Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Ciptakan Pesantren Ramah Anak, Ponpes Maslakul Huda Kajen Pisahkan Asrama Santri Berdasar Usia

tim langit 7 Senin, 09 Desember 2024 - 05:20 WIB
Ciptakan Pesantren Ramah Anak, Ponpes Maslakul Huda Kajen Pisahkan Asrama Santri Berdasar Usia
Ponpes Maslakul Huda Kajen, Pati memisahkan asrama santri berdasar usia. Langkah ini sebagai upaya menciptakan pesantren ramah anak.Foto/dok Maslakul Huda
LANGIT7-Jakarta,- - Pondok Pesantren (Ponpes) Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah mempunyai cara sendiri untuk menciptakan pesantren ramah anak.Menurut Wakil Pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Hj Tutik Nurul Janah, instansinya melakukan berbagai upaya untuk menerapkan pesantren ramah anak.

Di sisi lain secara bersamaan juga mengantisipasi terjadinya bullying dan kekerasan di lingkungan pesantren.

"Pengasuh memulai penerapan konsep pesantren ramah anak dengan kebijakan pembedaan lokasi atau tempat tinggal para santri sesuai dengan usia tumbuh kembangnya," jelas Tutik Nurul Janah.

Menurut perempuan yang akrab disapa Ning Tutik ini, hal tersebut dilakukan agar para santri dapat melalui proses pendidikan sesuai dengan usia tumbuh kembangnya.

Baca juga:Keistimewaan Surat Al-Maun untuk Segala Penyembuhan Menurut Al-Muqaddam

Secara teknis, di pesantren Maslakul Huda, santri usia 13-15 tahun (usia remaja awal), ditempatkan di unit PMH Lil Mubtadiin dan unit PMH lil Mubtadiaat.

Di kedua unit pesantren yang dikhususkan untuk santri putra dan santri putri usia remaja awal ini, setiap 10-12 santri dibimbing oleh 1 orang musyrif/musyrifah.

"Pola pembimbingan dimulai dengan pembiasaan live skill sebagai bekal kehidupan sehari-hari untuk santri. Selain itu dilakukan pendampingan materi hafalan dan pembelajaran di madrasah dan di pesantren," imbuhnya.

Istri dari pengasuh Pesantren Maslakul Huda KH Abdul Ghoffar Rozin ini menjelaskan kebijakan pesantren ramah anak, secara bertahap mulai dilakukan Pesantren Maslakul Huda sejak tahun 2010, yakni masa awal terbentuknya unit pesantren Maslakul Huda Lil Mubtadiin.

Kemudian secara terus menerus pengasuh memberikan arahan mengenai pentingnya membekali diri mengenai persoalan kekinian, termasuk mengenai pesantren ramah anak.

"Kami semua saat ini dalam tahap terus berupaya dan belajar untuk meng-upgrade diri. Baik sebagai person-person, maupun sebagai lembaga," kata Ning Tutik.

Menurut Ning Tutik, titik penting yang harus dilakukan dalam penerapan pesantren ramah anak antara lain yaitu membangun pemahaman yang sama mengenai pentingnya mewujudkan pesantren ramah anak di antara segenap stakeholder pesantren seperti pengasuh, pengurus, orang tua, santri, ustadz, ustazah, musyrif, musyrifah.

"Pengasuh kami, KH Abdul Ghofarrozin sangat respek terhadap konsep pesantren ramah anak dan secara terus menerus memberikan pemahaman kepada segenap guru, pengurus pondok dan musyrif/musyrifah untuk mengupayakan bersama-sama implementasi konsep pesantren ramah anak," ucapanya.

Langkah selanjutnya yaitu melakukan kajian secara komprehensif mengenai pola perilaku anak masa kini dan mempelajari pendekatan yang lebih sesuai dengan perkembangan santri.

"Tidak boleh lupa yaitu menerapkan disiplin positif secara bertahap dalam peraturan dan kegiatan sehari-hari di pesantren," ujarnya.

Baca juga:Kisah Amr bin Ash Protes Kenaikan Pajak di Masa Khalifah Utsman bin Affan

Ning Tutik menambahkan, pihak pesantren perlu juga menerapkan komunikasi positif antar stakeholder pesantren, orang tua santri, pemerintah, demi kebaikan bersama. Wali santri adalah bagian penting dalam mewujudkan pesantren ramah anak.

Komunikasi dengan pemerintah juga perlu dibangun dengan sehat, pemerintah melalui kementerian agama, dalam beberapa tahun ini berupaya cukup keras untuk mendorong pesantren ramah anak dan perempuan, melalui sosialisasi yang dilakukan.

"Pengasuh selalu dawuh (mengatakan), hari ini tidak ada lagi istilah pasrah bongkoan kepada pesantren. Orang tua juga harus menjadi faktor penting dalam memberi pemahaman kepada anak-anak di pesantren mengenai hal-hal yang penting dilakukan saat hidup secara komunal di pesantren," tegas Ning Tutik.

Orang tua, kata Ning Tutik, perlu diajak musyawarah bagaimana memahami hak masing-masing orang itu dibatasi oleh hak orang lainnya, harus dipahami secara bersama sama antara pesantren dan wali santri.

"Sehingga wali santri juga bisa melakukan penguatan kepada anak-anaknya secara bersama-sama dengan pesantren-pesantren," tandasnya.

(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)