LANGIT7.ID - Madura bisa disebut sebagai pulau santri sebab memiliki banyak pesantren. Madura juga terkenal sebagai daerah yang melahirkan banyak ulama. Bahkan ulama dari penjuru Nusantara sejak dahulu banyak berguru ke Ulama Madura seperti Syekhona Cholil Bangkalan.
Bagi orang tua yang hendak memasukkan buah hati ke pesantren, tidak ada salahnya memondokkan anak ke pesantren-pesantren di Pulau Madura. Berikut beberapa rekomendasi pesantren di Madura:
1. Pesantren Syaichona Cholil Bangkalan

Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil merupakan salah satu Pesantren tertua di Indonesia yang didirikan oleh KH. Moh. Cholil bin KH. Abdul Lathif pada tahun 1861. Kealiman Syaichona Cholil dalam tata bahasa arab menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri yang ingin mondok ke pesantren Mbah Kholil kala itu. Syaichona Moh Cholil wafat pada bulan Ramadhan tahun 1925 M.
Pada saat KHS Abdullah Sachal menjadi pengasuh pesantren, peninggalan mbah Kholil diberi nama dengan Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil sebuah penisbatan kepada nama besar Syaichona Moh Cholil.
Pada 1986, KHS Abdullah Schal menerapkan sistem pengajaran klasikal untuk madrasah tingkat Ibtidaiyah dengan nama Madrasah Diniyah Salafiyah al-Ma’arif. Pada 1989, Madrasah Diniyah salafiyah al-Ma’arif membuka jenjang Tsanawiyah dilanjutkan dengan membuka jenjang Aliyah Tarbiyatul Mu’allimin pada 1992.
Pada tahun 1982, dibuka MTs dan pada 1987 membuka SMA. Kemudian, 2007 Sekolah Tinggi Syaichona Moh. Cholil (STITS) resmi didirikan dan pada 2010 STITS beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Syaichona Moh Cholil (STAIS).
2. Pesantren Darulul Ulum Banyuanyar Pamekasan

Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar bermula dari sebuah langgar (musholla) kecil yang didirikan oleh Kiai Itsbat bin Ishaq sekitar 1787 M atau 1204 H. Pada awal berdiri, Pondok Pesantren Banyuanyar hanya berlokasi di atas sebidang tanah tegalan yang sempit dan gersang. Kemudian dikenal dengan sebutan “Banyuanyar”. Di lokasi inilah Kyai Itsbat mengasuh para santri, sekalipun sarana dan fasilitas yang ada pada saat itu jauh dari kecukupan.
Kini pesantren tersebut telah berkembang dan memiliki pendidikan formal dan nonformal. Pendidikan formal diantaranya Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tahfidz, Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menengah (SMA) Tahfidz, SMA Itsbatiyah, dan STIBA. Sementara pendidikan nonformal ada Tahfidzul Qur'an, MADIN, PAUD, dan RA. Ada pula ekstrakurikuler diantaranya Kajian Kitab-kitab klasik hingga pelatihan pelatihan wirausaha.
3. Pesantren An-Nuqoyah Guluk-Guluk Sumenep

Pesantren ini diasuh oleh KH Muhammad Ilyas Syarqawi. Ia adalah putra dari Kiai dan Nyai Mariyah Idris Patapan. Lahir dan besar di lingkungan Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur.
Pondok pesantren ini dibangun pada 1887. Pesantren yang satu ini berdiri di atas bebukitan yang cukup luas sehingga menjadi pesantren terluas. Tidak salah jika pesantren yang satu ini menjadi favorit para warga yang ada di Jawa Timur.
Pesantren ini memiliki jenjang pendidikan formal mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Pertama (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
4. Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan

Pesantren yang satu ini berada di Panaan, Palengaan, Pamekasan, Madura, dan didirikan oleh RKH Abdul Majid bin Abdul Hamid pada 1943. Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata menjadi tempat belajar favorit santri yang ingin mendalami agama Islam.
Pesantren ini merupakan pondok salaf, klasik, tradisional yang ditandai dengan metode belajar menggunakan kitab kuning dan penguasaan nahwu sorof yang baik. Namun pada masa kepemimpinan RKH. Ahmad Mahfudz Zayyadi, menerapkan metode belajar mengajar dengan sistem klasikal (kelas). Pada 1959 M, beliau mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pada 1970 Madrasah Tsanawiyah berdiri.
Pada 1977, Madrasah Aliyah (MA) Mambaul Ulum Bata-Bata resmi berdiri secara formal yang diprakarsai oleh RKH. Abd. Hamid AM. Pada 1 Juli 2011 resmi dibuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Mambaul Ulum Bata-Bata dengan 3 spektrum/program keahlian, yaitu Spektrum Teknik Otomotif Kendaraan Ringan, Spektrum Teknik Otomotif Sepeda Motor dan Spektrum Teknik Elektronika Audio Video.
5. Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep

Pondok pesantren Al-Amien Prenduan berdiri pada 1952 dan dilengkapi dengan Tarbiyatul Muallimin Al-Islamiyah (TMI) untuk jenjang pendidikan menengah. Dan kampus Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) untuk santri yang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Pesantren Al-Amien juga memiliki program tahfidz Al-Qur’an yang cukup baik. Bahkan direkomendasikan oleh Ustadz Adi Hidayat.
Dalam kurikulum pengajaran, Ponpes Al-Amien banyak mengacu ke kurikulum yang disusun oleh KH Imam Zarkasyi pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
Pesantren ini juga membuka berbagai bidang usaha yang bisa mendidik kemandirian santri dalam bisnis seperti peternakan, budidaya, minimarket dan lainnya. Pesantren terletak di Dunglaok, Pragaan Laok, Pragaan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
(jqf)