainkan juga merusak dirinya. Padahal, Islam ingin mewujudkan keseimbangan antara amalan lahir dan batin, yaitu ibadah yang banyak dan berkualitas serta kesucian hati," tutur Kholili.

(ori)