LANGIT7.ID-Dalam soal ketokohan Islam, Madura juga dikenal melahirkan banyak kiai yang mengisi lembar sejarah penyebaran agama ini.
Tapi, kiai yang akan kita bahasa dalam tulisan kali ini memang bisa dikatakan sebagai kiai yang namanya kalah pamor dari muridnya.
Tapi, sosok yang dikenal sebagai Kiai Cirebon ini dikenal sebagai guru dari tokoh agung Sumenep di abad ke-17. Sang murid adalah peletak dasar tatakrama, adab bersikap sopan santun, tangga bahasa (ondhagga basa), yang hingga berabad-abad setelahnya terus menjadi pedoman.
Guru dari Pangeran YudanegaraDikutip dari tulisan di website sumenepkab.go.id, Kiai Cirebon, disebut-sebut dalam catatan Babad Songennep. Beliau sesuai namanya, memang berasal dari Cirebon, Jawa Barat kini. Kiai Cirebon merupakan sebutan tokoh yang berlaqob atau bernisbat pada tempat. Kiai Cirebon secara sederhana bermakna kiai atau tokoh agama yang berasal dari Cirebon.
Babad tak pernah menyebut secara terperinci tentang asal-usul sang kiai. Namun dalam peristiwa invasi Mataram atas Madura, yang salah satu efeknya menyebabkan kekuasaan Sumenep jatuh dalam bayang-bayang Mataram, Raden Bugan—sang pewaris tahta Sumenep—berhasil selamat dan diungsikan ke Cirebon.
Di sana, Bugan—yang kelak bernama Pangeran Yudanegara (catatan lain menulis Tumenggung Yudanegara), diasuh, dibesarkan, dan ditempa menjadi sosok mumpuni, yakni Kiai Cirebon.
Singkat cerita, setelah Bugan kembali mendapatkan hak warisnya dan sekaligus menjadi adipati di Sumenep, sang guru dibawa serta. Rupanya ada keterikatan kuat sehingga sang guru menyertai sang murid hingga ke negeri seberang dan paling ujung dari nusa garam.
Setelah di Sumenep, tak banyak yang diceritakan tentang sosok sang guru. Kiai Cirebon hanya diceritakan menetap di kawasan Kepanjin (saat ini merupakan nama salah satu kelurahan di kawasan Kecamatan Kota.
Kediamannya tidak jauh dari kawasan Rumah Panggung peninggalan Patih Ronggodiboso (Raden Entol Anom alias Onggodiwongso).
Di Kepanjin, Kiai Cirebon menjadi guru agama. Kemungkinan beliau juga berperan dalam urusan keagamaan keraton di masa Yudanegara.
Tapi, hingga saat ini tidak diketahui asal-usul Kiai Cirebon. Dugaan sementara, Kiai Cirebon masih merupakan kerabat Keraton Cirebon.
Sehingga dengan keluarga Yudanegara masih ada hubungan darah. Leluhur Yudanegara, Tumenggung Kanduruan, adalah anak Sultan Demak pertama. Sementara sesepuh Keraton Cirebon ada yang menjadi menantu Sultan Demak.(*)
(hbd)