LANGIT7.ID, Surabaya - Salah satu suku di Indonesia yang kuat keislamannya adalah suku Madura. Kesannya, antara Madura dan Islam tak dapat dipisahkan. Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya, Ahmad Kholili Hasib, menjelaskan, alasan tak terpisahkannya Islam dengan Madura.
“Secara kultural, tradisi dan kebiasaan sehari-hari masyarakat Madura memang tidak bisa dipisahkan dengan Islam,” kata Kholili dalam tulisannya berjudul ‘Islam dan Madura’, Rabu (14/6/2022).
Kholili memandang Madura memiliki khazanah sejarah Islam yang kaya dan panjang. Di Sumenep, Islam sudah berkembang pada masa Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik).
Baca Juga: Madura Pulau Santri, Berikut Rekomendasi Pesantren Terbaik di Madura
Islam sudah masuk ke Sumenep sejak Panembahan Joharsari, penguasa Sumenep dari tahun 1319-1331 M. Panembahan Joharsari mempunyai putra bernama Raden Piturut yang bergelar Panembahan Mandaraka yang juga disinyalir beragama Islam.
“Bukti keislamannya adalah makamnya sudah berbentuk Islam yang terletak di desa Mandaraga,Keles, Ambunten,” tutur Kholili.
Di sisi lain, Madura memiliki tokoh kepahlawanan hebat, yaitu Trunajaya. Dia merupakan pemimpin pemberani. Dia melawan VOC Belanda yang terkenal tangguh dan sangat kuat. Dia berjuang membela Tanah Air dan agama dari pengaruh VOC.
Saat melawan VOC, Trunajaya dibantu Pangeran Giri, Pangeran Surabaya, dan Pangeran Pasuruan. Ketiga Pangeran ini masih keturunan Sunan Giri dan Sunan Ampel.
Itu menjadi beberapa alasan Islam dan Madura memiliki ikatan kuat. Di mana pun masyarakat Madura tinggal, mereka tidak bisa melepaskan kultur Islamnya. Paling tidak dari pakaian dan fanatik keagamaan.
Tetapi, di mana pun masyarakat Madura tinggal, mereka tidak melepaskan kultur Islamnya. Setidaknya dari pakaian dan fanatik keagamaannya.
“Corak Islamnya pun tradisional. Sangat kuat. Hingga ada guyonan begini, ‘Madura itu 90% Islam, 10% Muhammadiyah’,” kata Kholili.
Madura bisa juga disebut pula pulau seribu pondok pesantren. Latar belakang pendidikan masyarakat Madura sangat identik dengan pondok pesantren. Tokoh-tokoh besar Madura semua berasal dari pondok pesantren.
Maka itu, pondok pesantren di Madura memiliki tempat terhormat dalam strata sosial pergaulan masyarakat Madura. Persebaran pondok pesantren di Madura juga cukup merata dan banyak.
“Satu lagi identitas keislaman warga Madura, banyak sekali rumah yang didepannya dibangun musholla/surau. Jika masuk satu kampung, maka jumlah musholla sangat banyak sekali,” kata Kholili.
Dalam keseharian, warga Madura biasa memakai sarung. Di jalan raya, toko, mall, pasar, petani, semuanya memakai sarung. Kultur taat kepada kiai dan ulama juga sangat kuat sekali.
Baca Juga: Tabligh Akbar UAS di Madura Jadi Lautan Manusia“Bahkan, penjahat pun taat pada kiai. Ada teman Madura yang pernah berkelakar, ‘Begal itu tidak takut polisi. Takutnya pada kiai’. Institusi pondok pesantren menjadi benteng yang masih tangguh bagi tradisi Islam di Madura hingga sekarang,” ungkap Kholili.
Maka itu, kata dia, proses Islamisasi Madura merupakan proyek Dakwah yang menuai hasil luar biasa. Ada dua jalur Islamisasi yakni jalur dai atau mubaligh dan jalur kerajaan.
“Kedua jalur ini rupanya berjalan saling melengkapi dan berjalan secara seimbang di pulau Madura. Dua pendekatan yang perlu kita ambil ibrah dan pelajarannya,” jelas Kholili.
(jqf)